[MAKASSAR] Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan, HM Amin Syam menyesalkan keterlambatan informasi dari Departemen Kesehatan. Pasalnya, ada warga Sulsel, yakni Akhira (14) penduduk Jl Maccini Tengah, Makassar, meninggal, baru dinyatakan korban positif menderita virus flu burung (Avian influenza) dan dinyatakan korban ke-48 di Indonesia setelah tiga bulan berlalu.
"Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sample darah, dan lendir korban, baru diberitahukan sekarang. Padahal, korbannya meninggal hampir tiga bulan lalu. Seandainya diberitahu lebih awal, kita bisa mengambil langkah-langkah strategis secepatnya. Untung saja, tidak ada korban baru," kata Amin kepada wartawan di Makassar, Jumat (8/9).
Akhira, siswi kelas 3 SMPN 22 Makassar, meninggal dunia 24 Juni lalu setelah dirawat di Rumah Sakit (RS)Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Diagnosa pihak rumah sakit menyebutkan, korban menderita demam berdarah dengue (DBD). Ternyata, setelah dua bulan lebih meninggalnya, Menteri Kesehatan baru mengumumkan bahwa Akhira dari Makassar meninggal akibat flu burung sesuai hasil pemeriksaan laboratorium Depkes.
Sampel darah serta soap tenggorok dan hidung korban dikirim Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan 23 Juni lalu atau sehari sebelum korban meninggal dunia. Namun, hasilnya, baru disampaikan, Kamis (7/9) lalu. Berita tentang korban flu burung itu terlambat diumumkan, justru lebih dulu menjadi berita internasional melalui Associated Press (AP), BBC, New York Times dan Reuters.
Selain gubernur, keluarga almarhumah juga menyesalkan lambatnya pemberitahuan dari Departemen Kesehatan mengenai penyebab kematian korban. "Kami sudah iklas
Akhira meninggal, namun setelah keluarga kami sudah tenang malah dikejutkan oleh penyampaian bahwa korban tewas akibat flu burung," kata Alimin, kakak korban.
Menurut dia, sebenarnya ia sudah curiga adiknya meninggal karen flu burung, untuk itu sehari setelah Akhira meninggal, Alimin langsung melepas ayam dan burung peliharaan yang ada di rumah dan kandangnya dimusnahkan. Alasannya, gejala yang dialami Akhira sama dengan penderita virus flu burung lainnya, yakni menderita demam tinggi, sesak nafas dan korban mengeluh dadanya sakit. Namun saat itu, dokter mendiagnosa korban hanya menderita demam berdarah dengue (DBD).
Ibu dan Kakak
Selain Akhira, ternyata ada dua korban lainnya meninggal dari pihak keluarganya dengan gejala yang hampir sama, yaitu menderita demam tinggi dan sesak nafas. Dua korban lainnya yakni Syukriyah, ibu Akhira dan kakaknya, Andri Winarti (17).
Awalnya Akhira dilarikan ke Rumah Sakit Akademis Jaury Jusuf Putra, Makassar, 21 Juni. Saat itu ia diantar ibunya, Sukriyah.
Namun, sesampainya di rumah sakit, Sukriyah juga mengeluh tidak enak badan, terpaksa diopname bersama Akirah. Bahkan, kondisinya lebih parah dan keesokan harinya, Sukriyah meninggal dunia setelah sebelumnya, 18 Juni putranya, Andri Winarti juga meninggal.
Saat ibunya meninggal, 22 Juni, Akhirah sempat keluar dari rumah sakit. Namun, karena kondisinya memburuk, ia lembali dilarikan ke Rumah Sakit Regional Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Saat itu ia didiagonasa menderita DBD, ternyata 24 Juni, korban meninggal dunia. [148]