SUARA PEMBARUAN DAILY

Status Merapi Diturunkan Menjadi Waspada

Objek wisata Kaliadem Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta yang porak poranda akibat erupsi Merapi pada 14 Juni 2006 lalu, mulai ramai dikunjungi wisatawan penikmat Lava Tour . Pada Minggu (6/8), pengunjung sudah mencapai 500 orang. Meski sudah dibuka secara resmi oleh Pemerintah Kabupaten Sleman, areal obyek wisata itu tetap dibatasi, mengingat material Merapi masih belum dibersihkan. [Pembaruan/Fuska Sani Evani]

[YOGYAKARTA] Tepat pukul 10.00 WIB, Senin (7/8) , Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta menurunkan status Gunung Merapi dari Siaga menjadi Waspada.

Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTK Yogyakarta, Subandriyo, mengatakan, setelah awan panas tidak lagi terjadi dalam tiga minggu terakhir dan data kegempaan terus menurun, maka kondisi Merapi dinilai mulai stabil mengarah ke normal.

"Dalam beberapa pekan terakhir aktivitas Merapi hanya didominasi guguran lava pijar dan gempa guguran. Awan panas, gempa vulkanik dan gempa fase banyak tidak terjadi lagi. Bahkan guguran lava pijar dari hari ke hari juga menurun kuantitasnya, seperti pada Senin (7/8) dari pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB hanya terjadi tiga kali dengan jarak luncur sejauh satu kilometer ke arah hulu Kali Gendol," ujar Subandriyo, Senin (7/8), di Yogyakarta.

Dikatakan, sehari sebelumnya, Minggu (6/7), guguran lava pijar masih terjadi hingga 30 kali, dengan jarak luncur maksimum satu kilometer. Sebagian besar guguran lava pijar tetap mengarah ke hulu Kali Gendol.

"Jarak luncur guguran lava pijar semakin pendek, pekan lalu rata-rata sejauh 1,5 kilometer, kini maksimum satu kilometer," tambah Subandriyo.

Sebagai catatan, dikatakan, aktivitas Merapi mulai meningkat pada April lalu dengan status Waspada, setelah sebelumnya aktif normal. Pada 13 Mei 2006 ditingkatkan menjadi awas, setelah awan panas terus-menerus terjadi dengan jarak luncur cukup jauh.

Status aktivitas gunung ini sempat diturunkan dari awas menjadi siaga pada 13 Juni lalu. Tetapi keesokan harinya, 14 Juni dinaikkan lagi menjadi awas, karena terjadi awan panas besar yang meluncur sejauh tujuh kilometer lebih ke selatan, menerjang serta memporakporandakan kawasan objek wisata Kaliadem di wilayah Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Sejak itu status awas terus bertahan hingga akhirnya diturunkan menjadi Siaga pada 12 Juli lalu, dan turun lagi menjadi Waspada mulai 7 Agustus 2006.

Lava Tour

Kawasan Kaliadem yang tertimbun material vulkanik Gunung Merapi di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY, resmi dibuka menjadi objek 'Lava Tour' bagi pengunjung yang ingin melihat dan mengetahui material vulkanik yang masih tertimbun di lapangan Kaliadem.

Meski Pemerintah Kabupaten Sleman mematok bea masuk relatif tinggi, atau tiap pengunjung dikenakan biaya Rp 5.000 dengan dana parkir kendaraan roda dua sebesar Rp 3.000 dan Rp 5.000 untuk mobil, tingkat kunjungan mulai meningkat. Setidaknya dalam tiga minggu terakhir, 500 tiket terjual setiap hari libur dan 100 hingga 200 tiket pada hari biasa.

Dihubungi di kantornya, Bupati Sleman, Ibnu Subianto menyatakan, untuk menata kembali kawasan Kaliadem yang porak-poranda diterjang awan panas Merapi 14 Juni lalu sekaligus mewujudkan objek 'Lava Tour', pemerintah kabupaten Sleman akan mengajukan permohonan bantuan dana ke pemerintah pusat.

Namun sementara ini, pihaknya melatih pemuda setempat dan petugas khusus, sebagai pemandu wisata, dan membatasi lokasi wisata.

Selain kawasan Kaliadem, menurut Ibnu, Pemkab Sleman juga akan menata kembali kawasan Kalitengah Lor, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan secara bertahap, untuk dipersiapkan sebagai objek wisata.

"Rencananya di Kalitengah Lor akan dibangun gardu pandang," ujarnya. [152]


Last modified: 8/8/06