SUARA PEMBARUAN DAILY

Kabut Asap Masih Menyelimuti Kalteng

[PALANGKA RAYA] Kondisi asap akibat kebakaran lahan dan hutan masih tebal dan menyelimuti udara kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Bau asap menusuk hidung serta mata terasa perih saat berada di luar rumah.

Berdasarkan pantauan Pembaruan di Palangka Raya, Sabtu (23/9) pagi, kabut asap masih tetap bertahan menggelantung di udara. Hanya saja kondisi udara tidak terlalu gelap gulita seperti dua hari sebelumnya. Sinar matahari sudah bisa terpancarkan dengan baik menyinari alam Tanah Borneo.

Bahkan Sabtu pagi ini pesawat terbang milik maskapai penerbangan Sriwijaya Air dan Batavia dari Jakarta dan Surabaya sudah bisa mendarat di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya. Hanya saja sebelum mendarat pesawat terpaksa berputar-putar mencari posisi landasan karena jarak pandang pilot masih terbatas tertutup kabut asap.

Kepala Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, Jamaluddin Hasibuan kepada wartawan di Palangka Raya, Sabtu (23/9) mengatakan, asap memang masih mengganggu jarak pandang pilot. Jarak pandang vertikal sekarang ini hanya sekitar 500 meter. Sebab itu, ketika ingin mendaratkan pesawat terpaksa harus berputar-putar lebih dulu untuk memastikan posisi landasan.

Dikatakan, hari ini asap sedikit menipis, udara mulai agak terang. Kondisi semacam ini dapat diyakini semua jenis pesawat pasti bisa mendarat di Bandara Tjilik Riwut. "Mudah-mudahan siang hari udara tidak cepat berubah hingga gelap kembali", kata Hasibuan.

Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Palangka Raya, Hidayat ketika dikonfirmasi mengatakan, sedikit terang udara di kota Palangka Raya karena memang beberapa wilayah di Kalteng mulai turun hujan. "Angin bertiup juga agak kencang. Musim hujan akan mulai turun secara normal diprakirakan sekitar 12 hari lagi atau sekitar minggu pertama dan kedua bulan Oktober 2006 mendatang", ujarnya.

Sementara itu, anggota Komsisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Ali Mochtar Ngabalin Palangka Raya, Jumat (22/9) malam kepada wartawan menyatakan prihatin melihat kondisi asap yang selalu terjadi setiap tahun.

"Melihat kondisi itu selayaknya pemerintah harus memikirkan lembaga tersendiri untuk menangani masalah asap serta kebakaran lahan dan hutan yang saat ini nyaris tidak menjadi perhatian terlalu serius," katanya.

Kepala Bapedalda Kalteng, Muzes Necodemos, ketika dikonfirmasi Sabtu (23/8) pagi, mengatakan kondisi asap memang terlihat secara kasat mata agak menipis. Tetapi tingkat pencemaran udara akibat debu dan partikel yang terbawa angin masih sangat tebal dan berbahaya bagi kesehatan. "Hasil pendeteksian kualitas udara Kalteng dalam keadaan "tidak sehat", katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Kalteng, Anang Acil Rumbang yang dihubungi terpisah Sabtu pagi mengatakan, kebakaran lahan dan hutan masih belum bisa dipadamkan sepenuhnya.

Terutama di kawasan lahan gambut tebal yang terdapat di kawasan eks pengembangan lahan gambut (PLG) sejuta hektare terdapat sejumlah titik api yang tetap memproduksi asap hingga udara masih berkabut. Dikatakan pemadaman oleh tim yang dikoordinasi Dinas Kehutanan terus bekerja keras memadamkan api. "Sebab itu jika dibandingkan dengan kondisi beberapa waktu lalu jumlah titik api sudah agak berkurang", tandasnya. [106]


Last modified: 23/9/06