SUARA PEMBARUAN DAILY

Muladi Kecam Pernyataan Try Sutrisno

Try Sutrisno [Pembaruan/Charles Ulag]

Muladi [Pembaruan/Charles Ulag]

[JAKARTA] Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Muladi merespons keras pernyataan mantan Wapres Try Su- trisno dan kawan-kawan yang tergabung dalam Gerakan Kebangkitan Indonesia Raya (GKIR) sebagai tindakan yang bisa menimbulkan instabilitas. Lebih dari itu, Muladi juga mengkhawatirkan adanya penumpang gelap atas apa yang di- lakukan Try Sutrisno tersebut.

Try dalam pertemuannya dengan Ketua DPR Agung Laksono, Selasa (19/12) mengkritik keras pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Try dan kawan-kawan menyatakan, akibat kepemimpinan nasional yang lemah, seluruh bidang kehidupan rakyat memburuk.Bahkan, informasi dari anggota DPR yang ikut pertemuan itu, kelompok GKIR tersebut mengusulkan pencabutan mandat Yudhoyono-Kalla.

Dalam jumpa pers di gedung Lemhannas, Rabu (20/12) malam, khusus untuk menyampaikan "Analisis Lemhannas terhadap Kondisi Politik Nasional Kontemporer" Muladi menyebutkan, "Penumpang-penumpang gelap itu pasti terjadi menurut pengalaman kita, mereka yang kecewa dan sebagainya pada masa lalu atau yang bertujuan kurang baik akan mencari kesempatan dalam kesempitan seperti yang dilakukan oleh Pak Try Sutrisno." Untuk itu, kata Muladi yang juga Ketua DPP Partai Golkar itu, DPR harus tegas dan tidak boleh terbawa tekanan politik yang ada. Menurutnya, DPR harus menjaga segala sesuatu dengan rambu-rambu konstitusi, di samping Mahkamah Konstitusi yang juga harus memantau masalah tersebut. Lemhannas sendiri, katanya, mulai sekarang akan membentuk tim khusus yang akan memantau perkembangan politik sampai 2009 nanti.

Lemhannas, dengan langkah ini bukan bertindak seperti BIN, namun akan mengamati masalah-masalah dan perkembangan sosial politik, bekerja sama dengan lembaga-lembaga lain. "Tetapi tetap independen," kata Muladi yang mantan Menteri Kehakiman di pemerintahan BJ Habibie. Selain itu, Lemhannas memang tidak punya kewenangan apa pun kecuali memberi masukan pada Presiden dan lembaga-lembaga negara lainnya.

Tentang isi pernyataan GKIR, Muladi menilai, sebenarnya jika hanya kritik atau peringatan pada pemerintah adalah sah-sah saja dalam kehidupan demokrasi. "Tetapi kalau orang sudah berbicara impeachment, saya kira belum ada persyaratan yang memenuhi UUD 1945," katanya.

Disebutkannya, persoalan negara ini memang sangat kompleks dan tidak mungkin diselesaikan pemerintah sendiri. "Kenapa bapak-bapak itu tidak duduk bersama-sama Presiden atau menteri-menteri untuk menyelesaikan masalah," katanya. Belum saatnya berbicara atau mewacanakan impeachment, karena memang tidak ada indikasi atau gejala bahwa Presiden melakukan pelanggaran konstitusi. Diakuinya, dari pernyataan Try Sutrisno belum terlihat jelas apa yang dimaksudnya.

Namun dikhawatirkan adanya penumpang gelap yang memanfaatkan situasi dan bisa menimbulkan instabilitas politik. "Pokoknya Lemhannas berpendirian bahwa wacana impeachment belum saatnya dikemukakan, tetapi kritik-kritik konstruktif atau memberikan warning pada Presiden dan jajarannya itu sesuatu yang perlu dihidupkan dan dihargai di ne- gara demokratis ini," katanya.

Tak Berpengaruh

Di tempat terpisah, pengamat politik LIPI, Indria Samego, mengatakan bahwa kritikan mantan Wapres Try Suetrisno tidak akan memiliki pengaruh yang signifikan. "Saya kira itu hanya tataran wacana, dan Pak Try sudah lama menyuarakan hal itu," katanya seperti dikutip Antara. Ia menilai kritikan Try Sutrisno itu tidak memiliki efek yang signifikan karena pencitraan Yudhoyono cukup efektif dan masih memiliki pengaruh yang kuat. Karenanya, kritikan Try Sutrisno-yang mengarah pada ancaman untuk meminta DPR mencabut mandat pemerintahan Yudhoyono-tidak akan dapat menjatuhkan pemerintahan Yudhoyono-Kalla yang dipilih langsung oleh rakyat.

Politik pencitraan Presiden Yudhoyono itu, menurutnya, telah dibangun dengan mengunjungi rakyat secara langsung yang terkena musibah, sehingga memberi kesan sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyatnya. Pendapat serupa juga disampaikan oleh Dewan Direktur Cides, Umar Juoro. Menurutnya, ancaman Try Soetrisno itu tidak mendasar dan terlihat berlebihan. [Y-3]


Last modified: 21/12/06