
Pengunjung pria di gerai adenium di Pameran Flora dan Fauna 2006 di Lapangan Banteng Jakarta Pusat. [Foto: Ruht Semiono]

Salah satu seri euforbia [Pembaruan/Luther Ulag]
"Kok beli lagi? Bukannya kemarin sudah?" Kalimat itu langsung keluar dari mulut Dianita melihat suaminya, Charles Manurung, membawa pulang tanaman dalam pot yang berbunga eksotik.
Si suami yang tidak mau disalahkan, mengajak istrinya memperhatikan lebih seksama bunga di tanaman itu. "Ini seri lain. Namanya Quantum. Yang kita beli dulu namanya Funny Bunny. Perhatikan bentuk mahkota bunganya. Nah, beda kan?"
Walau sekilas mirip, Dianita membenarkan bunganya memang berbeda. Bunga yang mereka perdebatkan itu adalah bunga tanaman adenium. Perbedaan terletak pada bentuk kelopak bunga. Bentuk bunga Quantum lebih lancip daripada Funny Bunny.
Adenium sendiri, ada yang menyebutnya kamboja jepang, ada pula yang menyebutnya mawar gurun. Harganya berkisar antara puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Harga itu bergantung pada ukuran bonggol, percabangan, serta asalnya. Semakin besar bonggolnya, semakin banyak cabangnya, semakin mahal harganya.
Mengoleksi adenium menjadi kegemaran baru Charles, karyawan senior di sebuah stasiun televisi swasta. Pada mulanya Dianita menggerutu. Maklum, hobi itu tergolong mahal. Paling murah sekitar 30 ribu rupiah, itu pun tanpa bunga. Bisa dihitung berapa pengeluaran kalau suaminya bertekad memenuhi koleksi yang berjumlah 80 seri?
Namun, berpikir lebih lanjut, ia menyetujui kegemaran baru suaminya itu. Suaminya jadi betah di rumah. "Daripada hobi yang lain yang membuatnya sering keluar rumah. Dia bisa menekuni hobinya ini sambil bermain dengan anak-anak. Saya pun ketularan senang," kata Dianita, yang dikaruniai dua anak usia SD. Ia pun jadi hafal nama-nama seri adenium.
Kalau awalnya ia membeli tanaman yang sudah berbunga, belakangan ia cenderung membeli anakannya. Di samping lebih murah, juga ia bisa mengikuti perkembangan pertumbuhannya. Melihat perkembangan bonggol dari hari ke hari, sungguh merupakan kepuasan sendiri. Tidak seperti anggrek, merawat adenium relatif lebih mudah. Tanaman itu tahan kekeringan.
Kaum Pria
"Penyakit" yang sama juga menimpa Agusdin, karyawan senior sebuah perusahaan penerbitan. Ia sedang jatuh cinta kepada euforbia, tanaman sukulen yang bunganya warna-warni berkat kemajuan teknik perkembangbiakan. Tak jarang ia datang dalam keadaan mengantuk di kantor, karena mengaku berkebun hingga larut malam.
Ia pun tidak sekadar mengoleksi, namun sudah mencoba memperbanyak sendiri. Tahapan berikutnya yang ingin ia pelajari adalah mengawinsilangkan tanaman itu, untuk memperoleh bunga yang cantik. Kegemaran itu ia imbangi dengan membeli buku-buku untuk menambah pengetahuan sebagai penunjang hobinya.
Hobi mengoleksi tanaman hias memang bukan hanya monopoli kaum perempuan. Sejak lama kita kenal mantan Menteri Kehakiman Ismail Saleh sangat gemar mengoleksi bonsai. Demikian pula pemusik Inisisri, dikenal sebagai perajin dan kolektor bonsai. Almarhum mantan Menteri Penerangan Budiardjo, dikenal sebagai kolektor anggrek.
Kini menjadi pemandangan umum kaum pria mengerubuti gerai buku tanaman hias di toko-toko buku. Mereka membuka-buka berbagai buku tentang adenium, aglaonema, euforbia, alokasia, anthurium, dan sebagainya, dan membeli tanpa sembunyi-sembunyi.
Juga menjadi pemandangan umum melihat kaum pria berduyun-duyun mendatangi pameran tanaman, memborong tanaman yang diincarnya. Bukan lagi tanaman-tanaman buah, namun tanaman hias.
Menyimak majalah-majalah yang mengupas soal hobi, kegemaran mengoleksi tanaman memang sudah melanda kaum pria. Dokter, eksekutif, pejabat pemerintah, mulai dilanda demam tanaman hias. Karyawan senior RCTI Mahadi, juga tercatat sebagai penggemar bonsai.
Menjadi Petani
Jika Charles dan Agusdin yang diceritakan di atas masih bergerak sebatas hobi, tidak demikian halnya dengan Kurniawan Junaedhi (50).
Ia meninggalkan jabatannya sebagai pemimpin redaksi majalah untuk sepenuhnya menjadi "tukang kebun", meminjam istilahnya. Ia menjalankan usaha membibitkan tanaman, mengumpulkan, dan menjual tanaman.
Usaha itu ditunjang kepiawaiannya mengutak-atik komputer. Menjual tanaman hias lewat komputer, menurut istilahnya. Kenyataannya, usaha itu berjalan baik. Membuka kios di kawasan Bumi Serpong Damai, pembelinya berdatangan dari seluruh penjuru Indonesia.
Kur mengawali usahanya dari hobi. Keberanian memulai usahanya itu dipicu dari kenyataan banyak orang yang naksir koleksinya. "Akhirnya, saya jualan tanaman hias," ia mengenang.
Pilihan hidup itu juga dijalani Greg Hambali, yang lama berkarya sebagai peneliti di lembaga penelitian negeri ini. Kini ia sepenuhnya menekuni usaha tanaman hias. Spesialisasinya mengawinsilangkan tanaman hias bernama aglaonema, tanaman yang oleh awam disebut sri rejeki. Kini ia dikenal sebagai trend-setter aglaonema.
Kalangan hobbyist menunggu-nunggu varitas baru yang diluncurkannya. Greg Hambali juga menjadi orang Indonesia yang mampu bersaing dengan breeder Thailand yang gencar memasarkan tanaman hiasnya ke seluruh penjuru dunia.
Kurniawan mengakui, menggeluti tanaman hias membuatnya belajar sabar. "Belajar memahami segala sesuatu itu indah pada waktunya," tuturnya.
Tati Suroyo dan Soeharto, hobbyist, kolektor, dan sekaligus pedagang besar tanaman hias, mengakui menekuni tanaman hias menjauhkan mereka dari stres. Tati, dalam usianya yang sudah menginjak angka tujuh, memulai usahanya dari hobi mengoleksi tanaman hias sejak suaminya, perwira tinggi polisi, masih mendampinginya.
Ia bersyukur hobi itu berkembang menjadi usaha, yang mampu membuatnya mandiri secara finansial maupun batin, ketika suaminya meninggal. Soeharto, pensiunan pegawai tinggi, kini dikenal sebagai pedagang besar anggrek.
Kurniawan bahkan mengatakan, dengan keberadaannya sekarang, sudah 12 bekas rekan kerjanya di tempat bekerja dulu yang bersiap maupun sudah mengikuti jejaknya, menjadi "tukang kebun".
Koleksi tanaman hias tidak hanya menjadi gaya hidup kalangan tertentu, tetapi pengusir stres yang jitu bagi kaum urban.
[Pembaruan/Sotyati]