
Gubernur mengimbau agar pengelola hotel berbintang, dan lokasi representatif lainnya termasuk ajang Jakarta Fair akan datang hendaknya tidak segan menggelar pameran lukisan berkualitas terutama karya seniman lukis Indonesia yang berbobot.

Seorang pengunjung melihat sebuah lukisan pada gelar pameran Kisi-Kisi Jakarta di Galeri Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara. Pameran ini menggelar 72 lukisan karaya para seniman dari berbagai daerah. [Foto: Ignatius Liliek]
iprah seniman lukis Indonesia, terutama yang mengadu nasib di Ibukota, boleh dibilang dari tahun ke tahun secara kualitas dan jumlahnya meningkat.
Namun sarana promosi sebagai upaya mempertahankan citra pelukis terutama karya-karyanya yang terbaik masih jauh dari memadai.
Bagi para seniman lukis, yang benar-benar hidup dari keahliannya sebagai pelukis, berpromosi dilakukan sesuai dengan kemampuan mereka.
Manakala karya mereka belum bisa menembus ke galeri-galeri, pelukis rela lukisannya dibariskan di trotoar, emperan toko, yang terpenting dapat dilihat masyarakat.
Namun pastilah cita-cita atau harapan mereka, setiap karya bisa dipamerkan di tempat yang layak, entah itu di lobi perkantoran, pertokoan atau hotel.
Karena melukis sudah menjadi pilihan dan menjadi sumber penghidupan, mereka tak mau ketinggalan dalam berbagai kesempatan untuk berpameran. Sehingga bukan hal aneh manakala seniman lukis mendapat kesempatan berkarya di Jakarta tidak mengenal lelah dalam mengembangkan imajinasi atau inspirasinya guna menyuguhkan karya terbaik dan sesuai fenomena kota metropolitan.
Termasuk ketika dihadapkan pada tantangan menyajikan karya terbaiknya guna meraih prestasi maksimal. Kreativitas mereka tak lagi terbendung ketika sebuah peluang ditawarkan apalagi agenda pameran sudah dijadwal rutin. Mereka pun menyambut suka cita peluang tersebut karena bisa kembali tampil di saat masyarakat membutuhkan hiburan yang sekaligus memancing turut berapresiasi.
Jakarta pun kembali menyadari kebutuhannya dalam bidang seni rupa. Ruang kota yang dipadati beton-beton serta rutinitas yang menjemukan, perlu diimbangi dengan memberikan ruang kepada seniman, salah satunya pelukis, menyuguhkan potret kota saat kini.
Seperti penuturan Gubernur DKI, Sutiyoso, ketika membuka Jakarta Art Awards 2006, baru-baru ini di Pasar Seni Ancol, Jakarta Utara, kehadiran seniman, terutama pelukis, di tengah kesibukan warga Jakarta, memang didamba. Memang dia mengakui, Jakarta belum maksimal memberikan ruang promosi.
Tapi dia melihat, Jakarta seharusnya bisa berbuat lebih banyak mengingat pelukis-pelukis terutama dari berbagai daerah juga merupakan "kekayaan" yang dapat berperan mengangkat citra bangsa. Mengingat seni merupakan nurani, apalagi seni yang indah tentu menyenangkan.
"Soal bertambahnya seniman lukis di Ibukota adalah wajar, itu menunjukkan di sini adalah kota kaya penuh yang indah, nyaman dan tenang sehingga menjadi inspirasi dan tempat berekspresi pelukis-pelukis. Mengimbangi semangat seniman tersebut, maka kita semua siap mempromosikannya, "kata Sutiyoso kepada Pembaruan, di acara itu. Dalam acara itu juga dilakukan Penyerahan 70 Lukisan Terbaik Karya Peserta Kompetisi Seni Lukis Nasional bertema "Kisi-Kisi Jakarta".
