![Pak E bernyanyi di restorannya, Blok M, di Prahran, Melbourne, Sabtu (16/9). [Pembaruan/Asni Ovier DP]](23fiturp.gif)
alau berkesempatan jalan-jalan ke Melbourne, Australia, jangan lupa mampir di Blok M. Lho?! Blok M yang satu ini bukan nama kawasan seperti yang ada di Jakarta Selatan. Blok M di Melbourne adalah nama rumah makan yang menjual masakan Indonesia.
Memang, banyak rumah makan yang menyajikan masakan Indonesia khususnya di Melbourne. Selain Blok M, ada pula Rumah Makan Nelayan dan Padang Food, di Swanston Street.
Rumah Makan Blok M terletak di Commercial Road, Prahran, kawasan yang terletak di pinggiran Kota Melbourne. Pemiliknya seorang pria yang biasa dipanggil Pak E atau Pak Sisco.
Blok M sangat terkenal di kalangan mahasiswa asal Indonesia yang tengah menimba ilmu di Negeri Kanguru. Tidak hanya mahasiswa, sejumlah tokoh dan artis Indonesia pernah mampir di rumah makan itu. Sebut saja nama Rektor IAIN Jakarta Azyumardi Azra, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, hingga mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, pernah mampir di restoran itu.
Di kalangan artis, tercatat nama grup musik Sheila On 7, penyanyi Glenn Fredly, dan Dewi Sandra pernah ke tempat itu. Menurut Pak E, Peterpan juga akan datang ke restorannya Oktober nanti.
Menyebut nama-nama besar itu, orang tentu tidak menyangka kalau restoran itu sangat kecil. Mungkin ukurannya hanya sekitar empat kali sepuluh 10 meter, sudah termasuk dapur.
Blok M buka setiap hari dari pukul 12.00 hingga 23.30 waktu setempat. Tapi, jadwal itu tidak kaku. Kadang, kalau mahasiswa Indonesia berkumpul atau ada tokoh masyarakat yang "nongkrong" di tempat itu, restoran baru tutup pukul 02.00 atau 03.00.
Anak Jalanan
Nama asli Pak E adalah Siswanto Wiropuspito Mojosongo. Dia lahir pada 1961 di Solo. Masa kecilnya dihabiskan sebagai anak jalanan di kawasan Blok M Jakarta Selatan. Pengalaman masa kecil itu menjadi inspirasi nama restorannya.
Sekitar tahun 1974, ia merantau ke Yogyakarta. Berbagai pekerjaan kasar digelutinya, mulai dari menyemir sepatu hingga menjual koran. Semua itu dikerjakan hanya untuk bisa makan.
Dua tahun di Yogyakarta, ia kemudian merantau ke Jakarta bersama teman- temannya. Tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan selain menyemir dan menjual koran.
"Suatu saat, seorang pengamen yang sepatunya saya semir mengajak mengamen. Saya setuju saja. Saya bertugas mengumpulkan uang suka rela dari orang-orang yang mendengarkan lagunya," katanya kepada wartawan di Melbourne, Sabtu, penggal pertengahan September ini.
Selama setahun ia ikut pengamen itu dan akhirnya bisa main gitar sendiri. Dia pun menjadi pengamen di kawasan Blok M. Ia masih ingat, pada awal mengamen hanya mendapat uang Rp 1.200 dalam satu minggu. "Uang segitu saya usahakan cukup untuk makan. Saya tidak bisa bekerja lain, maklum sekolah hanya sampai kelas 3 SD," katanya.
Pada 1978, ia mulai menyanyi di sejumlah hotel dan tempat makan di Jakarta. Ia pernah tampil di TVRI, namun pekerjaan utama tetap mengamen. Ia juga sering ikut lomba mengamen di Pasar Seni Ancol dan Taman Mini. Bersama teman-teman pengamen, ia pernah membuat grup musik bernama Lampir Group.
Pengalaman paling pahit dialaminya saat mengamen pada 1985. Ketika itu ia tengah ikut lomba mengamen di Pasar Seni. Ia membawakan lagu berjudul Pejabat Ya Penjahat. Belum usai lagu itu, ia sudah dibawa petugas keamanan dan ditahan. "Saya bisa bebas setelah ditebus teman-teman di pengadilan. Memang lagu itu sangat mengkritik pejabat-pejabat kita yang korup dan tidak memikirkan nasib rakyat," ia mengenang.
