SUARA PEMBARUAN DAILY

Konflik Horizontal Tak Selalu Bersumber Agama

Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi (kiri), bertemu Ketua Dewan Keamanan Nasional (NSC) Thailand, Prakit Prachonpachanuk (tengah), dan Dubes Thailand untuk Indonesia Atchara Seriputra (kanan), Di Kantor PBNU, Jakarta, Selasa (12/12). Pertemuan antara PBNU dan Dewan Keamanan Nasional Thailand ini membahas kehidupan beragama di Indonesia, dan memberikan masukan terkait konflik di kawasan Thailand Selatan. [Pembaruan/Ruht Semiono]

[JAKARTA] Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi menegaskan, konflik horizontal yang dalam beberapa waktu belakangan ini kerap terjadi tidak selalu bersumber dari persoalan keagamaan. Pihak-pihak yang berkepentingan dengan adanya konflik sering memakai agama untuk memanaskan dan mengadudomba antarkelompok agama.

"Adakalanya konflik disebabkan oleh kemiskinan atau pendidikan masyarakat yang rendah. Makanya kita perlu mencari akar permasalahan sebelum mengatakan bahwa ini konflik agama," kata Hasyim di hadapan para tamu dari Dewan Keamanan Nasional Thailand saat berkunjung ke gedung PBNU, Jakarta, Selasa (12/12).

Rombongan dari Thailand yang dipimpin Ketua Dewan Keamanan Nasional Thailand Prakit Prachonpachanuk dan Duta Besar Thailand untuk Indonesia Audchara Scribut bermaksud mengkonsultasikan beberapa hal terkait konflik berkepanjangan di wilayah Thailand bagian selatan yang melibatkan umat Islam.

Pendekatan militer tidak akan menyelesaikan masalah. Faktor masyarakat menjadi penting dalam melerai berbagai konflik. Pemerintah perlu melibatkan para tokoh agama setempat untuk memberikan pemahaman beragama yang benar kepada masyarakat. Pemerintah Thailand tidak perlu berhadapan secara militeristik dengan masyarakat yang berkonflik. "Jadi perlu meluruskan kembali kesalahpahaman antara pemerintah (militer) dengan masyarakat setempat," katanya.

Sementara itu, aktivis Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU, Khamami Zada saat menjadi nara sumber pada diskusi dan bedah jurnal Taswirul Afkar di sela-sela Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) menegaskan, sudah bukan saatnya lagi NU untuk selalu mengalah.

"Oleh karenanya, warga nahdliyin dituntut berani melawan jika ada pihak-pihak yang berupaya "mengganggu" NU, termasuk terhadap kelompok atau gerakan Islam radikal yang bermunculan belakangan ini," ujarnya dalam situs resmi PBNU. [E-5]


Last modified: 13/12/06