Langit di sekitar Pantai Yahim, Jayapura, tampak cerah. Dari arah danau terlihat beberapa perahu sedang menepi. Tak jauh di tepi pantai, ada sebuah dermaga kecil tempat pendaratan perahu motor warga Pantai Yahim dan masyarakat kampung bersandar. Mereka menyebutnya Dermaga Yahim.
Beberapa bangunan di sekitar dermaga itu dimanfaatkan warga untuk berteduh atau beristirahat sejenak sebelum atau sesudah bepergian. Dekat bibir pantai, ada sebuah jembatan kayu yang sudah lapuk. Warga harus ekstra hati-hati agar tidak terjatuh ke danau. Walaupun kondisi jembatan telah rusak parah, hal itu tidak menjadi halangan warga bepergian.
Dari sekitar dermaga, orang dapat menyaksikan rumah adat masyarakat Sentani. Konstruksinya sederhana. Atapnya menjulang tinggi menyerupai kerucut, tanpa dinding dan hanya terlihat tiang-tiang penyangga saja.
Bentuk bangunan itu bulat dan tidak terlalu luas. Di sanalah, Yayasan Danau Sentani menggelar pembukaan Pergelaran Festival Seni Budaya Sentani Tahun 2006, pada Senin, 25 September lalu.
Kepada Pembaruan, baru-baru ini, penyelenggara Festival Seni Budaya Sentani, Heronimus Taime mengatakan, seni dan budaya merupakan kekayaan daerah yang harus diselamatkan dan dilestarikan. Apalagi saat ini, arus informasi dan teknologi komunikasi yang demikian cepat dapat membawa banyak perubahan. Bukan mustahil, globalisasi membuat kehidupan masyarakat Sentani jauh tercerabut dari akar budaya.
Generasi muda yang lahir pada sekitar tahun 70-an hingga tahun 90-an sudah sangat tidak memahami makna, peran, dan fungsi adat istiadat. Di sisi lain, proses pembelajaran dan pemahaman terhadap nilai-nilai budaya tersebut juga tidak diaplikasi secara baik dalam keluarga. Akibatnya, nilai-nilai luhur seni dan budaya yang sesungguhnya dapat menjadi filter terhadap nilai-nilai asing justru memudar terlindas derasnya globalisasi informasi.
Untuk itu, tambahnya, agar nilai-nilai adat dan budaya, seni suku-suku di sekitar kawasan Danau Sentani tidak ikut memudar di makan zaman, festival Seni Budaya Sentani perlu diselenggarakan. Tujuan penyelenggaraan festifal adalah untuk menggali dan melestarikan nilai-nilai luhur yang masih tertinggal dan belum diangkat ke permukaan sebagai potensi lokal yang dapat memberi nilai tambah bagi masyarakat. Potensi ini harus dilihat sebagai potensi pariwisata yang harus dikembangkan sehingga Kabupaten Jayapura dapat dijadikan sebagai daerah tujuan wisata.
Daya Saing
Selain menggali potensi lokal, pihaknya juga berupaya meningkatkan daya saing masyarakat dan daerah melalui kreativitas seni dan budaya Sentani sehingga dapat menopang masyarakat menuju kemandirian. Kegiatan yang diselenggarakan sepekan itu untuk mencegah degradasi nilai-nilai seni dan budaya lokal akibat pengaruh globalisasi informasi dan teknologi, di samping sebagai upaya menciptakan lapangan kerja baru melalui seni dan budaya dalam rangka peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat
Kegiatan yang dipusatkan di dermaga Pantai Yahim Sentani, itu diselenggarkan umumnya pada sore hari sejak 23-29 September 2006 dengan melibatkan kampung-kampung yang tersebar di kawasan Danau Sentani. Materi yang diperlombakan adalah lomba dayung tradisional untuk kategori perorangan, dua orang dan tujuh orang atau beregu. Selain itu, ada juga pertunjukan lagu-lagu daerah berbahasa Sentani, tari-tarian tradisional, seni ukir serta gelar masakan khas Sentani.
Hanya sedikit orang yang tahu kalau di Kampung Asei, sebuah pulau kecil di tengah Danau Sentani menyimpan para seniman lukis berbakat dan potensial. Para seniman itu melukis di atas kulit kayu. Umumnya lukisan itu bermotifkan ukiran-ukiran yang memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Sentani.
Melalui momentum festival tersebut, dia bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam Yayasan Danau Sentani (YDS) akan berupaya menampilkan potensi daerah Sentani ke publik agar dikenal. Untuk tahun-tahun selanjutnya, YDS akan bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Jayapura mengemas kegiatan-kegiatan seperti ini dalam paket acara daerah yang direncanakan akan digelar setiap tahun.
Festival Danau Sentani diharapkan dapat menjadi objek wisata yang menarik. Kelak bukan mustahil, festival dapat meningkatkan pendapatan bagi masyarakat. "Kita berupaya supaya mereka dapat hidup mandiri dari potensi yang dimiliki sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pemerintah," paparnya. [Pembaruan/Gabriel Maniagasi]