SUARA PEMBARUAN DAILY

Indonesia Belum Ubah Strategi Pencegahan HIV/AIDS

[JAKARTA] Hasil penelitian para ahli di Kenya yang menunjukkan pengidap HIV/AIDS yang menderita malaria berpeluang besar menularkan HIV, ternyata belum tersebar secara luas.

Dengan demikian belum diketahui apakah akan ada perubahan strategi penanggulangan penularan HIV/AIDS di Indonesia.

Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan I Nyoman Kandun kepada Pembaruan di Jakarta, Senin (11/12), pihaknya belum menerima informasi tersebut. "Saya belum mengetahui kalau malaria akan memudahkan penularan HIV. Saat ini kita masih berpegangan bahwa penularan HIV melalui hubungan seksual dan penggunaan jarum suntik bergantian," katanya.

Dengan memperhatikan kedua hal tersebut, hal yang ditempuh untuk menekan angka penularan HIV adalah pendekatan mengubah perilaku. Dengan melakukan pendekatan mengubah kebiasaan, diharapkan akan terjadi pemutusan mata rantai.

Dia mengakui bahwa penyakit malaria masih menjadi endemik di beberapa wilayah Indonesia seperti Papua, di mana wilayah Papua juga banyak ditemukan kasus HIV/ AIDS.

Secara terpisah, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nafsiah Mboi juga menyatakan hal yang sama. Menurut dia, informasi terbaru itu belum diketahui dengan luas sehingga sulit untuk memberi komentar. Saat ini salah satu fokus KPA selain mencegah penularan HIV/AIDS adalah menyadarkan kalangan kesehatan mengenai infeksi oportunistik pada ODHA sehingga angka kematian mereka bisa diturunkan.

"Penanganan HIV/AIDS tidak bisa dilepaskan dari promosi hidup sehat. Seorang penderita AIDS, mendapatkan pengobatan infeksi harus dobel. Antiretroviral harus digandeng dengan pengobatan tuberkulosis (TB) kalau dia terkena TB, sekaligus peningkatan gizi, karena itu, pada tahun 2007 diharapkan pelatihan untuk para dokter dan petugas kesehatan lain harus ditingkatkan," katanya.

Waspada

Sementara itu, Ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia, Zubairi Djoerban, menyebutkan bahwa studi tentang kaitan antara HIV pada penderita malaria masih memerlukan studi endemi yang kuat. "Masih belum kuat, tetapi kita perlu waspada karena penderita tuberkulosis dan malaria di Indonesia masih banyak," katanya di sela-sela seminar "Pencegahan AIDS pada Ibu dan Bayi" yang diselenggarakan Masyarakat Peduli AIDS Indonesia.

Dikatakan, kesimpulan mengenai malaria meningkatkan perkembangbiakan virus HIV dalam tubuh seseorang dinilai masih belum kuat kajian endeminya, sehingga belum bisa dipastikan. Namun begitu kewaspadaan untuk mencegah penyebaran tetap dilakukan, tidak hanya pada penderita malaria, tetapi pada semua orang.

Selama ini diketahui virus HIV berkembang lima kali lebih cepat pada penderita tuberkulosis. Kemudian sebuah penelitian yang dilakukan di Afrika juga menyimpulkan HIV juga berkembang lebih cepat pada penderita malaria. Dikaitkan dengan kondisi Indonesia yang masih banyak penderita tuberkulosis dan malaria, dikhawatirkan penyebaran HIV di Indonesia semakin tinggi.

"Pemerintah perlu menyediakan lebih banyak obat antiretroviral dan susu formula untuk pencegahan pada bayi, serta melakukan tes pada sejumlah bayi yang orangtuanya mengidap HIV," katanya. [A-22/K-11]


Last modified: 12/12/06