SUARA PEMBARUAN DAILY

Flu Burung Merebak di Jayapura

[JAYAPURA] Tujuh ekor ayam yang mati mendadak milik Yafet Ansanay warga RT 03, RW7 Dok IX Kelurahan Tanjung Ria, Distrik Jayapura Utara, Papua, diketahui tertular flu burung. Kepastian tersebut diketahui berdasarkan hasil diagnosis Departemen Pertanian di Balai Besar Veteriner Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Hal itu dikemukakan Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, drg Suyono Angkasa di Jayapura, Kamis (15/2) siang, saat melakukan penyuluhan virus A1 dan pemusnahan 36 unggas yang dilakukan warga disaksikan Wali Kota Jayapura, MR Kambu. Terkait ditemukan flu burung pihaknya mulai melakukan penambahan penyaluran obat tamiflu ke setiap puskesmas yang ada.

Sementara itu, Yafet Ansanay, mengaku unggasnya yang telah tertular flu burung setelah diketahui 7 ekor ayamnya beberapa waktu lalu mati mendadak. Disebutkan 2 ekor ayamnya (yang satu hidup dan satunya sudah mati) dibawa dinas kesehatan untuk dijadikan sampel.

Kepala Dinas Pertanian Kota Jayapura, Dominggus Wafumilena secara terpisah mengatakan sesuai laporan sementara yang diterimanya, wilayah Dok IX Kelurahan Tanjung Ria khususnya RT/RW 02,03/07 merupakan daerah yang saat ini dinyatakan rawan terhadap virus flu burung. Sebab, sesuai hasil penelitian dan hasil pemeriksaan di Maros lokasi tersebut sudah terkontaminasi virus mematikan itu.

Bantuan UNICEF

Terkait dengan itu, Kepala Bagaian Advokasi dan Mobilisasi Sosial UNICEF wilayah Indonesia, John Budd didampingi Kepala Perwakilan UNICEF wilayah Jawa Tengah-DIY, I Made Sutama seusai bertemu Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X Rabu (14/2) mengatakan, korban meninggal akibat flu burung di Indonesia telah mencapai 63 orang dan mayoritas korban adalah anak-anak. Hal ini menimbulkan keprihatinan UNICEF.

Sejak kasus flu burung merebak di Indonesia, ungkap John Budd, UNICEF membantu pencegahan penyebaran virus dan menyiapkan dana sebesar AS $ 3,5 juta yang segera akan diberikan dalam waktu dekat. "Virus flu burung itu, sekarang telah menjadi perhatian dunia, karena penyebarannya yang semakin meluas. Maka UNICEF mendorong harus ada langkah-langkah antisipatif yang menyeluruh agar penyakit ini jangan sampai meluas," ujarnya.

John Budd juga menyatakan sepenuhnya mendukung langkah penanganan maupun pencegahan yang dilakukan oleh Pemprov DIY dan segera bersama-sama menjalin kerja sama melakukan koordinasi yang baik dalam rangka penanganan dan pencegahan penyakit ini. UNICEF bekerja sama dengan seluruh pemerintah daerah khususnya untuk daerah rawan seperti Pulau Jawa, Sulawesi Selatan dan Sumatera.

Senada dengan John Budd, I Made Sutama menambahkan, UNICEF telah melakukan negosiasi terhadap para pendonor untuk membantu pemerintah Indonesia sebesar US $ 3,5 juta. Bantuan itu, kata dia, akan dialokasikan tahun ini dan sebisa mungkin segera disalurkan lewat pemerintah.

Mengamati perkembangan flu burung di Indonesia, lanjut Made Sutama, UNICEF khawatir akan terjadinya pandemik, atau penularan virus dari manusia ke manusia. Karena itu, pemerintah harus segera melakukan persiapan agar tidak menjadi penyakit itu pandemi.

Sementara, Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengatakan, penanganan flu burung akan menjadi lebih baik jika didesentralisasikan, atau dilakukan oleh daerah yang mengenal betul karakter maupun tradisi masyarakatnya. Menurut Sultan, dalam sosialisasi tidak semua informasi yang disampaikan kepada masyarakat dapat diterima dan dipahami dengan baik. [ROB/152/M-15]


Last modified: 15/2/07