![Time Square pusat perbelanjaan, di New York City, AS. [Pembaruan/Marthen Selamet Susanto]](23timesq.gif)
agi penyuka belanja, promo dari sebuah negara yang memberikan berbagai potongan harga bila berbelanja pada bulan-bulan tertentu, memang sangat menyenangkan. Namun, bagi kalangan itu, bulan promo atau bukan, mereka tak memedulikannya. Itu karena mereka punya toko atau pasar langganan yang selalu mereka kunjungi bila tengah melancong ke negara tersebut.
Jangan dulu berburuk sangka menyebut mereka sebagai kalangan konsumtif yang terkesan hanya menghambur-hamburkan uang. Awalnya memang demikian, tapi lama kelamaan, mereka jadi ahli dalam menawar, ahli memilih barang sesuai kebutuhan, dan tahu barang berkualitas serta memiliki jaringan di luar negeri.
Bukan itu saja, mereka juga jadi sangat tahu tempat-tempat belanja yang tepat, kemudian menginformasikan kepada teman atau keluarga, sehingga bisa mengurangi hal-hal yang tak diinginkan, seperti tertipu misalnya. Widiastuti, sekretaris sebuah perusahaan minyak asing yang berkantor di Jakarta, mengakui dia sudah memiliki semacam klub belanja yang beranggotakan teman-teman sekantor dan kenalan lain yang secara berbarengan akan mengambil cuti liburan untuk berbelanja.
"Saya jarang membeli barang-barang di sini. Kalau ada yang saya maui, saya tahan dulu. Contohnya mau beli sepatu, parfum, dan tas tangan, sekalipun di sini banyak macamnya, tapi saya menahan diri dulu untuk tidak membelinya. Saya menabung. Nanti pas liburan saya berangkat ke luar negeri dan membeli yang saya inginkan di sana," katanya.
Berbelanja di luar negeri itu bukan untuk dibanggakan. Ia malah menjadikan kesempatan belanja itu untuk mengasah wawasan, kemampuan bahasa, dan pengetahuan terhadap produk. "Sebelum berangkat, saya sudah pelajari dulu toko dan barang yang akan saya beli dari internet. Sampai di sana tinggal mencocokkan, apakah ada potongan harga, lalu soal warna. Pokoknya menyenangkan," kata ibu dari dua anak itu.
Ia justru senang jika dalam kegiatan berbelanja itu mendapat tantangan. Berhadapan dengan pemilik toko yang terkenal galak atau kaku dalam menghadapi konsumen, misalnya. Widiastuti yang akrab dipanggil Wida itu mengaku merasa tertantang untuk menundukkan orang semacam itu. Pengalaman seperti itu ia peroleh di Italia, ketika mengikuti tur bersama sebuah rombongan dari Jakarta. Perjalanan wisata seperti itu biasanya hanya memberi waktu berbelanja yang sangat terbatas. Jarang ada kesempatan untuk meneliti dan menawar barang lebih lama.
Wida mencari toko sepatu yang memang terkenal kualitasnya. Begitu mendapatkan sepatu yang sesuai dengan seleranya, justru sepatu itu tak boleh dibeli karena sudah dipesan. Wida bersikeras membeli, karena menganggap sepatu itu masih dipajang di etalase tanpa keterangan. "Seharusnya bila sudah terjual diberi tanda, atau jangan dipajang. Saya ngotot dan menuntut si penjual yang memang berpenampilan ketus karena merasa tokonya paling laku," cerita Wida.
Keributan di toko itu sempat menarik perhatian polisi. Polisi pariwisata membenarkan sikap Wida. Pemilik toko akhirnya meminta maaf dan menjual sepatu pilihan Wida sekaligus memberikan potongan harga karena sudah memberi banyak masukan dan pelajaran dalam melayani konsumen.
