[SIDOARJO] Upaya penghentian semburan lumpur panas bercampur gas di Sidoarjo, Jawa Timur, memasuki skenario III dengan melakukan pengeboran miring. Tim I yang menangani cara ini membutuhkan waktu 91 hari sejak 12 September 2006.
"Kami berusaha secepat mungkin melaksanakan skenario III. Tetapi kami tidak berani memastikan kapan semburan itu bisa dimatikan,'' ujar Wakil Kepala BP Migas Trijana Kartoatmojo, seusai menyampaikan penanganan luapan lumpur PT Lapindo Brantas di depan Bupati Sidoarjo Win Hendrarso dan instansi terkait lainnya, di Sidoarjo, Jumat (8/9).
Dikatakan, upaya teknis yang sudah dan sedang dilaksanakan tim 1, mulai dari skenario I yang menggunakan snubbing unit, skenario II dengan menggunakan side tracking hingga pengoperasian skenario III menggunakan relief well. Diharapkan skenario III berhasil sehingga semburan lumpur yang telah memasuki 100 hari lebih, bisa segera teratasi.
Kasus semburan lumpur, tambahnya, cukup langka. Para ahli geologi menyebutkan bahwa kasus ini menyemburkan lumpur vulkanik. Jika mengeluarkan lumpur vulkanik atau yang biasa disebut mud vulcano, maka ini merupakan kejadian pertama di dunia.
VP HRD dan Divisi Humas Lapindo, Yuniwati Teryana mengatakan, Lapindo akan menyerahkan 20 unit rumah ke warga korban yang rumahnya tergenang lumpur minggu depan, sambil menunggu penyelesaian berkas-berkas administrasi. Setelah tahap awal ini selesai akan diteruskan dengan menyerahkan sekitar 30 sampai 50 buah rumah pada tahap berikutnya.
Relokasi
"Prioritas utama yang sudah dilakukan sekarang ini menempatkan warga yang rumahnya sudah tenggelam ke relokasi sementara dengan membantu uang kontrak selama dua tahun, setelah itu kita bahas relokasi permanen karena hal ini tidak mudah," katanya.
Dikatakan, Pemkab Sidoarjo juga punya konsep dalam relokasi permanen itu, dengan menyediakan sekitar 2.000 unit rumah.
Sementara itu, warga di sekitar Kali Porong memprotes pembuangan air ke Kali Porong dengan mempergunakan jaringan pompa dengan diameter 10 inci sepanjang 500 meter dari areal persawahan di Desa Mindi, Kecamatan Porong melintasi Desa Pejajakan. Tim pengendalian lumpur akhirnya tidak berani melanjutkan membuang air ke saluran tersebut.
"Air yang dibuang ke Kali Porong itu memang dari areal persawahan dan saluran afvor di Mindi, tetapi sudah campur air berlumpur, sehingga warnanya kecokelatan," kata Iksan, warga Desa Buaran ketika melakukan aksi protes bersama warga desa lainnya.
Warga Desa Buaran cukup bersemangat mempertahankan eksistensi Kali Porong. Mereka pernah menghentikan kegiatan tim I Penanggulangan Lumpur Lapindo, yang mencoba mengambil air Kali Porong untuk mendukung operasional relief well di Jatirejo.
Hariyadi, Koordinator LSM Sahabat Bumi, mengaku menerima laporan adanya upaya Lapindo membuang air ke Kali Porong. Sejumlah aktivis pemerhati lingkungan di Sidoarjo terjun melakukan pemantauan di lapangan.
"Apa pun alasannya, tidak bisa sembarang membuang air ke Kali Porong karena belum tentu aman terhadap lingkungan. Lapindo dan pemerintah harus konsisten terhadap usaha meminimalisasi kerusakan lingkungan," katanya.
Dikatakan, sudah ada kesepakatan, air berlumpur boleh saja dibuang asal tidak berbahaya terhadap lingkungan setelah melalui proses water treatment dan uji laboratorium mengenai baku mutu air. LSM Sahabat Bumi mengumpulkan beberapa sampel air di daerah sekitar luapan lumpur. Air yang diambil baik dari kolam penampungan lumpur, sawah maupun afvor, yang rencananya diuji di laboratorium Unibraw Malang.
Bagus Kartika, anggota tim II Penanggulangan Lumpur Lapindo mengatakan, tidak menyangkal telah membuang air ke Kali Porong, tetapi bersikukuh bahwa air yang dibuang ke Kali Porong itu, adalah air di saluran avfur yang terjebak karena alirannya tertutup tanggul. "Air itu murni air sawah, belum terembesi air lumpur. Kita lakukan untuk mengurangi genangan air di sawah itu. Tapi kami hentikan, kalau warga tidak setuju," katanya.
Bagus khawatir jika genangan air sawah yang terjebak karena alirannya tersumbat itu tidak segera ditangani untuk dialirkan ketempat lain, akan menggenangi daerah sekitarnya. [080/029]