SUARA PEMBARUAN DAILY

The global nexus

Paus, UE, dan Migrasi Global

Christianto Wibisono

Kunjungan bersejarah Paus Benedict XVI ke Turki di samping merupakan sikap kooperatif terhadap Islam juga rekonsiliasi internal terhadap kutub Kristen Ortodox yang terpecah dari Vatikan sejak 1054. Turki sangat mendambakan masuk ke Uni Eropa (UE) karena migrasi penduduk Turki ke Jerman dan Eropa menjadi sumber devisa utama.

Pemimpin Libya Moammar Khadafy yang berdiam diri setelah rujuk dengan AS, mulai berbicara. Ia menuntut free flow of human resources, arus migrasi harus bebas hambatan. Negara merupakan batasan bikin manusia, sedang tantangan dan kebutuhan hidup menyebabkan arus migrasi yang tidak mungkin dihambat tanpa resiko konflik fisik.

Sejak zaman dahulu, rakyat sudah melakukan voting dengan mengangkat kaki, bedol desa pindah ke kerajaan lain bila ditindas atau tidak bisa mencari nafkah di negara asal. Itulah fenomena historis migrasi sepanjang masa dan berlaku universal untuk segala bangsa.

Fenomena ini secara kuantitatif dan kualitatif berubah karena faktor transportasi yang membuat dunia ciut dan batasan negara, bahkan lautan sekalipun bisa dilampaui.

Joel Kotkyn menulis fenomena suksesnya Anglo Saxon dan imigran minoritas dalam Tribes. Amy Chua dalam World on Fire menyebut kebangkitan "mayoritas Indian" menentang dominasi elite warisan kolonialisme Spanyol Portugal di Amerika Latin.

Calon presiden dari pelbagai Negara Amerika Latin selalu menang dengan kembali mengeksploitasi sentimen "nativity and indigenous" serta emosi anti hegemoni dan dominasi AS.

Rakyat mudah terbuai gejolak emosi dan memilih capres populis tersebut secara antusias. Masalah berlarut ketika mereka gagal mewujudkan janji kampanye. Karena struktur dan sistem politik nondemokratis, feodal, mental war lord, otoriter dan gagalnya Trias Politika serta institusi sosial politik yang menjamin dan menghormati HAM, hak milik dan pengembangan kreativitas.

Karena itu, walaupun sudah merdeka lebih dari 200 tahun Amerika Latin sangat jauh ketinggalan dari Amerika Utara. Buku Guillermo Yeatts dari Argentina The Roots of Poverty in Latin America dan Alvaro Vargas Llosa dari Peru putra pemenang Nobel Sastra Mario Vargas Llosa, Liberty for Latin America How to undo 500 years of State Oppression mengulas kegagalan Amerika Latin dengan semangat mawas diri yang konstruktif.

Migrasi

Ketidakmampuan Amerika Latin memberi nafkah hingga penduduknya harus bermigrasi ke AS dan menjadi kontributor ekonomi negara asal yang signifikan. Arus migrasi sekarang berasal dari Dunia Ketiga masuk ke Eropa dan Amerika Utara serta Australia. Arus migrasi ini menurut Khadafi maupun pemimpin Amerika Latin merupakan gejala alamiah yang tidak bisa dibendung oleh petugas imigrasi atau tembok besar Texas Mexico yang sedang dibangun.

Masalah umat manusia sebetulnya bisa lebih diatasi bila semua pihak sepakat untuk mengakui dan menghormati kompetisi damai, supremasi hukum dan HAM serta hak milik yang universal.

Jika manusia tidak menghormati HAM dan hak milik manusia lain serta terjebak pada hukum rimba, balas dendam atau bergilir berkuasa hanya untuk saling membantai. Maka masyarakat dan bangsa itu tidak akan pernah mampu menciptakan bangsa yang berkualitas dan berkinerja optimal.

