[BANDUNG] Bank Indonesia (BI) akan berkoordinasi dengan pemerintah guna meningkatkan kontribusi lembaga keuangan nonbank terhadap pembiayaan ke sektor riil.
Langkah tersebut perlu dilakukan karena meskipun tampak dominan peran perbankan masih kurang signifikan jika dihadapkan pada kondisi tingkat suku bunga tinggi.
Peneliti Senior BI Wimboh Santoso di Bandung, Jumat (8/9 mengatakan, perbankan tidak bisa diandalkan untuk membiayai seluruh kebutuhan investasi.
"Pembiayaan perbankan sering dihadapkan pada suku bunga tinggi dan berbagai pertimbangan lain, sehingga sektor riil tidak mampu meminjam ke bank," kata Wimboh.
Selain suku bunga, dana pihak ketiga di perbankan didominasi oleh dana jangka pendek, sehingga sulit menyalurkan kembali ke kredit jangka panjang.
Dalam hal ini, peran pasar modal memang dibutuhkan sebagai alternatif pembiayaan. BI dan pemerintah sedang mengupayakan agar pasar uang menjadi lebih baik, sehingga tidak terjadi goncangan dalam pasar obligasi.
Pembiayaan Meningkat
Direktur Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Budi Mulya mengatakan, data BI menunjukkan pembiayaan yang berasal dari modal sendiri atau penyisihan laba perusahaan terus meningkat.
Pada tahun lalu jumlahnya baru mencapai Rp 31,6 triliun, sedangkan, pada paruh pertama tahun ini jumlahnya telah meningkat menjadi Rp100 triliun.
Jika dibandingkan sumber pembiayaan lainnya yang berasal dari pengeluaran pemerintah, kredit perbankan dan penanaman modal asing maka pertumbuhannya sangat tinggi.
Pada semester I tahun ini sudah melampaui perkiraan semula yakni Rp 89,4 triliun. Sementara sumber pembiayaan pemerintah baru mencapai Rp 52,7 triliun dari target Rp146,5 triliun, kredit perbankan Rp 27,1 triliun dari target Rp 131,4 triliun dan pembiayaan berasal dari luar negeri mencapai Rp 136,5 triliun dari target Rp 318,4 triliun.
Sedangkan, pendanaan yang bersumber dari pasar modal berupa penerbitan saham mencapai Rp 11,4 triliun dan emisi obligasi Rp 8 triliun.
Dia memperkirakan, hingga akhir tahun ini akan terjadi tambahan emisi saham sebesar Rp 2 triliun dari IPO beberapa perusahaan. Sementara emisi obligasi akan bertambah Rp 3 triliun dari BTN dan BEI.
Budi mengimbuhkan bahwa pertumbuhan kredit perbankan akan meningkat pada paro kedua tahun ini sejalan dengan penurunan suku bunga.
"Penurunan BI Rate telah meningkatkan kepercayaan pelaku usaha dan pada gilirannya meningkatnya penyaluran kredit oleh perbankan," kata Budi.
Survei kredit perbankan menunjukkan adanya permintaan yang signifikan pada semester II tahun ini, baik untuk kredit baru maupun penambahan plafon kredit baru. [B-15]