Meski pernah dipenjara, ia tidak kapok mengamen. Ia mulai belajar lagu-lagu berbahasa Inggris. Kehidupan jalanan yang keras di Blok M memaksanya merantau lebih jauh. Kali ini ke Bali.
Impor Mobil Bekas
Di Pulau Dewata itu ia menjadi pengamen di hotel-hotel dan pub-pub. Kehidupan yang bebas di Bali kembali menggodanya. Ia terjerumus ke dalam dunia obat-obatan terlarang. Tidak hanya menjadi pemakai, tapi juga pengedar!
Di Bali pula ia mengenal wanita yang kini menjadi istrinya, Kathy. Kathy dikenalnya saat ia mengamen di sebuah pub pada 1992. Kathy tertarik dengan lagu yang dibawakannya, Waltzing Matilda.
Beberapa bulan kemudian, ia memberanikan diri mengajak Kathy menikah. Pada 1996 mereka menikah di Melbourne, kota asal Kathy. Meski sudah menikah, profesi sebagai pengedar obat-obatan terlarang belum ditinggalkannya.
Setelah berkali-kali ditahan aparat keamanan, Pak E akhirnya menetap di Melbourne dan memiliki tiga putri yang cantik, yaitu Uli, Syah, dan Tiani. Kehadiran anak-anak itu pula yang membuatnya lambat laun sadar.
Ia banting stir menjadi penjual mobil bekas. "Saya mengimpor mobil bekas dari Amerika Serikat, seperti merk Corvette dan Mustang. Mobil itu saya perbaiki dan cat ulang dengan berbagai motif unik. Ternyata laku keras," tuturnya.
Sekali menjualnya ia bisa mendapat keuntungan ribuan dolar Australia. Selain itu, ia juga membuka bengkel "Ketok Magic", atau menurut istilah asing yang dipakai Pak E di Australia "Smash Repairs".
Begitu uang mulai terkumpul, ia beralih profesi. Uang itu dijadikan modal membuka usaha rumah makan. Rumah Makan Blok M berdiri.
"Saya kadang kewalahan melayani tamu. Terkadang tamu restoran mengambil sendiri piring dan gelas mereka. Bahkan, kalau saya sudah kenal, saya kasih tahu dia bahan-bahan masakan, termasuk bumbu, dan saya suruh memasak sendiri. Biasanya yang sering saya suruh masak sendiri adalah mahasiswa yang kerap nongkrong di sini," kata dia.
Suasana rumah makan itu yang menarik perhatian orang untuk selalu makan di sana. Nama-nama menu yang disajikan juga sedikit unik, seperti sosok Pak E. Simak saja, Nasi Goreng Mbah Dukun, Cumi Bakar Katrina, Rawon Bonek, Ikan Bakar SMS (Sarana Menuju Selingkuh), Nasi Goreng Kambing USA (Usaha Solo Asli), dan Soto Goyang Inul.
Meski namanya unik dan terkesan asal-asalan, citra rasa makanan di Blok M cukup enak. Menu yang menjadi favorit adalah nasi goreng kambing, ikan bakar, dan ayam bakar.
"Saya juga tengah menyiapkan menu yang memakai nama Mbah Marijan. Saya kagum dengan sosok Mbah Marijan. Mungkin menunya nanti Gudeg Mbah Marijan," ujarnya.
Ia pun berniat mengembangkan usahanya. Kini dalam sehari ia bisa memperoleh uang sebesar A$ 1.000 atau sekitar Rp 7,6 juta. Dengan penghasilan seperti itu, ia kini memiliki sebuah rumah dengan kolam renang dan enam mobil.
"Meski sudah bertahun-tahun tinggal di Australia, saya tetap kangen dengan teman-teman di Blok M. Saya masih ingat sebagian nama mereka, seperti Anto Baret dan Edy (yang kini membuka tempat makan Roti Bakar Edy)," katanya. [Pembaruan/Asni Ovier DP]