SUARA PEMBARUAN DAILY

Harga Beras Tak Terkendali

Sejumlah pekerja mengemas beras ke dalam karung, di Pasar Induk Cipinang, Jakarta, Selasa (12/12) sore. Harga semua jenis beras di sejumlah toko mengalami kenaikan rata-rata Rp 300 hingga Rp 500 per kilogram. [Pembaruan/YC Kurniantoro]

[YOGYAKARTA] Kenaikan harga beras di sejumlah wilayah dalam dua pekan terakhir semakin tidak terkendali. Semula rata-rata kenaikan Rp 100 hingga Rp 500 per kg, kini kenaikannya mencapai Rp 1.600 per kg.

Seperti yang terjadi Yogyakarta, berdasarkan pantauan Selasa (12/12), beras jenis C4 yang semula Rp 4.400, kini dijual Rp 6.000 per kg. Beras mentik wangi naik dari Rp 5.300 menjadi Rp 6.000 per kg, beras rojolele kualitas nomor satu dari Rp 7.400 menjadi Rp 8.500 per kg, dan beras rojolele kelas dua dari Rp 4.750 menjadi Rp 6.200 per kg.

Kondisi tersebut cukup meresahkan warga Yogyakarta. Sebab, selain harganya yang melonjak, jenis beras kualitas sedang dan rendah juga sudah mulai langka di pasaran.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan DI Yogyakarta Syahbenol Hasibuan menjelaskan, kenaikan harga beras belakangan ini disebabkan petani memasuki musim tanam, sehingga mereka tidak menjual gabah ke pasaran melainkan untuk pembibitan.

Penyebab lainnya adalah faktor psikologis yang biasa terjadi setiap menjelang perayaan hari besar keagamaan, seperti Natal dan Tahun Baru. "Kenaikan itu sudah di luar batas normal, dan memang sebaiknya diadakan operasi pasar. Namun yang berwenang adalah masing-masing kepada daerah, yang diajukan ke gubernur," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul Edy Suharyanto mengungkapkan, petani di wilayahnya terlambat memasuki musim tanam karena sibuk dengan rekonstruksi pascagempa dan kerusakan irigasi yang belum bisa diperbaiki. Kondisi itu membuat petani padi di Bantul kehilangan satu kali musim tanam.

Wilayah lain yang juga mengalami lonjakan harga beras adalah Palu. Beras kualitas menengah, seperti jenis IR-64, IR-42 dan C4 harganya naik hingga Rp 5.000, dari sebelumnya berkisar Rp 4.400 sampai Rp 4.500 per kg.

Kenaikan harga di Palu, juga terjadi untuk sayur-mayur. Harga tomat, misalnya, naik menjadi Rp 6.000 dari Rp 5.000 per kg. Demikian halnya cabai rawit naik menjadi Rp 10.000 dari semula Rp 7.500 per kg, dan cabai merah keriting dari Rp 5.000 naik hingga Rp 8.000 per kg.

Kepala Divisi Regional Bulog Sulawesi Tengah Usep Karyana mengatakan, instansinya masih menunggu surat perintah Gubernur Sulteng untuk menggelar operasi pasar, khususnya beras.

Di Medan, kenaikan harga beras untuk semua jenis dalam sepekan terakhir mencapai rata-rata Rp 100 hingga Rp 500 per kg. Meski demikian, pemerintah setempat merasa belum perlu menggelar operasi pasar (OP) untuk meredam naiknya harga beras.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Sumatera Utara, Bintara Tahir, akhir Desember mendatang, panen akan kembali terjadi di sejumlah wilayah. "Kalau sekarang, stok beras masih aman untuk dua tiga bulan mendatang. Akhir Desember nanti sudah panen, jadi belum ada alasan agar pemerintah melakukan operasi pasar," katanya.

Sementara di Padang, kenaikan harga beras mencapai rata-rata Rp 500 per gantang (1 gantang setara 3,125 kg). Naiknya harga beras itu juga diikuti kenaikan harga sayur-mayur. Seperti harga cabai, dari semula Rp 16.000, naik menjadi Rp 22.000, dan dalam sepekan kembali melonjak menjadi Rp 28.000 per kg.

Di Kediri, Jawa Timur, kenaikan harga beras mencapai rata-rata Rp 600 hingga Rp 800 per kg. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Kediri telah menyiapkan 100 ton beras untuk OP. Sedangkan di Bengkulu, kenaikan harga beras berkisar Rp 500 hingga Rp 1.000 per kg.

Operasi Pasar

Terkait dengan kesiapan menggelar OP, Menteri Pertanian Anton Apriyantono, Rabu (13/12), menegaskan, pemerintah pusat akan memasok berapa pun jumlah beras yang diminta pemerintah daerah. Hal itu untuk menahan laju kenaikan harga beras yang makin tidak terkendali.

"Selama Desember 2006 sampai Januari 2007, jumlah konsumsi beras lebih besar dari produksi. Akibatnya, ada kekurangan pasokan sehingga harganya naik. Namun, masyarakat tidak perlu khawatir karena stok beras pemerintah cukup untuk OP," ucapnya.

Dia mengatakan, pemerintah telah mengizinkan impor beras sebanyak 210.000 ton dari Vietnam yang sudah masuk ke daerah-daerah yang defisit beras. Beras impor itu disimpan di gudang Bulog. Selain untuk program beras masyarakat miskin (raskin), juga dicadangkan untuk OP dan bencana alam. [152/128/151/BO/S-26/029/143/149]


Last modified: 13/12/06