
Rita Subowo (kanan depan) berpose bersama dengan para peraih medali dari cabang voli pantai putri Asian Games XV. [Pembaruan/Bernadus Wijayaka]
INDONESIA hanya dapat membawa pulang satu medali dari cabang bola voli pantai di Asian Games XV, yakni perunggu melalui tim putra Agus Salim/Supriadi setelah mengalahkan rekan satu Pelatnas mereka, Andy Ardiansyah/Koko Prasetyo. Kedua andalan Indonesia itu sebenarnya mempunyai peluang untuk melaju ke final. Sayang, keberuntungan menjadi milik dua tim China yang mengalahkan tim Indonesia di semifinal. Melesetlah target medali emas.
Di bagian putri, Indonesia tidak mengirim satu pun wakilnya karena kualitas pemain yang ada saat ini, belum memungkinkan untuk diterjunkan di pentas bangsa-bangsa Asia tersebut. Kalau pun diterjunkan, mereka dipandang belum mempunyai peluang untuk mendapatkan medali.
Podium hanya ditempati dua negara, emas direbut tim China, perak diraih Jepang, dan perunggu dimiliki tim China lainnya. Sebenarnya, ada satu wakil Indonesia yang tampak di podium, bukan menjadi atlet tentunya tetapi sebagai pemberi medali, yaitu Rita Subowo. Rita, yang juga bekas Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PP PBVSI) itu mewakili OCA (Komite Olimpiade Asia). Rita merupakan salah satu wakil presiden OCA.
"Saya ingin sekali mengalungi medali kepada anak-anak sendiri (tim Indonesia). Saat ini, saya hanya bisa bermimpi melakukan itu. Karena itu, kita harus bangun, bangkit, dan membangun tim hebat. Kalau sudah begitu, kita tidak mimpi lagi," kata Rita, yang juga menjabat sebagai Ketua Bola Voli Pantai Asia ini.
Karena kualitas pemain putri sekarang ini belum memuaskan, Indonesia hanya konsentrasi mengirim pemain putranya ke beberapa seri dunia. Tahun ini, mereka mengikuti empat seri dunia dari 12 seri yang digelar. Jumlah yang diikuti tim Indonesia itu jauh lebih sedikit dibanding tim putra China yang tampil penuh seluruh seri.
"Ke depan kita tidak bisa terus-menerus hanya mengirim tim putra ke tur dunia. Tim putri harus ditampilkan juga ke kejuaraan dunia juga, tentu mereka harus berlaga di Asia dulu sehingga tidak kaget," kata Rita yang menjadi ketua kehormatan di PP PBVSI.
Rita juga mengadakan diskusi dengan pelatih asal Australia Steve Andersen untuk memajukan voli pantai. Dalam diskusi itu, Andersen juga menyarankan agar tim putri diberi kesempatan untuk bertanding di luar negeri. Untuk pengiriman atlet ke luar negeri PBVSI tentu saja harus mendapat pemain berbakat. Andersen juga berharap, PBVSI mengirim pemain ke tur dunia secara rutin dalam setiap tahun. Tanpa tampil di tur dunia, mustahil pemain itu akan matang dan mampu bersaing di internasional.
Menurut Rita, mengutip Andersen, peluang tim putri untuk berprestasi sebenarnya lebih terbuka karena persaingannya tidak seketat tim putra. "Kita sebenarnya ada pemain putri yang berbakat, seperti Devota (Rahawarin) dan juga ada pemain yang saya datangkan dari Papua yang lumayan tinggi. Mereka masih muda. Mereka harus kita maksimalkan," ujarnya.
Dalam sejarah voli pantai Tanah Air, Indonesia baru melahirkan satu tim tangguh, yakni Engelbertha Kaize dan Ni Putu Timy Yudhani Rahayu yang menjadi tim pertama yang tampil di Olimpiade 1996 Atlanta, AS. Setelah itu, belum ada lagi tim setangguh mereka.
Rita berharap, PBVSI akan melakukan berbagai terobosan untuk mencari bibit pemain voli pantai. Diharapkan, mulai tahun depan akan ada Liga Bola Voli Pantai yang melibatkan negara-negara Asia. Di tingkat nasional pun, turnamen harus rutin dilaksanakan. "Kalau kompetisi berjalan dengan baik, dengan sendiri akan lahir pemain, tentu saja harus dibarengi dengan pembinaan yang benar," ujarnya. [W-11]