[JAYAPURA] Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Jayapura, Aliansi Bhinneka Tunggal Ika, Institut Indonesia Muda, dan budayawan Papua menyelenggarakan pesta budaya dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun ke-61 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) di wilayah perbatasan RI-Papua Nugini (PNG), Skouw, Jayapura, Rabu (16/8).
Pesta rakyat dan malam renungan untuk memperingati HUT ke-61 itu akan menampilkan kesenian rakyat. Dalam acara itu dipergelarkan 17 gitar, 8 alat musik tifa, 45 vokalis, serta 2006 batang lilin kecil. Semuanya itu sebagai simbol hari kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 dan peringatannya di tahun 2006.
Menurut Melikianus Laka Lena dari Institut Indonesia Muda, pada acara tersebut, tampil artis Ibukota Franky Sahilatua yang juga pimpinan Aliansi Bhinneka Tunggal Ika, khusus membawakan lagu ciptaannya berjudul Pancasila Rumah Kita.
Dikatakan, judul lagu itu juga menjadi tema acara pesta rakyat. Tema itu kita angkat karena Pancasila sudah semakin pudar dan sudah terjadi pergeseran makna.
Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), Komarudin Watubun, tema itu sangat tepat diangkat dalam perayaan HUT ke-61 RI. Sebab, kesadaran berpencasila kelihatannya mulai pudar. Tema ini, katanya, sangat penting karena menyadarkan setiap pribadi sebagai warga negara untuk menjaga keutuhan negara dan Pancasila sebagai lambang negara. Demikian pula menjaga UUD 1945 sebagai dasar negara tanpa dipaksa. "Kesadaran itu harus dibangun secara nasional," katanya.
Benteng Indonesia
Komarudin menambahkan, memaknai Pancasila menjadi penting ketika Pancasila itu terintegrasi dalam diri penduduk di batas negara. Sehingga menjadi benteng Indonesia di perbatasan. "Pancasila menjadi pilar di batas negara itu. Jadi, mengawal RI tidak harus dengan senjata," ujar Komarudin.
Tetapi hal itu akan mudah dilakukan jika pemerintah pusat dan daerah mampu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyatnya. "Kalau itu terwujud, NKRI tetap berdiri walau tanpa senjata," tambahnya.
Komarudin menambahkan, kegiatan ini diadakan di perbatasan guna menunjukkan bahwa cakupan Pancasila sampai ke perbatasan. Selain itu untuk mengingatkan peringatan HUT RI tidak cukup di kota yang selama ini dilakukan para pejabat. "Tetapi juga harus dilakukan di kampung-kampung hingga perbatasan," tutur Komarudin.
Kepada Pembaruan, Rabu (16/8), di Skow, Jayapura, perbatasan RI-PNG, Komarudin menjelaskan, pesta rakyat itu merupakan kegiatan yang pertama kalinya diadakan di perbatasan.
Acara tersebut sama sekali tidak melibatkan pejabat Pemda Papua atau Muspida se-Papua. Juga tidak ada kata sambutan pejabat, yang ada hanya penampilan sejumlah seniman lokal dan warga Papua di perbatasan, termasuk warga negara PNG yang tinggal dekat perbatasan. Mereka akan menghadirkan sejumlah kesenian rakyat. Keterlibatan warga PNG itu juga ingin menunjukkan adanya kekerabatan, persaudaraan, dan perdamaian, meskipun beberapa waktu lalu ada kasus penembakan dua warga Indonesia di perbatasan.
Memaknai Pancasila menjadi penting ketika Pancasila itu terintegrasi dalam diri penduduk di batas negara, sehingga menjadi benteng Indonesia di perbatasan.
"Dia menjadi pilar di batas negara itu. Jadi, mengawal RI tidak harus dengan senjata," ujar Komarudin. Hingga berita ini diturunkan, sejumlah warga masih menyiapkan diri untuk pesta rakyat yang akan diresmikan Rabu (16/8), pukul 16.00 WIT hingga Kamis (17/8), pukul 08.00 WIT, dilanjutkan dengan upacara peringatan HUT ke-61 RI. [GAB/ROB/Y-4]