Untuk sebagian masyarakat Papua, sagu tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Sagu telah menjadi makanan pokok yang harus selalu ada. Di Papua, malah ada ungkapan "kalau belum makan sagu, berarti masih ada yang kurang".
Pameo itu mungkin terdengar seperti guyonan. Tetapi sesungguhnya hal itu menyiratkan sagu memang tidak bisa dilepas dari keseharian masyarakat Papua. Hampir sebagian besar suku yang mendiami pesisir pantai baik di bagian utara maupun selatan Tanah Papua bergantung sagu sebagai makanan pokok.
Sagu telah menjadi sumber makanan pokok yang memiliki kandungan karbohidrat tertinggi, yakni 85,9 gram per 100 gram. Kandungan karbohidrat sagu paling tinggi dibandingkan beras yang hanya mengandung 80,4 gram per 100 gram atau jagung (71,7 gram per 100 gram), ubi kayu (28,7 gram per 100 gram) dan kentang yang hanya 23,7 gram per 100gram.
Meskipun potensi sumber daya sagu di Papua dinilai sangat besar, tidak dapat disangkal bahwa luas hutan sagu yang tersebar itu belum dimanfaatkan secara optimal. Diperkirakan 3,6 juta hingga 19,2 juta ton per tahun pati kering yang sesungguhnya bisa dihasilkan dari hutan sagu di Papua hilang percuma karena tidak dimanfaatkan.
Kabupaten Waropen tampaknya memiliki potensi tanaman sagu yang tidak bisa diabaikan. Dari hasil penelitian Universitas Negeri Papua, pesisir Kabupaten Waropen memendam potensi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber makanan baru karena hampir sebagian besar wilayahnya ditumbuhi hutan sagu alami dengan luasan 225.482,15 ha.
Sementara itu, hasil interpretasi Citra Landsat, diperkirakan hampir 21,29 persen dari luas hutan sagu alam di Papua seluas 1.200.000 ha, Kabupaten Waropen memiliki sedikitnya 4-5 varietas dari 27 varietas yang dijumpai di seluruh Tanah Papua. Bahkan, kerapatan varietas tingkat pohon masih lebih tinggi yang dimiliki Kabupaten Waropen, yakni sebanyak 125 batang per ha. Jumlah itu cukup tinggi dibandingkan daerah lain di Papua yang hanya mencapai 68 pohon per ha dengan tingkat variasi antara 15 - 68 batang per ha.
Di sisi lain, produksi pati kering per batang untuk Kabupaten Waropen telah mencapai 76-401 kg per batang. Jumlah itu jauh lebih banyak dibanding Papua yang hanya sebesar 38-437 kg per batang.
Sementara, produksi pati kering untuk luasan hutan sagu di Kabupaten Waropen tercatat sebesar 1,32 ton - 6,96 juta ton per tahun. Namun jumlah itu masih sangat kecil perbedaannya jika dibanding dengan jumlah produksi pati kering per ha per tahun yang dihasilkan di seluruh provinsi Papua yang hanya sebesar 5,16 juta ton per tahun.
Potensi Kabupaten Waropen tersebut menyebabkan pemda bersama Universitas Negeri Papua, Manokwari dan Yayasan Sagu Swaka Alam, pimpinan J Abrawi - Maniagasi, belum lama ini melakukan pertemuan di Manokwari untuk membahas peluang-peluang tersebut.
Direkomendasikan, hutan sagu alam di Kabupaten Waropen perlu direhabilitasi, dan dijadikan perkebunan sagu. Kelak produksi per satuan luas dapat ditingkatkan dari sebelumnya. Selain itu, pemerintah Kabupaten Waropen harus segera melakukan tindakan-tindakan agronomis, seperti melakukan penjarangan tanaman bagi pertanaman dengan kerapatan tinggi dan pengayaan dengan varietas-varietas unggul (enrichment planting).
Diharapkan pula, pemerintah bersama mitra jaringannya dapat melakukan kajian-kajian tentang pemanfaatan sagu sebagai sumber energi baru. Misalnya pemanfaatan nipah sagu sebagai bahan baku etanol, atau plastik yang mudah terurai dan kajian-kajian lainnya untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat.
Tripatrit
Pertemuan tripatrit itu merekomendasikan pula penanaman investasi untuk mendorong berdirinya industri-industri berbasis sagu di Kabupaten Waropen. Diharapkan, potensi pati sagu dapat dikembangkan untuk pembuatan etanol sebagai salah satu sumber bahan bakar alternatif masa depan, alias sumber energi baru.
Direktur Yayasan Sagu Swaka Alam, J Abrawi - Maniagasi, kepada Pembaruan, belum lama ini di Jayapura mengatakan, selain etanol dari tebu dan singkong maka ada sagu (Metroxilon Sagu) sebagai energi alternatif. Apalagi Indonesia mempunyai 64 persen dari sagu dunia, yaitu 1.398.000 ha
Sementara di Papua terdapat 1.200.000 ha sagu, nipah (Nypa Fruticans) dan lontar siwalan (Borassus Sundaicus) yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif.
Apalagi saat ini pemerintah sedang mengalihkan perhatian dari pemanfaatan energi migas ke upaya penemuan dan pemanfaatan energi alternatif yang bersumber dari bahan nabati (biofuel), yakni etanol dari bahan tebu dan singkong, serta energi biodiesel dari bahan kelapa sawit dan jarak.
Atas dasar itu, Yayasan Sagu Swaka Alam memandang bahwa selain bahan dari tebu, singkong dan kelapa sawit sesungguhnya ada sagu dan nipah yang persebarannya di Papua cukup berlimpah.
Menurut Abrawi, cadangan minyak bumi di Indonesia semakin menipis, sementara kebutuhan masyarakat akan minyak bumi dalam negeri semakin meningkat setiap tahun. Kesenjangan itu berdampak pada keterpaksaan pemerintah untuk mengimpor minyak bumi. Padahal, harga minyak bumi dunia terus meningkat dan berdampak pada pembiayaan APBN serta menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.
Untuk itu, penghematan dan pemanfaatan energi sangat ditekankan dan kebutuhan energi alternatif menjadi pilihan Indonesia untuk masa depan. Apalagi potensi sumber daya alam (SDA) Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.000 pulau yang terletak di daerah khatulistiwa yang tanahnya cukup subur. Apalagi Indonesia merupakan negara biodiversity nomor tiga terbesar di dunia dengan sejumlah tumbuhan (endemik) yang dapat diolah menjadi bahan bakar nabati (biofuel).
Untuk itu, Pemerintah Daerah Kabupaten Waropen sedang mengupayakan pemanfaatan SDA penghasil energi selain sagu dan nipah yang penyebarannya cukup luas di Kabupaten Waropen. Bahkan untuk kelanjutan penelitiannya Pemerintah Kabupaten Waropen sedang menggandeng Universitas Negeri Papua, Manokwari untuk kajian-kajian selanjutnya.
Bupati Waropen, Ones Ramandey mengakui Kabupaten Waropen memiliki potensi yang cukup besar untuk kebutuhan energi alternatif. Hanya saja sampai saat ini, potensi itu belum dikelola secara maksimal.
Untuk itu, ke depannya pihaknya akan melakukan investasi untuk peningkatan dan pemanfaatan energi alternatif dari bahan dasar sagu dan nipah. [Pembaruan/ Gabriel Maniagasi]