SUARA PEMBARUAN DAILY

Tugas Wartawan Rawan Kecelakaan

Nyawa Jangan Dipertaruhkan

[JAKARTA] Kalangan wartawan elektronik dan media cetak sangat menyayangkan tragedi tenggelamnya bangkai KM Levina I yang membawa korban di kalangan pekerja pers. Pascainsiden itu, pembicaraan di kalangan wartawan kebanyakan menyangkut keselamatan diri mereka saat meliput daerah-daerah rawan kecelakaan, konflik, atau bencana.

Beberapa wartawan yang sedang meliput penyelidikan KNKT di atas KM Levina I, yang sempat ditemui Pembaruan, Senin (26/2) pagi, menyatakan hal tersebut memang menjadi risiko pekerjaan.

"Tapi, dalam melakukan tugas, saya selalu berpegang pada prinsip 'nyawa jangan dipertaruhkan demi berita'. Meski begitu, karena instruksi dari atasan, prinsip saya itu sering terlupakan. Apalagi jika tiba di lapangan, semangat untuk memburu berita atau gambar yang baik dan eksklusif, begitu kuatnya sehingga para pekerja pers terus berlomba mendapatkan yang terbaik," kata Ana (bukan nama sebenarnya), kepada Pembaruan di kantor pusat stasiun televisi Lativi, di Jalan Rawaterate II No 2 Kawasan Indutri, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Senin, (26/2).

Di sela-sela acara penghormatan terakhir bagi Suherman, kameramen stasiun televisi Lativi, yang meninggal saat meliput prose penyelidikan terhadap KM Levina I di perairan Muara Gembong, Bekasi Utara, Ana mengatakan, sering kali koordinator menuntut mereka untuk mendapatkan berita hingga ke lokasi yang relatif rawan terhadap kecelakaan. "Faktor keselamatan memang terkadang terabaikan oleh wartawan yang lain," kata reporter televisi itu.

Selain Ana, seorang reporter radio kepada Pembaruan mengatakan, pihak perusahaan secara tersirat sering kali menekankan pentingnya ekslusivitas sebuah berita.

"Pada Sabtu (24/2) malam, saya juga ikut rombongan menuju lokasi KM Levina I karena koordinator liputan memerintahkan saya melaporkan pandangan mata dari atas bangkai KM Levina I. Tetapi ketika kapal mendekat ke bangkai kapal, dalam jarak 100 meter, masih terasa ada hawa panas dari arah kapal, sehingga kami tak jadi naik," katanya.

Saat itu, reporter yang tak mau menyebutkan namanya, juga sudah menyaksikan badan KM Levina I sudah miring.

Dia pun sebenarnya sudah ragu ikut kapal malam itu, karena ternyata dalam kapal kecil yang mereka tumpangi, tak tersedia pelampung dan alat pengaman lainnya.

Di atas kapal kecil itu, antarwartawan terjadi diskusi menyangkut keselamatan mereka yang tak diperlengkapi dengan pelampung. "Coba kalau terjadi apa-apa dengan wartawan, beritanya pasti ramai. Eh... besoknya, apa yang kami cemaskan benar-benar terjadi," katanya.

Wartawan memang sering kali mengabaikan faktor keselamatan, khususnya untuk mereka sendiri. "Padahal, mereka sangat mempersoalkan keselamatan orang lain. Demikian juga para pimpinan yang memberikan perintah, sering kali tidak mengingatkan anak buahnya untuk menjaga diri," katanya.

Penghormatan

Sementara itu, raungan sirene ambulans memecah keheningan suasana di Kawasan Industri Pulogadung, kantor Pusat Lativi Senin siang. Peti jenazah Suherman segera disambut oleh delapan rekan almarhum yang mengenakan pakaian berwarna hitam.

Saat jenazah almarhum dibawa menuju masjid yang masih berada di dalam areal stasiun televisi, Riky, sahabat dekat almarhum yang juga bekerja sebagai kameramen tak mampu menahan air mata.

Selain Riky, beberapa rekan kameramen dan reporter lainnya juga tak kuasa menahan sedih.

Beberapa di antara mereka dengan setia menunggui jenazah alamarhum yang sedang disholatkan. Setelah disholatkan di masjid sekitar satu jam jenazah almarhum, diberangkatkan menuju pemakaman.

Turut serta melepas rombongan Kepala Pusat Penerangan TNI Laksamana Muda Moh Sunarto, Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama Selamet Yulistiyono, Kepala Dinas Penerangan TNI AU Masekal Pertama Daryat-mo dan Menejemen Lativi. [P-11/N-6]


Last modified: 26/2/07