
Lamba (27), satu dari puluhan penyelam teripang dari Pulau Barrang Lompo, Makassar mengalami kelumpuhan mendadak. Kini dia masih menjalani terapi untuk dapat berjalan dengan memakai tongkat di Pustu Barrang Lompo. [Pembaruan/M Kiblat Said]
emungut hasil laut adalah pekerjaan sehari-hari warga di Kelurahan Pulau Barrang Lompo, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Namun kini hampir semua nelayan di sana tak lagi bernyali. Sedikitnya, 60 nelayan mendadak terserang penyakit lumpuh.
Pekerjaan sebagai penyelam bisa membawa risiko fatal. Itulah yang dialami sedikitnya 60 warga di Kelurahan Pulau Barrang Lompo, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, mereka adalah penyelam teripang yang kini terserang penyakit lumpuh.
Penyakit yang mendera warga di pulau yang terletak sekitar 9 mil dari Makassar, itu hampir setiap bulan bertambah dan umumnya dialami oleh nelayan pencari teripang yang sudah bekerja turun-temurun.
Barrang Lompo adalah pulau koral di lepas Pantai Makassar, letaknya di sebelah Barat Laut Kota Makassar. Barrang Lompo memiliki luas sekitar 49 Ha (hektare), berpenduduk 985 KK (kepala keluarga) atau sekitar 4.000 jiwa.
Lurah Pulau Barrang Lompo, Drs Andi Musyarafah Baso Lewa, kepada Pembaruan, Sabtu (16/12), mengatakan sebagian besar penduduk lelaki di Barrang Lompo bermata pencaharian sebagai pencari teripang dengan cara menyelam di laut. Mereka tidak saja mencari teripang di sekitar pulau itu, tetapi berlayar berbulan-bulan menggunakan perahu motor berkapasitas tiga ton, sampai ke perairan Luwuk Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah atau ke perairan Pulau Kalimantan.
Pulau Janda
Setiap bulan ada saja warga yang menjadi korban. Kalau dihitung sejak tahun 2000 hingga 2006, jumlah penderita lebih 60 orang, 13 di antaranya meninggal dunia. Terakhir yang meninggal adalah Edi, Oktober lalu. Korban baru saja menikah dan belum sempat berbulan madu dengan istrinya, berangkat melaut dan meninggal di lokasi penyelaman.
Karena banyaknya penyelaman yang tewas dari tahun ke tahun, tak ayal lagi istri mereka harus menjanda. Itulah sebabnya, Barrang Lompo dijuluki sebagai
"Pulau Janda", lantaran pulau sekecil itu menampung lebih seratus orang janda. "Ada lebih seratus orang yang berstatus janda di pulau ini," kata Andi Musyarafah.
Pernyataan Musyarafah itu dibenarkan Kepala Puskesmas Pembantu (Pustu) Pulau Barrang Lompo, Nurliah, SSos yang rutin mengobati pasien lumpuh di pulau tersebut.
"Kami juga heran, setiap bulan pasien lumpuh bertambah, sementara peralatan medis di Pustu sangat terbatas, tenaga medis hanya tiga orang, itu pun dua orang lulusan Akademi Perawat (Akper) masih berstatus tenaga sukarela," ujar Nurliah.
Menurutnya, korban kelumpuhan akibat menyelam selama 2006 tercatat sebanyak 38 orang, dua diantaranya meninggal. Biasanya, pasien dibawa ke Pustu setelah terserang kelumpuhan di lautan dan berlayar selama berhari-hari. Korban yang cepat mendapat pertolongan, kondisinya lebih beruntung dan langsung dirawat, diberi infus, bantuan oksigen, vitamin dan menjalani terapi. Sedangkan korban warga yang dibiarkan terbaring di rumahnya, keadaannya jauh lebih buruk, bahkan mengalami lumpuh total.
Dia juga menambahkan, para penyelam di pulau itu sangat tradisional dan hampir tidak pernah memeriksakan kesehatannya sebelum menyelam. Mereka
menjadi korban karena kondisi kesehatannya tidak normal, terutama tekanan darahnya, apalagi selama melaut, makan dan tidurnya juga tidak teratur.
"Idealnya, penyelam berusia 20 hingga 30 tahun harus mempunyai tekanan darah 120 per 80. Di bawah atau di atas standar itu kondisinya sangat rentan, apalagi mereka berada cukup lama di kedalaman air laut," jelasnya.
