SUARA PEMBARUAN DAILY

TAJUK RENCANA II

Belajar dari Tragedi Ungu

Musik selalu membuat orang bahagia. Orang dapat saja bahagia karena mendengar musik pop, rock, rock and blues, jazz, klasik, dan sebagainya. Kebutuhan itu kemudian membangkitkan munculnya industri musik untuk merekam lagu-lagu dalam aneka bentuk mulai dari pita sampai compact disc. Akan tetapi orang tidak hanya ingin mendengar. Orang juga ingin menonton penampilan musisi secara langsung. Maka, dibuatlah konser baik di ruang tertutup maupun terbuka. Tujuannya tidak lain untuk menghibur.

Namun dalam praktiknya sering tujuan itu melenceng. Konser yang semula menyenangkan tiba-tiba menjelma menjadi kacau. Masih belum terhapus dari ingatan, ketika Mick Jagger, dedengkot Rolling Stones, pentas di Stadion Utama Jakarta 30 Oktober 1988 pada tur pribadinya. Konsernya berjalan baik, namun di luar stadion penggemar fanatiknya yang tidak bisa menonton secara langsung membuat ulah, merusak sekitar seratus mobil yang diparkir di seputar Stadion Utama Senayan.

Pementasan musisi dalam negeri sering juga diwarnai kekacauan. Ketika Iwan Fals bersama Kantata Takwa tampil di Stadion Utama, polisi merazia penonton yang kedapatan tidak saja sudah mabuk, tetapi juga membawa senjata tajam. Pada 23 Februari 2004 ada 14 orang tewas dan 13 luka-luka seusai menyaksikan pertunjukan grup Sheila On 7 di Stadion Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Saat itu, kelompok musik asal Yogyakarta tersebut sedang berada di puncak ketenaran. Korban jatuh akibat berdesak-desakan saat ingin keluar dari stadion.

Kerusuhan juga terjadi ketika grup musik Slank naik pentas di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta Utara, 25 Desember 2005. Penonton mengamuk, lantas melempar botol dan potongan bambu ke panggung. Sekitar 50 orang terluka.

Dan, kita kembali dikejutkan oleh peristiwa tewasnya sepuluh orang penonton dalam konser kelompok Ungu di Stadion Manggala Krida, Kedung Wuni, Pekalongan, Jawa Tengah, pada 19 Desember 2006. Tragedi terjadi karena penonton berebut untuk keluar seusai konser menonton kelompok musik yang melejit lewat tembang Bayang Semu itu. Pintu keluar hanya satu, dan ribuan penonton berebut untuk cepat keluar lewat pintu tersebut. Maka, tak terhindarkan lagi penonton berdesak-desakan, banyak yang jatuh dan terinjak-injak penonton lainnya. Akibatnya, korban tewas berjatuhan.

Kabarnya, stadion itu hanya mampu menampung enam ribu orang, namun yang datang ke konser sekitar lima belas ribu orang. Tentu saja hal itu membuat udara dalam stadion menjadi pengap dan penonton mengalami kekurangan oksigen.

Kita menyesalkan hal ini terjadi. Pihak penyelenggara seharusnya sejak awal sudah menyadari mengumpulkan ribuan penonton bukanlah tidak mempunyai risiko. Karena itu, perlu manajemen yang dapat mengatur bagaimana ribuan penonton bisa masuk suatu tempat pertunjukan dengan aman dan nyaman. Demikian pun saat mereka pulang. Apalagi pada saat pulang biasanya jumlah ribuan penonton itu biasanya bergerak serempak. Karena itu, panitia penyelenggara seharusnya menyiapkan pintu keluar lebih banyak, lebih lebar agar memudahkan penonton keluar. Bila benar di stadion itu hanya ada satu pintu keluar, maka tak terhindarkan lagi ribuan penonton berebut untuk cepat keluar. Akibatnya, ada yang terinjak-injak dan akhirnya tewas.

Tugas penyelenggara adalah menyiapkan pintu keluar yang cukup banyak dan lebar. Bila betul pintu keluar hanya satu, mestinya penyelenggara membuat pintu keluar tambahan. Panitia penyelenggara bertanggung jawab sampai semua penonton keluar dengan selamat dari tempat pertunjukan.

Karena itu, dalam menyiapkan suatu konser, panitia penyelenggara harus merencanakan pementasan dengan teliti, termasuk jumlah pintu keluar. Kenapa? Karena taruhannya bisa nyawa. Panitia penyelenggara juga harus menghitung betul kapasitas tempat menonton dengan jumlah karcis yang mau dijual. Jangan sampai, penonton yang datang melampaui kapasitas tempat pertunjukan. Polisi hendaknya bisa mengungkapkan kasus ini dan kita juga berharap tragedi ini bisa menjadi pelajaran bagi promotor musik di Tanah Air.


Last modified: 20/12/06