SUARA PEMBARUAN DAILY

Seorang Dokter Hewan Diduga Flu Burung

[SERANG] Seorang dokter hewan yang bertugas di Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Serang, Banten, Kuncoro (42) diduga terinfeksi flu burung. Kuncoro diduga terinfeksi flu burung, karena tugasnya sering memvaksin puluhan unggas di Kabupaten Serang.

Kuncoro dirawat di ruang isolasi khusus flu burung di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Serang. Namun, untuk lebih memastikan penyakit yang dideritanya, Minggu (25/2) malam, Kuncoro dibawa ke RS Persahabatan Jakarta.

Ketua Tim Dokter Penanganan Pasien Flu Burung di RSUD Serang dr Bermawi, di Serang, Minggu (25/2) mengatakan, drh Kuncoro masuk ke RSUD Serang, Sabtu (24/2) petang. Setelah dilakukan pemeriksaan secara teliti, dia dinyatakan diduga flu burung. "Gejala yang dialami pasien demam tinggi dan batuk- batuk persis gejala flu burung," katanya.

Bermawi menjelaskan, hasil pemeriksaan Minggu siang, kondisi pasien semakin memburuk. Leukosit (sel darah putih) dari 6.300/ul saat dia masuk, menjadi 3.800/ul atau jauh di bawah leukosit normal yaitu 5.000-10.000/ul. Selain itu, trombosit (sel darah merah) pasien juga turun 110.000-94.000. Hasil rontgen pasien juga terlihat memburuk.

Bermawi lebih lanjut menjelaskan, drh Kuncoro terpaksa dirujuk ke RS Persahabatan, Jakarta untuk menjalani perawatan lebih intensif. Disebutkan, kasus dugaan flu burung yang menimpa petugas kesehatan hewan ini adalah kejadian yang pertama di Indonesia.

Papua

Sementara itu, ahli virus, Dr CA Nidom DUM, MSc yang peneliti dan Kepala Avian Influenza Laboratory Tropical Disease Center Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, di Sentani, Papua pekan lalu menyatakan, khawatir dengan rencana Departemen Kesehatan (Depkes) untuk meluncurkan vaksin Avian influenza/AI atau flu burung bagi manusia pada bulan Juni 2007 ini dikawatirkan akan menjadikan Indonesia khususnya Papua sebagai tempat uji metodologi vaksin. Dikatakan, uji untuk memperoleh formula vaksin yang benar-benar tepat ini, hanya memanfaatkan Indonesia khususnya Papua.

"Terus terang saja sebagai seorang peneliti, saya mengkawatirkan Indonesia akan dijadikan alat uji coba untuk vaksin, yang tujuannya jika terjadi epidemi, mereka sudah siap secara metodologi dengan data lengkap dan menjual obat ke Indonesia, " kata Nidom di Kantor Balai Karantina Hewan Kelas I Sentani, pekan lalu.

Nidom khawatir, karena genetik itu sangat berpengaruh pada respon vaksin terhadap antibodi dalam tubuh seseorang, apalagi penelitian untuk ras kulit putih dan kulit kuning sudah ada, sementara untuk ras melanesia belum ada. "Jika ditemukan satu dugaan flu burung pada manusia di Papua, dikhawatirkan Papua akan menjadi target vaksin, karena belum adanya penelitian untuk ras melanesia, " ujarnya.

Dia berharap agar pemerintah daerah betul-betul berhati-hati menyatakan satu daerah di Papua terinfeksi flu burung, apalagi mendiaknosis di tingkat dugaan pada manusia.

Jika terjadi kasus flu burung di satu daerah disarankan agar ada uji banding di laboratorium yang berbeda, sehingga ada second opinion, sebab dalam sebuah laboratorium selalu ada kesalahan, bisa juga terjadi kesalahan pada peralatan atau manusia. "Selama Depkes berpatokan pada jika ada ayam mati, berarti ada orang yang terinfeksi. Saya tidak setuju dengan hipotesis ini,'' kata Nidom.

Dia mencontohkan, dalam satu ruangan ini ada 100 ekor ayam, jika ada virus flu burung dalam ruangan itu, seratus ekor ayam itu akan terinfeksi semua. Sebab jika betul unggas dapat menularkan secara langsung ke manusia, korban terbesar adalah peternak dan peneliti, poadahal selama ini polanya tidak demikian," ujar Nidom. [ROB/149/M-15]


Last modified: 26/2/07