SUARA PEMBARUAN DAILY

Tayangan Koruptainmen di Televisi

Teguh Imawan

Wacana Kejaksaan Agung (Kejagung) menyiapkan kiat khusus membuat malu para buron kasus korupsi dengan menayangkan wajahnya di televisi secara berkala tampaknya surut. Padahal, semula koruptor yang ditayangkan di televisi bukan hanya wajah dan namanya. Tayangan juga dilengkapi data-data dan jejak koruptor itu, seperti riwayat hidup dan rumah yang terakhir kali ditinggali.

Pola pengemasan tayangan mirip acara infotainmen, dan karena menyangkut koruptor, nama acaranya disebut koruptainmen. Acara koruptainmen bertujuan menimbulkan efek jera dan mendorong partisipasi publik membantu memberantas dan menangkal korupsi. Daya dorong permaluan menguat karena desain acara televisi tak lagi kaku, beku, dan serius, tapi problem nomor satu di negeri ini dikemas se-cara menghibur.

Topik

Secara etimologis, koruptainmen merupakan istilah gabungan kata korupsi dan entertainmen. Maknanya adalah tipe program te-levisi berisi seluk-beluk korupsi yang dikemas nan menghibur, sehingga kuat menarik dan memikat penonton. Jadi, koruptainmen tak dipahami secara letterlijks, yaitu acara menggangsir harta negara yang menghibur dan menyenangkan.

Kalau itu yang terjadi, maka maksud menghukum koruptor dan menangkal tindak korupsi sirna. Justru acara menjadi ajang "kursus korupsi", mengherokan pencoleng mengzerokan nurani, sekaligus sebagai pupuk penyubur korupsi di level dan lini birokrasi.

Mengenai topik tayangan, bila infotainmen menyasar kawin, cerai, selingkuh, dan seteru artis-selebritis, maka koruptainmen membidik sosok koruptor buron dan pejabat negara tertentu bertugas di sejumlah instansi "basah". Koruptainmen dapat menjadi siaran acara penguji antara "iman dan godaan" kepe- jabatan seseorang.

Selain itu, fokus liputan dapat menyisir pada: pertama, kondisi sosiologis-ekonomi-kultural penyebab muncul dan suburnya korupsi. Mulai dari kajian historis kronologis hingga kasus-kasus kehidupan sehari-hari, seperti kutipan uang saat mengurus KTP, SIM, atau pungutan birokrasi dengan janji mempercepat urusan.

Kedua, bagaimana "para pendekar hukum" memburu koruptor, dikuak segala bentuk tipu daya, modus, serta cara memperdaya pejabat. Sehingga, penonton dapat mengenali sedari awal proses korupsi. Ketiga, menggambarkan dampak negatif korupsi terhadap kehidupan de- mokrasi, ekonomi, dan rakyat.

Keempat, mengungkap aneka bentuk trik licik penyelewengan kekuasaan pejabat negara (penggelapan, mark-up, penyogokan, kolusi, nepotisme, dan sejenisnya). Kelima, secara rutin menginformasikan angka rapor korupsi dari transparansi internasional, indeks persepsi korupsi, atau barometer korupsi global. Serta menjurnal kinerja aparat penegak hukum pada lingkup lokal (kota-provinsi).

Kemasan

Bila sebagian infotainmen gegap gempita menayangkan berita cukup berbekal gosip, maka koruptainmen mutlak bersandar pada fakta. Isi laporan harta kekayaan pejabat negara resmi dapat menjadi titik tolak. Liputan menjelahi dan merembet ke sanak keluarga pejabat dalam konteks menguji dan mengkonfirmasi akurasi isi laporan. Keluarga atau kerabat yang dimaksud mencakup orang tua/mertua, istri/suami, anak/menantu, cucu, adik/kakak, pacar, sahabat .

Sebagaimana diungkap Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Taufiequrachman Ruki, salah satu faktor kegagalan pem- berantasan korupsi adalah belum adanya pengawasan yang efektif terhadap kepemilikan harta pejabat negara.