![Toko parfum di Paris [Foto: Arief Suharto]](23parfum.gif)
Bahasa Turis
Lain Wida yang senang mencari tantangan, lain pula Retno, seorang ahli kecantikan. Berbelanja ke luar negeri seperti Singapura dan New York, baginya, adalah kegiatan yang benar- benar harus dinikmati. Dia justru menghindari tawar-menawar yang alot atau terlalu banyak bertanya karena kurang paham produk yang akan dibelinya. Retno lebih senang mencari toko langganan orang-orang Indonesia. Umumnya toko seperti itu sudah mengerti keperluan konsumennya.
Saat ke Arab Saudi, contohnya, Retno akan membeli oleh-oleh perlengkapan salat dan yang lainnya. "Begitu masuk toko, langsung orang Arab yang menjual menyambut saya dengan bahasa Indonesia. Dia malah bisa memberikan bandingan harga dengan rupiah Indonesia," kata Retno. Biasanya ketika berbelanja ke luar negeri, orang selalu memperhitungkan harga barang setempat dengan rupiah. Hal itu, menurut Retno, justru akan membuat harga jadi terus terasa mahal. Walhasil, malah batal belanja.
"Buat saya, si penjual itu pandai melihat situasi. Dia juga pintar membandingkan dengan harga rupiah yang murah. Jadi dari tidak tertarik, akhirnya kita bisa beli macam-macam," ujar Retno. Kalau menjumpai penjual yang tidak menyenangkan, Retno memilih menghindar.
Pengalaman menarik lain yang disampaikan seorang pemimpin redaksi sebuah majalah saat mengikuti tur. Di Amsterdam, rombongan diajak melihat berbagai tempat wisata termasuk tempat belanja. Salah satunya, Coster Diamond, toko yang menjual berlian kelas dunia.
Di toko tersebut sekaligus berfungsi sebagai pabrik pengasah berlian, pembuatan cincin, kalung, dan gelang. Kebanyakan yang berbelanja ke tempat tersebut adalah turis Korea, Jepang, China, dan negara Eropa lainnya. Bagi masing-masing rombongan seperti itu, ada petugas yang melayani sesuai dengan bahasa masing-masing rombongan turis.
"Saya sempat bingung, dan memutuskan mengikuti turis Eropa saja yang berbahasa Inggris. Tapi, waktu saya bilang dari Indonesia, mereka meminta saya menunggu sebentar. Nggak lama kemudian datang seorang petugas yang kelihatannya campuran Belanda China. Dengan bahasa Indonesia yang fasih dia mempersilakan saya untuk ikut dan berkeliling toko," ujar wartawan senior yang enggan disebutkan namanya itu.
Dari petugas itu ia tahu perusahaan itu memang menyiapkan petugas yang fasih berbahasa Indonesia karena banyak pembeli berlian dari Indonesia. Termasuk di dalamnya kalangan pejabat.
"Membeli berlian tidak gampang. Konsumen harus tahu betul tentang potongan berlian, tingkat kejernihan, juga tingkatan-tingkatannya. Hal ini agaknya yang dilakukan toko agar konsumen nantinya tidak merasa tertipu dan melakukan klaim atau tuduhan penipuan," ujarnya.
Bukan hanya mendapatkan sebutir berlian dengan ikatan cincin lengkap dengan sertifikat untuk menjamin keasliannya, ia juga memperoleh tambahan informasi. "Si pemandu memberikan keterangan tentang tempat penjualan permata yang bagus di Belanda dan tempat hiburan yang pas buat keluarga," katanya.
Adanya pemandu khusus yang fasih berbahasa Indonesia itu membuktikan betapa penting arti turis bagi sebuah negara. Penyediaan tenaga seperti itu juga bisa menjadi barometer banyak turis asal Indonesia yang suka berbelanja. "Biar bagaimanapun, kita tetap dipandang terhormat, sehingga mereka sengaja menyiapkan orang yang mengerti betul karakter turis Indonesia," katanya. [Arief Suharto]