Rezim politik bisa silih berganti dari ekstrem kiri Marxisme Leninisme sampai ekstrem kanan junta militer atau teokrasi fanatik. Tapi ketiga rezim itu pasti akan terjebak pada absolutisme kekuasaan yang korup dan negara-bangsa itu akan mengalami keterpurukan berkelanjutan.

Masalah mendasar lain ialah bagaimana mengubah mentalitas hukum rimba dan dendam kesumat dalam mengangkat harkat dan martabat 3 miliar manusia dari kemiskinan.

Semua pidato tentang statistik 3 miliar manusia hidup antara US$ 1-2 sehari tidak mungkin diatasi dengan demagogi, retorika apalagi terorisme. Apakah manusia yang "gagal" selalu harus jadi pembunuh dari manusia yang "sukses".

Apakah tidak mungkin bagi masyarakat untuk berkiprah mengangkat yang "gagal" agar bisa naik kelas menjadi kelas menengah yang bisa berperanan. Serta mempunyai "stake" dalam masyarakat sehingga tidak mudah membenci sesama dan melakukan bunuh diri sosial.

Eropa Barat dan AS serta Jepang berhasil mengentaskan rakyat ketaraf kelas menengah dengan sistim Trias Politika, HAM dan demokrasi. Mereka mencapai melalui tahapan bunuh membunuh guillotine di Prancis dan Eropa zaman monarki absolut.

Rekonsiliasi Paus ke Turki dan fenomena migrasi global memerlukan kearifan manusia terutama elite-nya untuk tidak lagi mudah terjebak pada perang sabil, perang salib dan balas dendam. Sejarah membuktikan kalau rakyat tidak memperoleh nafkah maka mereka akan berontak atau bermigrasi.

Dunia akan tetap terpecah dalam kemelaratan dan kesejahteraan karena moral yang tidak menghargai kebenaran dan keadilan tapi terlanjur merosot jadi moral yang apriori membenci kelompok sejahtera.

Sistem Politik

Kalau sistem politik negara yang sukses memberi nafkah kepada imigran diganti dengan rezim Dunia Ketiga, apakah akan tetap menjadi kiblat dan idaman para imigran? Kalau sistem politik AS dan Eropa harus mengakomodasi nilai feudal warlord kleptokrat Dunia Ketiga, apa mereka akan survive dan sukses mempertahankan tingkat kesejahteraan mereka? Imigran lari dari negara asal untuk memperoleh penghidupan yang lebih baik, bukan untuk mengulangi kegagalan rezim Dunia Ketiga, di tempat tujuan migrasi.

Menghadapi Turki, Uni Eropa memang bersikap mendua walaupun AS justru mendu-kung penuh masuknya Turki dalam UE.

Masalah besar Eropa dan juga AS ialah sikap para imigran terhadap sistem sosial politik di Negara tuan rumah. Jika imigran Timur Tengah dan imigran Amerika Latin tidak bisa berintegrasi kedalam sistem Anglo Saxon atau sistem Kontinental Eropa maka akan terjadi suatu anomali. Para imigran meninggalkan Amerika Latin ke California untuk menikmati sistem sosial politik yang mampu menciptakan lapangan kerja.

Begitu pula imigran dari Afrika Utara dan Timur Tengah ingin menikmati sistem sosial politik ekonomi Eropa yang sukses melahirkan negara kesejahteraan dengan konsekuensi fiskalnya. Jika para imigran itu karena hasutan primordialisme dan cabalisme malah ingin mengganti rezim demokratis Eropa Barat dan AS dengan rezim otoriter kleptokrat Dunia Ketiga, apakah rezim seperti itu akan tetap sukses menciptakan kesejahteraan bagi penduduknya termasuk para migrant?

Inilah substansi masalah dibalik diplomasi dan retorika tentang migrasi, terorisme dan konflik peradaban. Kunjungan Paus diharap merupakan awal tumbuhnya moral yang universal dalam menyikapi akar masalah migrasi, terorisme dan penyelamatan manusia dari demagogi destruktif.

Penulis adalah pengamat masalah internasional


Last modified: 4/12/06