etikan alat musik tradisional kecapi dan tiupan suling bambu serta suara gendang yang bertalu- talu, menyambut kedatangan lima orang bule dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat saat berkunjung ke stasiun pemancar Radio Republik Indonesia (RRI) di Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (24/2) malam.
Suasana malam Minggu itu, tampak lain dari suasana biasanya di gedung RRI Bogor. Banyak tamu berdatangan, mulai dari LSM, para seniman, sampai budayawan lokal Kota Hujan itu, menyambut kelima tamu dari negeri Paman Sam itu.
Tampak hadir pula Direktur Utama RRI, Parni Hadi, yang didampingi Kepala Stasiun RRI Bogor, Dwi Hernuningsih, yang menggagas acara budaya Sunda, hahaleuangan yang artinya bernyanyi bersama. Acara budaya Sunda ini pun pertama kalinya digelar di RRI Bogor dan akan menjadi salah satu acara bulanan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.15 WIB, ketika kelima tamu dari Deplu AS itu datang ke RRI Bogor. Mereka adalah Caryu Mc Clelland, Susan Stahl, John Jacobs, Hillary Yacobs, dan Hunter Treseder. Mereka segera digiring ke ruang auditorium RRI Bogor.
Namun, karena ruangan tak sebanding dengan jumlah tamu yang hadir, tamu pun membludak sampai ke luar ruangan. Acara hahaleuangan itu, selain disiarkan RRI Bogor juga di-relay untuk disiarkan langsung oleh RRI Bandung.
Rupanya, bagi kelima warga AS itu sangatlah unik dan aneh saat tuan rumah menyuguhkan minuman bajigur dan makanan jagung rebus, kacang rebus, dan umbi-umbian.
Sambil mencicipi hidangan ala Sunda itu, kelima bule sesekali menebarkan senyum ke setiap orang yang hadir di acara itu sambil berupaya bercakap- cakap menggunakan bahasa Indonesia terpatah-patah.
Mereka mengaku, sebelumnya telah mempelajari bahasa Indonesia di negaranya hanya lima bulan, sehingga harap dimaklum tidak begitu lancar berbahasa Indonesia.
Malam kian larut dan suasana ingar-bingar musik kecapi diiringi suling dan gendang mengirini pula beberapa lirik lagu berbahasa Sunda. Sang bule itu hanya menepuk-nepuk kedua tangannnya karena mereka tidak mengerti bahasa Sunda.
Parni Hadi melihat suasana kian semarak dan penuh keakraban itu, sempat mengajak beberapa bule untuk menari bersamanya. Para tamu undangan pun riuh bertepuk tangan dan berceloteh lucu ketika melihat sang bule belajar menari Sunda. Kaku dan mengundang tawa ceria, serta penuh keakraban. Itulah kesan yang terlihat waktu itu.
"Budaya Sunda dan lagu-lagu yang dibawakan dengan musik tradisional itu sangat mengagumkan. Betapa Indonesia ini sebuah negeri yang cantik serta penuh dengan kekayaan budayanya. Saya kagum dan terkesan," ujar Susan Stahl, yang cukup fasih berbahasa Indonesia ketika ditanya Pembaruan.
Lain halnya dikatakan John Jacobs, saat ditanya tentang makanan khas Sunda. Menurut dia, makanan ala Sunda itu ternyata enak, begitu pula dengan tarian dan lagu-lagu serta alat musik yang dimainkan dinilai sangat mengagumkan. "Sangat bagus lagu dan tarian Sunda ini, tapi sayang saya tidak bisa menyanyi Sunda," ujarnya seraya tertawa senang.
Malam kian larut dan waktu menunjukkan pukul 23.30 WIB, kelima tamu bule itu akhirnya undur diri karena mereka akan meneruskan perjalanannya Minggu pagi ke Bandung. Beberapa tamu yang mengiringi kepergian tamu bulenya, sempat tertawa manakala melihat salah seorang bule yang tingginya hampir dua meter itu, kepalanya terbentur pintu dan atap mobil minibus yang menjemputnya.
Sang bule itu sedikit meringis kesakitan. Beberapa tamu pengiringnya tak kuasa menahan tawa sambil melambaikan tangan saat ke lima bule sudah berlalu. [Pembaruan/Epi Helpian]