Upaya penyembuhan korban tetap dilakukan di Pustu dengan cara yang sangat sederhana, dibantu lembaga Rehabilitasi Bersumberdaya Masyarakat (RBM). Lembaga tersebut khusus menangani orang cacat, bekerjasama lembaga swadaya dari Australia yang dipimpin dr Robert V Philips. Dua petugas RBM sangat rajin ke Barrang Lompo, selain memberikan terapi, juga melakukan penyuluhan kepada warga.
Membius Ikan
Beberapa nelayan yang enggan disebut menyatakan, para penyelam bukan hanya mencari teripang, tetapi sering melakukan pembiusan ikan di terumbu karang dengan menggunakan potasium. Besar kemungkinan, karena keseringan menghirup zat kimia tersebut, berdampak buruk bagi kesehatan penyelam.
Nurliah mengatakan, para penyelam di Barrang Lompo memiliki keahlian sejak kecil. Mereka tidak pernah menggunakan peralatan standar, misalnya memakai tabung oksigen atau peralatan selam lainnya. Para penyelam hanya memakai alat buatan sendiri, yaitu selang udara plastik yang disambungkan ke mesin pompa udara (kompresor) untuk membantu pernapasan selama berada di bawah air. Kompresor yang digunakan pun kondisinya sudah berkarat (korosi) cukup tebal, sehingga udara yang dipompakan ikut tercemar.
Menurut Buang Lanti (34), bapak empat anak yang mengalami musibah di Pulau Kondongbali, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) Sulsel, tiga bulan lalu, penyelaman teripang biasanya dilakukan sampai kedalaman air 20 meter atau lebih, alatnya hanya selang udara dari kompresor dan ia bisa bertahan sampai 20 menit di bawah air.
Buang mengaku, sejak diserang lumpuh, ia tak pernah berobat ke dokter. Selain takut disuntik (injeksi), ia juga tidak punya uang. Beberapa korban yang berobat ke dokter di kota Makassar umumnya disebut menderita stroke. "Sudah berapa orang dari Barrang Lompo berobat ke Makassar, dokter bilang sakit stroke, setelah disuntik, beberapa hari kemudian meninggal," katanya.
Kondisi fisik Buang tidak separah Lamba, korban lainnya. Buang cepat mendapat pertolongan dan menjalani terapi di Pustu Barang Lompo, hingga kondisinya perlahan-lahan pulih dan bisa berjalan tanpa alat bantu, meskipun masih terseok-seok.
Sedangkan Lamba (27), berjalan sambil berpegangan di pagar halaman, atau memakai tongkat kayu. Itupun, sesekali berhenti untuk menghela napasnya karena sesak. Lamba mengaku, sembilan tahun ia menekuni pekerjaan sebagai pencari teripang dan mengalami kecelakaan lima tahun lalu, ketika sedang menyelam di perairan Kabupaten Luwuk Banggae, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng).
"Awalnya saya hanya pusing dan lemas, lalu seluruh tubuh saya tidak bisa digerakkan," katanya.
Tidak Sepadan
Lamba dan teman-temannya sering meninggalkan Pulau Barrang Lompo selama sebulan untuk mencari teripang sampai ke Luwuk Banggai. Hasil yang diperolehnya tidak sepadan dengan risiko kerja yang dialami. Lamba mengaku hanya dapat bagian Rp 300 ribu.
"Kalau hasil tangkapan banyak, pembagian juga bisa lebih besar, mencapai Rp 500 ribu. Padahal, harga satu ekor teripang basah Rp 250 ribu," kata Lamba.
Dari seluruh hasil tangkapan, dua persen menjadi hak pemilik perahu motor, selebihnya diatur oleh pemberi modal selama mereka melaut, yang juga merangkap
sebagai pembeli di kawasan Pelabuhan Rakyat Paotere, Makassar yang memasok permintaan restoran sea food di Surabaya dan Jakarta. Lamba ingin sekali berobat ke Makassar, tapi ia mengaku tidak punya biaya.
"Saya ini orang miskin, tidak mampu untuk membayar rumah sakit dan obat, Bapak saya sudah meninggal dan untuk makan setiap hari saja, terpaksa harus menyusahkan ibu saya yang sudah tua," ujarnya memelas.
Sekarang, Lamba dan puluhan warga yang lumpuh di Barrang Lompo hanya bisa berdoa serta berharap, agar pemerintah mau membantu pengobatannya dan mengirim tim medis khusus ke pulau itu untuk meneliti penyakit yang mereka alami. [Pembaruan/M Kiblat Said]