![Hashemi Rafsanjani [Foto: AP]](21rafsan.gif)
olitisi kawakan Hashemi Rafsanjani dijagokan sebagai penantang terkuat Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad untuk pemilihan presiden pada 2009 mendatang.
Posisi Rafsanjani kian menguat setelah hasil sejumlah pemilu lokal memperlihatkan ketidakpuasan rakyat Iran terhadap kepemimpinan Ahmadinejad yang cenderung beraliran garis keras.
Pemilihan dewan lokal di sejumlah kota besar dan pedalaman Iran pekan lalu dianggap banyak kalangan sebagai referendum tentang kepemimpinan Presiden Mahmoud Ahmadinejad selama 18 bulan.
Hasil pemilu menunjukkan kemenangan yang cukup meluas di kalangan musuh-musuh politik Ahmadinejad. Kemenangan kelompok konservatif moderat dalam beberapa pemilihan dewan lokal diyakini akan membawa perubahan pada kebijakan Teheran termasuk gaya kepemimpinan Ahmadinejad.
Sejak memegang kekuasaan, Ahmadinejad telah memperpanas konfrontasi Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Barat pada beberapa bidang.
Sikap Ahmadinejad yang bersikeras melanjutkan aktivitas pengayaan uranium dalam program nuklir Iran juga mendorong munculnya ancaman sanksi PBB. Kemarahan komunitas internasional juga timbul akibat komentar-komentar pedas Ahmadinejad tentang Israel, disusul penyelenggaraan konferensi tentang holocaust.
Ahmadinejad menuding isu Holocaust terlampau dibesar-besarkan bagi kepentingan politik Israel itu sendiri.
Surat kabar Jomhuri Eslami dalam editorialnya, Rabu (20/12), menyebutkan, hasil pemilu menunjukkan bahwa sudah saatnya bagi Ahmadinejad untuk bersikap lebih moderat dan memperlunak komentar-komentarnya. Ahmadinejad juga dinilai perlu lebih berkonsentrasi memperbaiki ekonomi Iran.
Kegagalan
Sikap arogan, acuh tak acuh pada kondisi ekonomi rakyat, penghinaan terhadap tokoh-tokoh terhormat, serta adanya kebijakan yang terlampau mengawang-awang disebutkan oleh Jomhuri Eslami sebagai beberapa elemen kegagalan Pemerintahan Ahmadinejad.
Ahmadinejad, yang tidak berkomentar apa-apa terhadap pemilu, merasakan sendiri situasi politik yang memanas saat berpidato di Kermanshah, Selasa (19/12). Ketika berpidato, sejumlah orang di tengah-tengah kerumunan meneriakkan kritikan keras, "Pengangguran adalah problem utama".
Pemilu pekan lalu adalah ajang kembalinya gerakan reformis Iran. Selama lima tahun terakhir, gerakan reformis Iran digilas oleh kelompok garis keras dan tersingkir dari dewan kota, parlemen, hingga kepresidenan. Para reformis selalu berupaya menjalin kedekatan hubungan dengan Barat, khususnya dengan AS.
Namun kemenangan besar dalam pemilu pekan lalu diraih oleh kelompok konservatif moderat yang mendukung rezim ulama. Kelompok ini sangat dikecewakan oleh kepemimpinan Ahmadinejad. Mereka berpendapat, Ahmadinejad seharusnya tidak memprovokasi Barat, mengabaikan reformasi ekonomi, dan membikin kebijakan-kebijakan lain yang mengisolasi Iran.
Para pengamat memperkirakan, bakal terjadi koalisi antara kubu reformis dengan kelompok konservatif moderat untuk melawan Ahmadinejad dan sekutu-sekutu garis kerasnya dalam pemilu parlemen dan pilpres pada 2009.
Spekulasi tentang pembentukan blok politik muncul setelah dua politisi reformis, yakni bekas Presiden Mohammad Khatami dan Mehdi Karroubi, bertemu dengan Rafsanjani pada Minggu (17/12). Rafsanjani selama ini dikenal sebagai petinggi kelompok konservatif moderat. [AP/E-9]