Stabilitas makro ekonomi Indonesia dinilai lebih rentan dari Thailand. Pasalnya, ekspor Indonesia meningkat karena harga internasional yang membaik serta cadangan devisa sebagian besar berasal dari investasi jangka pendek. Oleh karena itu, Pemerintah dan Bank Indonesia jangan terlalu optimistis, agar krisis ekonomi di 1997 tidak terulang lagi tahun ini. Ekonom dari Econit, Hendri Saparini, mengatakan hal itu kepada Pembaruan, Rabu (20/12) malam.
Ia menjelaskan, kasus Thailand mestinya menjadi peringatan bagi Indonesia atas bahaya yang dapat ditimbulkan oleh bubble economy (perekonomian gelembung). Kasus Thailand membuktikan bahwa stabilitas makro ekonomi yang diciptakan oleh faktor eksternal, lebih riskan. Penarikan dana asing langsung merontokkan harga saham dan nilai tukar di Thailand. Kejadian itu merembet ke indikator ekonomi lainnya.
"Stabilitas makro ekonomi Indonesia malah lebih rentan dari Thailand," Hendri mengingatkan.
Ekspor Indonesia meningkat hanya karena harga internasional yang membaik sehingga mendorong beberapa komoditas ekspor meningkat. Di samping itu, cadangan devisa Indonesia sebagian besar berasal dari investasi jangka pendek. Dengan kondisi ini, ekonomi Indonesia dinilai lebih sensitif dibandingkan Thailand.
"Karena itu, pemerintah dan Bank Indonesia tidak perlu mengatakan Indonesia lebih kuat. Ketika krisis 1997, pemerintah juga bersikap sama, terlalu optimistis," kritik Hendri. [L-10]