SUARA PEMBARUAN DAILY

Sudah 344 Orang Meninggal, DBD Makin Mengganas Maret

[JAKARTA] Korban meninggal demam berdarah dengue (DBD) secara nasional sejak Januari hingga 23 Februari 2007, sudah mencapai 344 orang. Masyarakat diperingatkan agar terus waspada, sebab DBD akan makin mengganas awal Maret ini.

Menurut Sumardi dari Pusat Komunikasi Publik Departemen Kesehatan (Depkes), Senin (26/2) pagi, jumlah kasus DBD selama Januari-Februari 2007 mencapai 2.3892, termasuk 344 orang di antaranya meninggal dunia, yakni 264 orang di bulan Januari dan 80 orang periode Februari. Pada periode Januari, Jawa Barat merupakan daerah tertinggi kasus DBD, yakni 4.109, dengan kematian 75 orang, disusul DKI dengan 2.458 kasus, dan 18 meninggal, berikut Jawa Timur 2.230 kasus dengan 48 orang meninggal.

Sementara di bulan Februari kasus tertinggi bergeser ke DKI Jakarta dengan 1.963 kasus di antaranya 14 meninggal disusul Jawa Tengah dengan 1.184 kasus, di antaranya 26 meninggal. Sedangkan, Jawa Barat 1.159 kasus dan 16 di antaranya meninggal.

Makin Ganas

Dalam kaitan itu, ahli penyakit dalam Tri Juli Edi Tarigan mengingatkan, memasuki bulan Maret, DBD mengancam warga Jakarta dan daerah lainnya pascabanjir . Kalau tidak dibersihkan, genangan-genangan air bekas banjir yang dapat menjadi sarang bisa menimbulkan tingginya kasus DBD.

Hal itu disampaikan Tri Juli Edi Tarigam di sela-sela presentasi kegiatan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dalam membuka posko di masa tanggap darurat banjir di Jakarta, pekan lalu. Dijelaskan, penyakit DBD akan melonjak bila tidak ada gerakan bersama pemberantasan sarang nyamuk (PSN). "Pesannya sangat sederhana, PSN. Tetapi justru karena terlalu sederhana banyak pihak tidak menyadari," kata Tri Juli mengingatkan.

Dia melihat sampai sekarang persoalan DBD tetap mengancam, karena tidak pernah ada evaluasi mengenai apa yang sudah dikerjakan selama ini. Tidak jelas, apakah evaluasi PSN sudah dilakukan masyarakat atau tidak. Juga tidak ada evaluasi apakah juru pemantau jentik (jumantik) telah benar-benar melaksanakan tugasnya secara rutin dan apakah pengasapan (fogging) sudah dijalankan secara rutin.

Di permukiman padat penduduk, jelasnya, nyamuk dapat menyerang lebih banyak orang. Hal itu menyebabkan korban DBD di daerah yang kepadatan penduduknya tinggi, juga lebih banyak. Karena itu, untuk penanganan jangka panjang harus ada pemikiran bagaimana mengatur daerah padat penduduk.

Data yang berhasil dikumpulkan PAPDI Medical Relief (PMR) selama banjir menemukan, ada lima jenis penyakit yang paling banyak ditemukan, yaitu infeksi saluran nafas akut (ISPA), myalgia/nyeri otot, dermatitis/penyakit kulit, diare dan tinea/jamur. Kejadian ISPA yang mencapai 34,8 persen pengungsi paling banyak menyerang anak-anak, yakni 68 persen.

"ISPA merupakan penyakit yang bila tidak diobati dapat berbahaya. Pasien ISPA pada anak-anak dan orangtua yang tidak mendapat intervensi dalam 3-7 hari dapat menyebabkan radang paru atau pnemoni. Kalau dibiarkan, radang paru dapat menyebabkan kematian," kata Tri.

Palu

Sementara itu, kasus DBD di Kota Palu, Sulawesi Tengah, kini semakin memprihatinkan, ditandai dengan semakin banyak pasien yang menjalani rawat inap di rumah sakit umum (RSU) setempat. Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu, drg Emma Sukmawati, di Palu, Minggu, mengatakan kurun Januari hingga 22 Februari 2007 jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit sudah mencapai 220 orang, satu di antaranya meninggal dunia akibat terlambat di bawa ke rumah sakit.

Menurut dokter Emma, wilayah endemik paling tinggi jumlah kasus DBD-nya adalah Kecamatan Palu Selatan mencapai 93 korban, disusul Palu Barat 56 kasus, Palu Timur 42, dan Palu Utara 11 kasus. "Jumlah penderita ini setiap hari terus bertambah, sehingga memerlukan perhatian serius semua pihak terkait," tuturnya seperti dilansir Antara.

Selama tahun 2006 jumlah kasus DBD di Kota Palu tercatat 330, sementara di tahun 2007 yang belum berakhir bulan kedua telah mencapai 220 kasus. Melihat jumlah pasien DBD yang dirawat di rumah sakit terus bertambah, dr Sukmawati mengimbau warga Palu untuk meningkatkan kewaspadaannya dengan cara proaktif membersihkan lingkungan masing-masing.

Sedangkan, jumlah pasien DBD yang meninggal dunia selama Februari di RSU Dr Soetomo Surabaya untuk sementara tercatat sebanyak dua orang. Berdasarkan data rekam medis RSU dr Soetomo Surabaya, pasien Nurul, bayi usia delapan bulan meninggal dunia pada Kamis (22/2).

Wakil Direktur Pendidikan dan Penelitian RSU dr Soetomo Surabaya, dr Urip Murtedjo menjelaskan, pekan lalu menjelaskan, biasanya jumlah pasien DBD dan penyakit diare baru akan meningkat pada Maret dan April, sehingga warga kota harus ekstra waspada,''katanya. [A-22/128/029]


Last modified: 26/2/07