SUARA PEMBARUAN DAILY

Pemerintah Kembali Impor 200.000 Ton Beras

[JAKARTA] Pemerintah akhirnya memutuskan untuk mengimpor beras guna menutupi kekurangan stok beras dalam negeri. Impor beras itu akan berlangsung hingga panen raya pada Maret 2007 karena pada saat itu diperkirakan Indonesia mengalami surplus 3,5 juta ton. Untuk tahap awal impor beras tersebut akan berjumlah 200.000 ton. Sehubungan dengan itu tender impor beras ini akan mulai dibuka minggu ini.

"Akibat operasi pasar, Bulog mengalami kekurangan stok beras sebesar 200.000 ton per bulan. Karena kita kekurangan stock nasional sedangkan panen raya baru akan mulai Maret 2007 maka untuk menutupi gap dan supaya tetap menjamin ketersediaan nasional dan ada jaminan supaya stok nasional tidak bermasalah maka kita akan minta supaya kekurangan itu ditutupi segera dengan mengimpor beras. Tetapi itu hanya berlaku sampai sebelum Maret 2007," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada wartawan di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (21/12) siang.

Dia mengingatkan, impor beras itu dilakukan berdasarkan kondisi nasional, yakni untuk mengisi kekosongan gudang Bulog. Menurut Wapres, keputusan untuk mengimpor beras ini dilakukan berdasarkan instruksi presiden.

Sedangkan terkait jumlahnya per bulan setelah impor tahap awal, dia menyebutkan, sekitar 200.000-an ton per bulan. "Tergantung seberapa jauh dari panen. Tapi dalam hal ini pemerintah tidak akan mengorbankan ketahanan pangan nasional,'' ucapnya.

Dia menambahkan, dana untuk mengimpor beras ini tidak akan memakai anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Karena itu, tidak perlu juga melapor atau mendapat persetujuan dari DPR sebelumnya. "Tidak perlu lewat DPR karena tidak ada anggaran tambahan. Ini adalah domain pemerintah,'' ujarnya.

Pada tahap pertama, tuturnya, untuk operasi pasar dibutuhkan 200.000 ton. Karena itu, pemerintah wajib menutupi kekurangan beras akibat operasi pasar tersebut. "Berapapun yang dibutuhkan untuk cadangan ketahanan pangan nasional, pemerintah akan menjaminnya sampai dengan Maret 2007. Tidak perlu ada persetujuan DPR karena tidak memakai anggaran APBN," kata Wapres.

Impor beras tersebut, lanjutnya, bertujuan supaya masyarakat menikmati harga beras yang stabil dan terjangkau. Dan pada akhirnya bertujuan untuk kesejahteraan rakyat.

Wapres menambahkan, dana untuk impor beras bukan dari APBN, tetapi berasal dari pinjaman bank dan hasil operasi pasar yang dilakukan Bulog. Namun, dia tidak menyebut dana yang dibutuhkan untuk impor tersebut.

Stok Cukup

Ketua Harian Dewan Pimpinan Nasional Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Benny Pasaribu mengatakan, berdasarkan data yang diterima dari Bulog, BPS, dan Departemen Pertanian, stok beras nasional hingga Maret cukup. Kalau pun kurang itu baru akan terjadi pada Maret di mana sudah memasuki masa panen. Karena itu, dia menilai, langkah pemerintah membuka kran impor beras akan menjadi kotraproduktif. Karena pada saat beras impor masuk ke Indonesia akan bersamaan dengan musim panen.

Artinya, harga beli gabah dari petani bisa anjlok. Jadi, daripada membuang-buang devisa untuk membeli beras impor lebih baik dana tersebut dipakai untuk membeli beras dari petani.

Selain itu, jika gudang-gudang Bulog sudah dipenuhi dengan beras impor maka Bulog akan kesulitan menampung beras atau gabah dari petani. Hal ini akan menyebabkan Bulog tidak membeli beras dari petani. Karena itu, kebijakan ini perlu dikaji kembali oleh pemerintah. [A-21/N-3]


Last modified: 21/12/06