SUARA PEMBARUAN DAILY

Ikhtiar Peneliti LIPI Mencari Obat Flu Burung

Setelah flu burung (avian influenza) menyerang sejumlah provinsi di Indonesia, sekelompok peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) terdorong melakukan penelitian untuk mencegah penyebaran virus itu. Hasilnya adalah sebuah senyawa yang mampu mencegah virus itu berkembang biak dan meluas.

Sekelompok peneliti itu adalah Ines Atmosukarto, Sigit Purwantomo, Anggia Prasetyoputri, Warda Tuharea, Neti Yuliati dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, dan Yeti Darmayati dari Pusat Penelitian Oseanologi LIPI.

Ines yang menjadi koordinator tim peneliti itu menjelaskan antivirus yang saat ini digunakan telah mengakibatkan virus membentuk sistem pertahanannya sendiri, sehingga diduga obat yang saat ini digunakan kurang efektif. Selain itu, virus H5N1 yang berada di Indonesia ternyata memiliki karakter tersendiri, berbeda dengan virus yang ditemukan di negara lain. Hal inilah yang menjadi tantangan tersendiri bagi para peneliti itu.

Model penelitian yang digunakan adalah bagaimana mencegah virus itu berkembang biak dengan mengebiri protein M2. Protein yang digunakan virus untuk berkembang biak ini dapat dinetralisasi dengan senyawa atau molekul tertentu, sehingga tidak dapat digunakan virus untuk berkembang biak, sehingga pada akhirnya mati dengan sendirinya. Model ini sebenarnya bisa dilakukan pada penyakit-penyakit lain yang disebabkan virus, seperti HIV dan hepatitis C.

Percobaan

Untuk menemukan senyawa atau molekul yang dapat menghambat protein itu dilakukan sejumlah percobaan dengan pustaka keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia. Dengan cara fermentasi sebelumnya, Ines telah menemukan sejumlah ekstrak bahan yang dapat digunakan sebagai bahan dasar obat. Bahan-bahan inilah yang sedang diujicobakan, sehingga menghasilkan senyawa yang benar-benar bermanfaat untuk menghentikan penyebaran virus flu burung.

Berbekal fakta-fakta di lapangan, yakni virus H5N1 itu tidak hanya menular pada unggas saja, tetapi juga bisa pada babi dan manusia, tim itu menelaah karakteristik virus, termasuk juga resistensi virus terhadap bahan amantadine yang belakangan digunakan untuk penghambat.

"Resistensi terhadap amantadine sudah banyak ditemukan, tetapi belum diketahui apakah ion atau senyawa lain selain amantadine akan juga menimbulkan resistensi. Ini sedang dikaji," ujarnya.

Intinya, menurut Ines, adalah mengembangkan molekul acuan baru yang bereaksi sebagai antivirus dengan target utama adalah channel yang menghubungkan penyebaran antara jenis binatang atau manusia. Selain mengembangkan antivirus H5N1, tim peneliti itu juga melakukan pendekatan yang sama untuk hepatitis C (P7), HIV (vpu), SARS (E), dan dengue (M).

Meskipun penelitian itu belum menentukan bahan mana yang paling baik, namun Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sudah menggandeng PT Kimia Farma untuk bekerja sama. Penelitian itu sebenarnya sudah menemukan sejumlah bahan untuk pembuatan antivirus H5N1, meskipun terlalu dini untuk diungkapkan. Namun begitu, PT Kimia Farma sudah bersedia memproduksi obat-obatan itu dan mendistribusikannya.

Sumbangan Nyata

Terkait hal itu, Kepala LIPI Umar Anggara Jenie menilai kerja sama itu merupakan bentuk nyata LIPI dalam memberikan sumbangan yang berarti kepada masyarakat.

Umar menyebutkan kerja sama dengan produsen obat milik pemerintah itu tidak hanya terbatas pada flu burung saja, melainkan pada sejumlah penyakit yang saat ini banyak diderita oleh masyarakat Indonesia dan belum ada obatnya, termasuk penyakit-penyakit yang memerlukan biaya perawatan yang tinggi, sementara sebagian besar masyarakat masih dililit kemiskinan.

Saat ini, LIPI sedang mengembangkan sejumlah penelitian unggulan yang diharapkan berguna bagi masyarakat Indonesia maupun internasional.

Sejumlah penelitian itu memiliki kualitas internasional, karena beberapa penelitian dari sejumlah negara ternyata belum menghasilkan seperti apa yang dihasilkan peneliti LIPI.

Sedangkan Deputi Ilmu Pengetahuan Alam dan Keanekaragaman Hayati LIPI, Endang Sukara, menyebutkan penelitian-penelitian yang dikembangkan LIPI selain bermanfaat langsung untuk masyarakat Indonesia, juga bisa memberikan citra baik Indonesia di dunia internasional.

"Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tidak terhingga, dan sampai saat ini belum tergali dengan maksimal. Sejumlah penelitian yang dikembangkan itu seluruhnya menggunakan sumber daya yang ada di Indonesia. Dari sedikit saja sudah menghasilkan begitu banyak, apalagi jika kita mengeksplorasinya secara keseluruhan," jelasnya.

Menurut Endang, hasil penelitian itu adalah sebuah ikhtiar untuk berdiri di kaki sendiri menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi, tanpa mengesampingkan usaha-usaha lainnya. Tentu usaha ini perlu mendapat dukungan dari seluruh pihak dan kita tunggu saja hasilnya. [K-11]


Last modified: 26/2/07