
[SIDOARJO] Ruas Jalan Tol Surabaya-Gempol (Jalur A) dan Gempol-Surabaya (Jalur B) kembali ditutup total mulai Selasa (8/8) pukul 00.00 WIB hingga waktu yang belum dapat ditentukan terkait dengan semburan lumpur panas dari sumur PT Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.
Jalan tol ditutup PT Jasa Marga karena mengkhawatirkan keselamatan pengguna jalan tol. Tanggul sementara dari tanah dan sirtu (pasir batu) setinggi lima meter di ruas Km 38-39 dikhawatirkan jebol dan menimbulkan masalah baru.
Sebelumnya jalan tol itu sudah pernah ditutup. Pertama pada pertengahan Juni karena pembangunan tanggul pembatas, dan ke- dua akhir Juli karena pembuatan jembatan darurat dan kemudian diganti dengan gorong-gorong.
"Penutupan itu hasil rapat tertutup di Pendapa Delta Wibawa Pemkab Sidoarjo semalam," kata Kepala Jasa Marga Cabang Surabaya-Gempol, Bachriansyah, menjawab pertanyaan wartawan, Selasa pagi.
Koresponden Pembaruan yang melintas di ruas jalan tol, Senin (7/8) menjelang tengah malam, sempat melihat banjir lumpur panas di sisi tanggul mulai merembes ke jalan tol Surabaya-Gempol.
Penutupan kedua jalur jalan tol tersebut mengakibatkan penumpukan kendaraan di jalan raya lama. Simpul ruas Jalan Raya Porong-Kejapanan-Gempol yang berjarak sekitar 8 km dengan lebar rata-rata 20 m menampung ribuan kendaraan, mulai dari truk gandeng, trailer, truk boks, mobil pribadi, mikrolet, bus antarkota, mobil penumpang umum (MPU), sepeda motor, sepeda hingga becak yang datang dari empat arah, yakni Sidoarjo, Pasuruan, Malang, dan Mojokerto.
"Tim dari Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Surabaya (ITS) dalam dua hari terakhir secara nonstop meneliti kondisi (kemampuan) tanggul dan ruas jalan tol yang dirembesi banjir lumpur," ujar Bachriansyah.
Gedung Sekolah
Gedung SMP PGRI 2 Porong, Sidoarjo, sejak Senin dimasuki lumpur panas bercampur gas. Jika lumpur meninggi, proses belajar-mengajar akan terganggu.
"Semula lumpur hanya sampai pelataran sekolah, tetapi sejak Senin sudah memasuki kelas. Kami kebingungan mencari gedung alternatif untuk belajar-mengajar," kata Kepala SMP PGRI 2 Porong, Sutrisno SPd kepada Pembaruan, Senin petang.
Penyebab masuknya lumpur ke dalam kelas karena truk pengangkut pasir dan batu hilir-mudik di depan sekolah. Pasir dan batu itu digunakan untuk pembuatan tanggul agar lumpur tidak semakin meluas.
Menurut Sutrisno, sekolah perlu segera direlokasi karena dalam dua sampai tiga hari ke depan seluruh kelas akan kemasukan lumpur. Jika relokasi tidak dilakukan maka proses belajar-mengajar dipastikan terganggu.
Dikatakan, sejak lumpur memasuki pekarangan sekolah itu 29 Mei dan sampai sekarang belum teratasi banyak murid yang pindah sekolah. Kelas 1 yang semula 35 siswa sekarang menjadi 20, kelas 2 semula 40 siswa sekarang menjadi 25, dan kelas 3 semula 35 siswa sekarang tinggal 20. [070/080/029]