SUARA PEMBARUAN DAILY

Program Pencegahan HIV dari Ibu ke Bayi Kurang Diperhatikan

[JAKARTA] Perhatian pada program pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi (prevention of mother to child transmission/PMTCT) semakin menurun, bila dilihat dari komitmen dana. Dahulu PMTCT berjalan lancar, sehingga ibu-ibu yang membutuhkan bantuan dapat dibantu, mulai dari biaya persalinan untuk melakukan operasi caesar hingga penyediaan susu formula bayi selama satu tahun. Padahal, PMTCT dapat menurunkan angka terinfeksinya bayi melalui ibu dengan HIV/AIDS.

Hal itu terungkap dalam diskusi yang diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi DKI Jakarta dan Kemitraan Australia-Indonesia yang berlangsung di Jakarta, Rabu (20/12).

Dalam diskusi tersebut hadir Wakil Ketua Yayasan Pelita Ilmu (YPI) Husein Habsyi, NenengYulingsih (Yuli), orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang sukses menjalankan program PMTCT, dan Medical Coordinator Kelompok Studi Khusus (Pokisus) AIDS FKUI-RSCM Evy Yunihastuti.

Dijelaskan Evy, kebanyakan ibu yang mau melahirkan da- tang terlambat. Padahal, ibu hamil yang positif HIV perlu diintervensi.

"Selama proses kehamilan mereka butuh obat antiretroviral profilaksis, dan saat proses kelahiran tidak boleh melalui proses normal karena karakteristik HIV," katanya.

HIV pada tubuh penderita terdapat dalam darah, cairan mani, atau cairan vagina. Bila bayi dilahirkan melalui proses normal, akan terjadi kontak dengan darah ibu atau terkena cairan vagina. Akibatnya, kemungkinan bayi tertular HIV meningkat.

Dana Terhenti

Yuli, ODHA yang mengikuti program PMTCT menceritakan pengalamannya ketika mengikuti program tersebut. Saat itu Yuli sudah hamil tujuh bulan ketika tahu dirinya positif. Hal itu berawal dari suaminya yang sakit dan belakangan diketahui positif HIV, dan akhirnya meninggal sebelum anak keduanya lahir.

"Saya ikut program itu saat hamil tujuh bulan, setelah suami saya meninggal. Ternyata anak saya negatif, meski saya positif," katanya.

Dijelaskan Husein, program PMTCT di Indonesia mulai dijalankan YPI sejak 2003. "Saat itu kita berhasil menjalankan program untuk membantu biaya persalinan mencapai Rp 5-6 juta. Kemudian setelah melahirkan mereka mendapat bantuan Rp 150.000 per bulan selama satu tahun untuk membeli susu. Sejak Juni 2006 dana dari Global Fund itu terhenti, sehingga kami kesulitan membiayai ibu-ibu itu," katanya. [A-22]


Last modified: 20/12/06