SUARA PEMBARUAN DAILY

Mantan Presiden BJ Habibie:

Tak Ada Benturan antara Peradaban Barat dan Islam

[MAKASSAR] Mantan Presiden BJ Habibie menegaskan, tidak ada benturan antara peradaban barat dengan Islam. Yang dapat terjadi adalah benturan antara peradaban yang kaya dengan peradaban yang miskin atau benturan peradaban dengan tolak ukur kualitas sosial yang tinggi dengan peradaban yang memiliki tolak ukur kualitas sosial yang sangat rendah.

Habibie mengemukakan hal itu dalam orasi ilmiahnya di Universitas Hasanudin, Makassar, Sabtu (9/9) siang, saat dianugrahi gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang teknologi dan peradaban. Penganugrahan gelar tersebut kepada BJ Habibie dilakukan dalam rapat senat terbuka yang dipimpin oleh Rektor Unhas, Idrus A Paturusi, juga dihadiri oleh Wapres, M Jusuf Kalla.

Dalam makalah ilmiah berjudul "Beberapa Catatan Mengenai Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Budaya, dan Peradaban" Habibie menegaskan, peradaban mencerminkan tingkat kualitas kehidupan masyarakat sebagai hasil pembangunan yang menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

"SDM, sesuai tingkat produktivitasnya dapat memberi sumbangan terhadap tinggi rendahnya GDT per kapita suatu masyarakat yang merupakan salah satu tolak ukur penilaian tindak peradaban," katanya.

Ia mencontohkan tentang tidak adanya benturan peradaban tersebut, yaitu pada siaran TV Internasional seperti CNN itu setiap hari menampilkan tokoh-tokoh, moderator dan pembawa acara yang keturunan dan berbudaya Afrika, Timur Tengah, Asia dan Eropa tetapi mereka hanya menggunakan satu bahasa, yaitu bahasa Inggris berwawasan dan berperilaku sama walaupun berbudaya lain. Demikian pula pada saran TV nasional.

Tokoh-tokoh itu, tambahnya, dipilih berdasarkan penampilan, keterampilan dan keunggulan masing-masing. Mereka menggunakan bahasa yang sama serta mempunyai wawasan dan koridor yang sama pula. Sedangkan budaya, agama dan keturunan tidak termasuk dalam kriteria pemilihan.

"Baik CNN maupun siaran TV nasional memanfaatkan satelit yang diluncurkan oleh perusahaan yang mungkin datang dari negara berbeda (Ameria Serikat, China atau Rusia). Demikian pula halnya dengan perancang dan pembuat satelit. Pembuat maupun peluncur satelit hanya dipilih melalui kriteria yang rasional dan menguntungkan pemilik satelit. Keunggulan satelit terletak pada pemanfaatannya, baik untuk siaran TV maupun untuk radio, telepon, internet dan pengalihan data dari satu tempat ketempat yang lain. Peran satelit penting dalam mengembangkan jaringan informasi yang bersifat nasional, regional maupun global," paparnya.

Sinergi

Berdasarkan hal-hal tersebut, Habibie sampai pada kesimpulan bahwa penguasaan, pengendalian dan pengembangan iptek yang bersinergi positif dengan budaya dapat menghasilkan peradaban. Hanya dengan memanfaatkan kriteria yang rasional, objektif dan transparan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipilih dapat menghasilkan sinergi positif dengan budaya yang menguntungkan peradaban.

Karena itu menurut Habibie, salah satu tolak ukur untuk menilai tingkat peradaban adalah GNP per kapita. Sementara kita, telah mengetahui bahwa GNP per kapita yang tinggi saat ini hanya dimiliki oleh masyarakat di Eropa, Amerika Utara, Rusia dan Jepang.

Sementara masyarakat di Amerika Latin yang dominan berasal dari keturunan Eropa dan beragama Kristen, seperti masyarakat di Afrika dan Asia yang beragama Hindu, Budha, Kristen dan Islam dipandang dari definisi budaya dan peradaban seperti dikemukakan tadi, memiliki tingkat peradaban yang sama yakni sangat rendah.

Karena itu Habibie menyimpulkan bahwa kalau pun terjadi benturan peradaban, yang terjadi adalah benturan peradaban yang kaya dengan peradaban yang miskin. Bukan benturan antara, peradaban Barat dengan peradaban Islam.

Konsep seperti itu dibangun oleh Habibie dari definisi yang baru tentang budaya. Menurutnya, budaya dalam arti luas berarti suatu keadaan akibat perilaku manusia. Manusia tersebut secara perorangan atau kelompok, bermasyarakat dan bernegara yang dapat mempengaruhi kehidupan yang baik, tentram, dan sejahtera.

Artinya, bahwa semua dapat hidup sehat di atas dari kemiskinan, tidak membedakan suku, etnis, ras dan jenis kelamin, tidak mencemari dan merusak lingkungan. Manusia berbudaya tidak meracuni sumber daya alam dan tidak terbarukan, yang secara demokratis menjunjung tinggi hak dan kewajiban asasi manusia, memberi kebebasan untuk beragama, kebebasan mengeluarkan pendapat dan kebebasan untuk dapat menikmati pendidikan sesuai bakat dan ke- inginannya. [148/A-21]


Last modified: 9/9/06