SUARA PEMBARUAN DAILY

Wapres: Pendidikan Tak Mungkin Gratis

[YOGYAKARTA] Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla mengatakan, mengingat persaingan dunia pendidikan di masa datang semakin kompetitif dan ketat. Dalam persaingan itu, tidak mungkin penyelenggaraan pendidikan dilakukan secara gratis.

Penegasan itu dilontarkan Wapres Jusuf Kalla ketika membuka Kongres XIX Persatuan Tamansiswa dan Kongres XVIII Wanita Tamansiswa di Gedung Agung, Yogyakarta, Selasa (12/12). Meski hanya kecil, kata Wapres, masyarakat harus tetap dimintai partisipasinya dengan harapan masyarakat bisa menunjukkan tanggung jawabnya.

Pendidikan, lanjut Wapres, sangat penting karena tidak ada satu pun bangsa yang bisa maju tanpa pendidikan. Namun pertumbuhan suatu bangsa itu juga ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, sementara pertumbuhan ekonomi sendiri, ditentukan di kemajuan teknologi.

Sedangkan kemajuan teknologi itu sendiri sangat tergantung pada seberapa besar suatu bangsa menguasai ilmu dan teknologi. "Semua itu tidak mungkin diwujudkan tanpa melalui pendidikan yang baik dan profesional," ujar Wapres.

Dalam kesempatan tersebut, Wapres menyatakan, nilai-nilai luhur yang ditanamkan Tamansiswa, baru menyentuh tataran masyarakat kurang mampu, sebab lembaga pendidikan Tamansiswa selama ini hanya berorientasi pada mendidik rakyat miskin.

"Nilai luhur sebenarnya dibutuhkan semua golongan, dari masyarakat bawah hingga atas. Sekarang ini terjadi lunturnya budi pekerti, mengalami kekosongan nilai, etika dan moralitas sudah mencair," ucapnya.

Wapres mengatakan, sebagaimana lembaga pendidikan swasta lainnya seperti Muhammadiyah, NU maupun Katolik atau Kristen, Tamansiswa juga memiliki ciri tersendiri, yaitu pada ajaran nilai luhurnya dan telah memberikan andil yang luar biasa bagi Indonesia. Tamansiswa sejak dulu dikenal sebagai tulang punggung pendidikan masyarakat yang kurang mampu.

"Kini saatnya, masyarakat yang mampu pun sangat membutuhkan sentuhan nilai luhur. Banyak orang yang membayar mahal untuk mendapatkan nilai-nilai luhur itu," kata Jusuf Kalla didampingi sejum- lah menteri seperti Mendiknas Bambang Sudibyo, Menteri Pekerjaan Umum Ir Djoko Kirmanto, Menteri Pemberdayaan Perempuan Dr Meuthia Farida Hatta.

Wapres menambahkan, saat ini justru banyak orang mampu yang mengalami kekosongan nilai. Tamansiswa diharap bisa mengambil peran ini dan menyebarkan nilai-nilai luhur, budi pekerti dan keagamaan. Jusuf Kalla juga mengharapkan pengurus Majelis Tamansiawa tetap mempertahankan ajaran Ki Hadjar Dewantara yang menunjung tinggi pelajaran Budi Pekerti yang hingga kini masih diajarkan di berbagai sekolahan di lingkungan Perguruan Tamansiswa.

Sementara Sultan HB X secara singkat mengatakan, pendidikan merupakan proses yang tak kunjung usai sepanjang hayat, sesuai tema kongres "Mengabdi Rakyat Sepanjang Hayat'', yang berhubungan dengan konsep long life education, menyatukan antara pendidikan dengan proses kehidupan.

Sedangkan Menteri Pemberdayaan Perempuan Prof Dr Meuthia Farida Hatta dalam sambutannya di depan peserta sidang Kongres XVIII Wanita Tamansiswa di Gedung Dewantara UST mengatakan, organisasi Wanita Tamansiswa mengambil peran yang begitu penting dalam sejarah Indonesia. Kongres kali ini yang mengambil tema ''Mengoptimalkan Peran Keluarga Dalam Mendidik Generasi Muda'' menunjukkan adanya tekad memperkokoh persatuan bangsa lewat unit terkecil dalam sebuah negara yaitu keluarga. [152]


Last modified: 12/12/06