![Gerakan saat terapi. [Foto: Arief Suharto]](21saat1t.gif)
anyak cara dan acara dalam memperingati hari HIV/AIDS sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember yang lalu. Ada yang menggelar renungan, ada yang seminar sehari, ada pula yang menyelenggarakan panggung musik atau panggung kesenian, dan banyak lagi. Peringatan HIV/AIDS memang sudah menjadi kepedulian banyak orang, terutama di kota-kota besar, berkaitan dengan fenomena gunung es yang diakibatkannya.
Yayasan Asa Bangsa, organisasi nirlaba yang memang mengkhususkan diri pada penanggulangan kecanduan narkoba, tak ketinggalan pula menggelar acara berkait dengan peringatan tersebut. Bentuk acaranya pelatihan atau lebih tepatnya terapi 12 jam, bagi para ODHA, yakni orang dengan HIV/AIDS, dan Ohidha, orang hidup dengan ODHA. Acara itu digelar di aula yayasan, di Jl PLN Duren Tiga Jakarta Selatan.
Kegiatan itu diselenggarakan berawal dari keprihatinan yayasan yang melihat minimnya peran serta masyarakat dan pemerintah dalam menyediakan sara- na dan prasarana untuk memberdayakan ODHA dan Ohidha. Oleh sebab itulah yayasan lalu membuat pelatihan dengan nama "Make Better Solution".
Tidak banyak yang ta-hu, ada sebagian masyarakat yang sangat peduli dengan keberadaan ODHA dan Ohidha. Mereka bergabung dalam beberapa wadah, menjadi relawan untuk membantu penderita tersebut. Tidak ada bayaran, hanya rasa kemanusiaan terhadap sesamalah yang membuat para relawan itu mau melakukannya.
Tercatat beberapa wadah relawan yang berkecimpung dalam kegiatan kemanusiaan. Selain Yayasan Asa Bangsa yang menangani masalah penyalahgunaan narkoba dan HIV/ AIDS, tercatat Sahabat Rekan Sebaya yang merupakan paguyuban mantan pecandu narkoba yang telah pulih, ODHA dan Ohidha.
Lembaga nirlaba lain adalah Situs Management, pusat pelatihan yang peduli pada penyalahgunaan narkoba, HIV/AIDS, selain itu RS Bhayangkara Selapa Polri, unit narkoba yang menangani masalah penyalahgunaan Narkoba, HIV/AIDS, juga Koex System, pusat pelatihan body management yang dipakai sebagai terapi.
"Mind Management"
Terapi 12 jam yang digelar Yayasan Asa Bangsa diikuti ODHA dan Ohidha. Sehari mereka menjalani kegiatan yang dinamakan Mind Management, yaitu menata ulang mind setting, sehingga virus negatif pikiran bisa diminimalkan. Virus pikiran negatif dapat mempengaruhi virus yang ada dalam tubuh ODHA.
Kegiatan lain adalah Body Management. Program itu diberi nama Koex System, sebuah teknik olahtubuh yang mudah dan menarik, yang bisa dimanfaatkan oleh ODHA dan Ohidha.
Metode berikut yang mereka jalani sebagai bagian dari terapi adalah Soul Management, yang memberikan semangat spiritual bagi ODH dan Ohidha. Bahwa bukan kematian yang dikhawatirkan, tetapi hidup yang bermanfaat bagi diri dan sesama itu yang perlu dikhawatirkan.
Para ODHA dan Ohidha duduk bersila didampingi dua mentor diaula yang sejuk saat menjalani terapi Koex System. Lalu lewat layar ditampilkan foto-foto teknik melakukan gerakan. Mirip dengan gerakan yoga, tapi tidak terlalu rumit. Kemudian ada pemandu yang memberikan arahan kapan menarik napas dan kapan melepaskannya.
Di ruangan yang temaram dengan alunan musik lembut, peserta mengikuti arahan pemandu. Tidak lama kemudian, satu per satu peserta bergeletakan di lantai. Mereka menangis, menjerit, atau bergumam. Teriakan kepedihan dan sedikit pemberontakan tubuh memang mirip orang yang tengah melepas stres dan rasa putus asa. Pemandangan seperti itu menurut sang pemandu memang harus berjalan, sehingga peserta bisa melepaskan segala beban berat yang menimpanya.
"Ini bukan Rukiyah (metode terapi dengan doa-doa yang selama ini banyak dikenal, Red). Ini hanya bentuk latihan biasa yang dipakai untuk meningkatkan daya tahan tubuh," ujar pemandu. Teriakan para peserta seperti tak terkendali, sesekali terdengar tangis memilukan, bahkan ada juga yang muntah-muntah.
Segala bentuk pelepasan tersebut, merupakan titik puncak dari berbagai beban dalam tubuh dan pikiran ODHA dan Ohidha. "Biasanya kalau sudah begini, nanti akan muncul perasaan lega. Ini bisa memperkuat tubuh, sehingga ODHA lebih memiliki harapan hi-dup yang tinggi," pemandu menambahkan.
Teriakan dan tangisan perlahan mereda. Para mentor sibuk mengawasi ODHA. Semua peserta terapi kembali pada posisi normal. Para mentor lalu melakukan gerakan pelepasan. Menurut pemandu, sekalipun sebagai pendamping, mereka juga terkena energi buruk. Oleh sebab itu ada juga mentor yang lemas atau harus mengambil napas dalam-dalam.
Pada sesi istirahat, seorang peserta ODHA mengaku merasakan ada kelegaan di jiwanya. Teriakan dan tangisan yang muncul itu adalah spontan. "Saya tidak tahu kenapa, tiba-tiba merasa menjadi orang yang tak berguna dan saya tenggelam dalam lembah yang dalam. Saya lalu menyesali semua dan rasanya ingin menjerit dan berteriak," kata peserta itu.
Sesi Koex itu baru sebagian kecil dari pelatihan pada hari itu. Masih banyak gerakan dan perbincangan yang kesemuanya bisa membuat bangkit semangat manusia yang merasa sudah tidak punya harapan lagi.
Sisi lain yang menyentuh adalah ketulusan para relawan yang bertugas sebagai mentor. Di usia yang masih muda, relawan yang berlatar belakang berbeda-beda itu menyatu untuk saling membantu. [Arief Suharto]