Seringkali kepemilikan barang hasil korupsi dialihkan atau diatasnamakan kerabat atau keluarganya. Para koruptor melakukan berbagai cara untuk "menutupi" transaksi itu agar di permukaan terlihat sah.

Melihat halusnya praktek korupsi, koruptainmen dapat kreatif mengecek harga barang yang dibeli pejabat. Teknik dan taktik peliputan model paparazi, pemanfaatan kamera tersembunyi (hidden camera), maupun penyamaran bisa dipilih untuk memperoleh rekaman audio-visual koruptainmen.

Selain tajam mengupas korupsi, durasi tayangan bisa diolor. Lem-baga dan aktivis antikorupsi, penegak hukum, organisasi kemasyara- katan, dan kalangan rakyat ba- wah yang gemas pada koruptor di- jadikan komentator.

Melalui spirit kebersamaan berfokus ke topik seputar mata rantai korupsi, maka sisi gelap perilaku pejabat negara diliput, disorot, di- telisik, disigi-investigasi, diekspos, di blow-up, dan di-sergap.

Dengan demikian, koruptainmen berdaya sebagai kanal pengalir rasa jengkel publik yang telah sekian lama terpendam dan tersumbat (silent majority).

Data dan fakta koruptainmen memudahkan upaya pembalikan beban pembuktian (pembuktian terbalik) dalam penuntutan perkara tindak pidana korupsi yang dituduhkan.

Bila itu terjadi, pejabat negara sulit mengalihkan aset hasil korupsinya. Gilirannya, dapat digulirkan efek jera atau ketakutan kolektif untuk tidak lagi melakukan korupsi karena susah menyembunyikan hasil jarahannya.

Kekuatan koruptainmen lain adalah mampu menjadi alternatif pengawasan perilaku koruptif pejabat negara melalui pemantauan atas kepemilikan harta kekayaan. Bukankah selama ini senantiasa muncul pertanyaan, apakah harta kekayaan pejabat itu diperoleh secara sah dan tidak melawan hukum atau didapat dengan cara mengkorup uang negara?

Benih Tayangan

Soal pemantauan kekayaan pejabat itu dapat dijadikan benih tayangan koruptainmen. Dan, itu telah dilakukan televisi. Contohnya, liputan tewasnya pekerja bangunan karena tertimpa tembok pembatas saat merenovasi bangunan rumah. Dengan cerdik sudut pandang pemberitaan juga memburu identitas pemilik rumah. Karena sejumlah keterangan menyebutkan pemilik rumah adalah pejabat negara.

Saat disorot kamera, tampak pejabat begitu resah dan gelisah. Ia mengelak mengakui dirinya sebagai pemilik rumah. Bisa jadi, ia takut kalau dicecar soal besar dana renovasi rumah berukuran luas di kawasan perumahan elite Jakarta.

Kejadian serupa, tapi beda kasus terlihat saat televisi meliput peristiwa pencurian di rumah milik pejabat. Jelas terlihat di layar kaca, si tuan rumah enggan memberi keterangan rinci jenis barang yang hilang dan besar nilai kerugiannya.

Terpancar rasa risih raut muka pemilik rumah saat ruangan tempat barang yang dicuri "diinventarisasi secara visual" oleh kamera person dan sejumlah jurnalis. Ia kelihatan lebih tenang tatkala lensa kamera menjauhi areal rumahnya.

Itulah contoh dini tayangan koruptainmen memancing emosi penonton dan mengaduk-aduk adrenalin narasumber (yang korup). Berbeda dengan acara infotainmen, banyak kalangan sepakat bahwa isi dan kemasan koruptainmen seperti itu lebih besar manfaat ketimbang mudaratnya.

Semoga lekas tayang, meski batu sandungan yang menolak siaga menghadang koruptainmen. Tidak ada salahnya dicoba, dan bukankah siaran sebuah program acara televisi gampang tayang dan mudah buang. Sayang, bila ide segar menantang kejaksaan melayang begitu saja.

Penulis adalah Staf Pengajar Fikom Universitas INDONUSA Esa Unggul Jakarta dan Ketua KameliaTV (Komunitas Melek Media TV)


Last modified: 9/9/06