![Zinedine Zidane [Foto : AP Photo]](08zinedi.gif)
Sekali pahlawan, tetap pahlawan. Bagi warga Gennevilliers, Zinedine Zidane tetaplah seorang pahlawan. Warga Gennevilliers tak peduli dengan peristiwa yang "mencoreng" nama Zidane saat ia menanduk dada Marco Materazzi di pertandingan final memperebutkan gelar juara dunia pada Piala Dunia yang lalu. Warga di "kampung" itu tak pernah menganggap tindakan itu kesalahan besar, atau aib yang mencoreng nama Zidane dalam mengakhiri kariernya di persepakbolaan profesional.
Sekitar 10.000 orang menyambut kedatangan Zidane ketika sang pahlawan itu datang berkunjung ke salah satu pusat kerusuhan bernuansa etnis di Prancis beberapa waktu lalu. Mereka melambaikan bendera-bendera dan mengusung spanduk-spanduk.
Seperti dilaporkan BBC News, wilayah itu adalah daerah miskin dengan tingkat pengangguran yang tinggi. Anak-anak muda biasanya hanya nongkrong-nongkrong di sudut jalan. Namun, lingkungan seperti itulah yang akhirnya menghasilkan salah satu pemain sepakbola terbaik dunia.
Bagi Zidane, anak imigran Aljazair, tiket untuk keluar dari kemiskinan adalah bakat main bolanya yang luar biasa. Namun, meski kemudian ia tinggal di permukiman kaum kaya, ia tak pernah melupakan akarnya. Ia secara rutin kembali ke Marseilles dan melakukan acara amal untuk anak-anak.
Latar belakang dan kesuksesan membuat Zidane menjadi pahlawan bagi kaum miskin imigran Prancis, termasuk warga Gennevilliers. Ia dianggap bangkit dari ketiadaan dan mengalahkan dunia.
Warga Gennevilliers lebih memandang latar belakang dan kesuksesan Zidane.
Dan, pandangan warga Gennevilliers terhadap Zidane itu, kenyataannya, diikuti pula oleh sejumlah warga di penjuru negeri. [BBC.com/A-18]
![SM Ardan [Pembaruan/ Unggul Wirawan]](08sosoka.gif)
Berbicara soal penulis cerpen Betawi, Firman Muntaco, agaknya bukan hal yang mudah buat seorang SM Ardan. Pria kelahiran Medan 2 Februari 1932 yang akhirnya menjadi putra Betawi itu merasa tak cukup dalam mengenal almarhum Firman Muntaco.
"Saya sendiri bingung bagaimana ngomong soal Firman. Agak sulit bagi saya mengupas dan menampilkan kelebihan dan kekurangannya. Kami memang sama-sama pernah di Berita Minggu, tapi dia lebih dulu masuk di sana," kata Ardan dalam sebuah diskusi, di Jakarta, Sabtu (5/8).
Ardan mengaku sangat kagum pada sang teman, Firman Muntaco, yang banyak menghasilkan karya-karya cerpen Betawi di koran Berita Minggu. Tetapi dia menyanggah jika dianggap tahu persis karakter Firman.
Sejauh yang diketahui Ardan, pribadi Firman ter-golong agak tertutup. Ardan dan Firman agak jarang berbincang-bincang. Tetapi jika mengacu pada karya, Firman seharusnya diperhitungkan sebagai seorang sastrawan.
"Saya juga baru tahu bahwa namanya tidak tercantum dalam khazanah sastra. Saya pikir itu tidak adil," ujar Ardan yang juga pengamat film.
SM Ardan merasa prihatin dengan keberlangsungan sastra Betawi. Para penulis hebat seperti Firman Muntaco nyaris belum ada penerusnya.
" Setelah waktu berjalan sekian lama. Tidak ada penulis yang menulis serupa dia. Pada kenyataan, media pendukungnya memang tidak terbit lagi. Tetapi pengikutnya juga tidak banyak Bahkan hingga kini, kita belum melihat ada penulis cerpen Betawi seperti Firman," paparnya. [U-5]