
Seorang mahasiswa Thailand mengangkat sebuah poster bertuliskan "Jangan Sebut Ini Reformasi, Ini Kudeta" ketika berunjuk rasa di depan sebuah mal di Bangkok, Jumat (22/9). Pengunjuk rasa mengecam aksi kudeta yang dilakukan militer Thailand untuk menggulingkan Pemerintahan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra atas tuduhan korupsi. [AP/Vincent Thian]
[BANGKOK] Istri Thaksin Shinawatra, Pojaman, dan dua anak mereka, Panthongtae dan Paethongtan, dikabarkan masih berada di Thailand. Menurut sejumlah sumber, Pojaman dan dua anaknya berada di Thailand untuk melindungi harta keluarga dari kemungkinan disita oleh militer.
Kabar tentang keberadaan istri dan dua anak Thaksin itu diberitakan oleh The Nation, Sabtu (23/9). Surat kabar terkemuka di Thailand itu mengutip sebuah sumber yang menyebutkan kalau Pojaman berada di kediaman mereka di Chansonglah.
Masih menurut sumber itu, Pojaman dan dua anaknya itu berada di sebuah tempat yang aman di Pahonyothin saat kudeta terjadi pada Selasa (19/9). Sebelumnya, Pojaman dikabarkan telah melarikan diri ke Singapura sehari sebelum kudeta terjadi.
Menurut The Nation, saat Thaksin berada di London, istri dan dua anaknya itu masih berada di Bangkok. Thaksin saat ini masih berada di London bersama seorang puterinya yang tengah meneruskan pendidikan.
Thaksin dikenal sebagai perdana menteri yang memiliki kekayaan cukup besar. Sebagian rakyat Thailand berunjuk rasa menuntut Thaksin mundur ketika di menjual perusahaan telekomunikasi Shin Corp kepada sebuah perusahaan Singapura, Temasek Holdings.
Para pemimpin kudeta telah menunjuk sembilan orang untuk duduk di Komisi Nasional Antikorupsi (NCCC). Komisi itu bertugas untuk menginvestigasi dugaan korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara yang duduk di pemerintahan Thaksin.
Komisi itu juga bertugas memberangus sisa-sisa pejabat yang dekat dengan Thaksin. Pejabat-pejabat itu digantikan dengan orang-orang baru yang dinilai netral.
Salah satu anggota NCCC adalah mantan sekretaris jenderal badan antisuap Thailand pada 2001, Klanarong Chanthik. Namun, ketika itu, Klanarong gagal menyeret Thaksin ke pengadilan atas dugaan korupsi. Kini dia menjadi orang yang paling keras mengkritisi Thaksin.
"Kami memiliki kerja yang berat. NCCC akan segera mengukur aset-aset sejumlah politisi yang diduga kuat melakukan korupsi," kata Klanarong.
Rosana Tositrakul, pemimpin koalisi 30 lembaga swadaya masyarakat antikorupsi di Thailand mengatakan, beberapa anggota NCCC tidak pas untuk menduduki jabatan itu. "Beberapa orang yang duduk di NCCC memiliki hubungan yang erat dengan sejumlah politisi yang duduk di pemerintahan sebelumnya. Jadi, saya ragu dengan kinerja mereka," kata Rosana.
Ditangkap
Sementara itu, sejumlah tentara Thailand menangkap saudara kandung Thaksin, Phayup Shinawatra. Penangkapan dilakukan tidak lama setelah Phayub tiba di Bandara Internasional Chiang Mai, Thailand.
Phayup ditangkap ketika dia baru turun dari tangga pesawat Thai Airways yang baru tiba dari Bangkok. Pesawat itu tiba di Chiang Mai pada Sabtu (23/9) sekitar pukul 02.30 waktu setempat.
Tentara tidak mengizinkan Phayub untuk menaiki sebuah mobil Mercedez Benz yang telah menjemputnya. Phayub langsung dibawa ke markas militer untuk diperiksa dengan menggunakan mobil van militer.
Juru Bicara militer Kolonel Phisit Dejsakul mengatakan, Phayub langsung dilepas kembali setelah diperiksa. Dalam pemeriksaan itu, Phayub dijelaskan tentang peran Dewan untuk Reformasi Demokrasi di Bawah Monarki Konstitusional atau badan yang mengkudeta Thaksin. Phayub juga diminta untuk menandatangani sejumlah dokumen namun tidak dijelaskan bentuk dokumen itu.
Di tempat terpisah, saudara ipar Thaksin, Somchai Wongsawat menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Sekretaris Umum Kementerian Tenaga Kerja Thailand. Somchai mengaku, alasan dia mundur adalah untuk lebih fokus mengurusi usaha pribadi. [AP/O-1]