[MANADO] PT Bank Negara Indonesia Tbk, (BNI) wilayah XI Manado membiayai pembangkit listrik mini yang dikembangkan di beberapa wilayah di Sulawesi Utara. Untuk tahap pertama pembiayaan yang diberikan ke PT Cipta Daya Nusantara sebagai perusahaan yang mengembangkan tenaga listrik tenaga hidrolik dengan kapasitas 3 megawatt di Poigar, Minahasa Selatan.
Wakil Pemimpin Cabang XI Manado, I Ketut Sarbini dalam pertemuan dengan media di Manado, mengatakan, proyek tersebut ditargetkan sudah beroperasi pada Januari 2007.
"Pola pembiayaannya, BNI berpartisipasi 45 persen, selebihnya dari perusahaan," kata Sarbini. Total investasi untuk proyek tersebut mencapai Rp 47 miliar. Dia mengatakan, BNI selanjutnya akan membiayai proyek yang sama senilai Rp 45 miliar di Ranoketang II Tombatu di Minahasa Selatan. "Pembiyaan ini bagian dari partisipasi BNI mengatasi kurangnya pasokan listrik di Indonesia Timur," papar Sarbini.
Sebagai informasi, BNI ditunjuk sebagai pimpinan penyaluran kredit infrastruktur pembangunan pembangkit listrik. Untuk Sulawesi Utara sendiri ke depan membutuhkan tambahan pasokan listrik 35 megawatt.
Selain sektor kelistrikan, BNI wilayah XI juga menyalurkan kredit ke sekor pertanian, perikanan, dan perkebunan. Per November 2006 kredit yang disalurkan mencapai Rp 40,6 miliar atau sekitar 1,2 persen dari total kredit senilai Rp 1,9 triliun. BNI Manado, tambah Sarbini, tahun depan, menargetkan pertumbuhan sebesar 20 persen.
Pemimpin BNI untuk Sentra Kredit Kecil Manado Affan Ando menjelaskan, minimnya kredit ke sektor-sektor pertanian karena risikonya sangat besar. "Sebagian besar NPL BNI Kanwil XI disumbangkan oleh sektor perikanan," ungkapnya.
Kontribusi NPL (kredit bermasalah) ini, karena kenaikan harga bahan bakar minyak beberapa waktu lalu, sehingga banyak nelayan dan industri perikanan di Bitung bangkrut. Daerah tangkapan ikan yang semakin jauh juga membuat biaya produksi meningkat. Di sisi lain, harga ikan tidak naik.
Pemilik cold storage PT Alam Baru Rekor di Bitung, Ade Setiawan menjelaskan, ada sejumlah permasalahan di sektor perikanan. Pertama, banyaknya penyelundupan ikan sehingga pasokan bahan baku yang masuk ke Bitung berkurang drastis. Akibatnya, banyak cold storage beroperasi di bawah kapasitas terpasang. Sehingga, pada akhirnya tidak bisa menutup biaya produksi yang cenderung tetap.
Di sisi lain, banyak bermunculan pesaing yang hanya menggunakan peti kemas sebagai tempat penyimpanan ikan, sehingga biaya bisa ditekan. Kedua, subsidi harga BBM untuk nelayan belum memadai. Ketiga, kurangnya dukungan dari perbankan.
Untuk bisa bertahan, pengusaha cold storage tidak bisa lagi menunggu pasokan ikan dari nelayan, melainkan harus memiliki kapal penangkapan sendiri. Untuk itu, pemda bersama pihak terkait diharapkan bisa menemukan solusi yang lebih komprehensif. [136/B-15]