Bertitik tolak dari niatnya itu, Gubernur mengimbau agar pengelola hotel berbintang, dan lokasi representatif lainnya termasuk ajang Jakarta Fair akan datang hendaknya tidak segan menggelar pameran lukisan berkualitas terutama karya seniman lukis Indonesia yang berbobot.
Menurut Sutiyoso, ruang pameran bagi pelukis berpromosi perlu diperluas, bisa menjadi daya tarik tersendiri dalam dunia pariwisata. Dan di sisi lain, ia pun berharap kepada para seniman lukis agar karya mereka dari waktu ke waktu tidak saja meningkat dari segi kuantitas tapi juga kualitas.
Setidaknya dimulai dari ajang Jakarta Arts Awards 2006 sudah membuktikan kemampuan pelukis dari sejumlah penjuru Tanah Air tidak kalah menarik dengan perupa negara asing.
Harga Wajar
Melihat fakta tersebut maka pelukis maupun pihak pengelola karya lukisan tersebut jangan segan ditawarkan harga sepantasnya. "Begitu pula, jika penjualan via pameran lukisan seniman Indonesia berbobot lainnya di hotel berbintang yang banyak dikunjungi turis maka pasang tarif dollar saja biar sesuai selera pembeli orang asing," ujar Sutiyoso.
Bahkan dalam acara itu, ia memerintahkan agar seluruh Wali Kota dan pejabat Pemprov DKI untuk mengawali membeli lukisan karya peserta kompetisi tersebut. Sebab dia yakin karya-karya yang ditampilkan di sana bukan mustahil pada satu waktu kelak pun akan diburu para kolektor.
Satu niatan untuk mengangkat kembali potensi perupa sudah terwujud. Dan Ketua Umum Jakarta Arts Awards 2006, Ir Aurora Tambunan MSi pun berharap adanya Kompetisi Seni Lukis Nasional memperebutkan Jakarta Art Awards 2006 menjadi kebanggaan karena kegiatan dipersiapkan sebagai acara terbesar karya seni Indonesia di Jakarta.
Terbesar karena tidak tanggung-tanggung jumlah pesertanya. Di sana dipamerkan sebanyak 3.200 lukisan, satu jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kegiatan tersebut juga upaya mempromosikan kehebatan atau bisa mendongkrak kembalinya "kekuatan" seniman lukis tanah air di Jakarta yang disebut-sebut akhir-akhir ini minimal promosi. Selain kompetisi ini dalam rangka kampanye budaya kota metropolitan tahun 2006 bertajuk "Enjoy Jakarta".
70 Karya Terbaik
Sementara dari 70 karya lukisan terbaik tersebut telah lolos seleksi ketat dan transparan oleh tim juri terdiri dari Prof Srihadi Soedarsono (pelukis), Prof Sardono W Kusumo (budayawan), Agus Dermawan T (kritikus seni), Edi Sunaryo (pendidik) dan didukung dewan juri eksklusif yakni, Dr Ing H Fauzi Bowo (kolektor dan Wakil Gubernur DKI) serta Miranda Goeltom (pencinta seni) juga memberikan penghargaan khusus kepada enam pelukis.
Mereka adalah, Cubung Wasono Putra berjudul Mozaik Jakarta 2006, Cucu Ruchyat (Prey 2006), Hayatuddin (Grass Attack 2006), Julnaidi MS (Ibukota Negara Batu 2006), Paul Hendro (www.jakarta's window co.id,2006) dan Teguh Wiyatno (Apa Yang Akan Terjadi 2003).
Menurut Aurora yang juga Kepala Dinas Kebudayaan dan Museum DKI didampingi Presiden PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi, jumlah total peserta lomba lukisan bertaraf nasional tersebut melibatkan 1.179 pelukis (berasal dari 87 kota di Indonesia) dengan karyanya terdiri dari 3.200 lukisan (rata-rata setiap peserta mengompetisikan 2-5 karya lukis). Kemudian dari jumlah tersebut secara bertahap penyaringan menjadi 400 lukisan selanjutnya masuk semi final disaring 70 lukisan.
Tahap final tersisih 15 lukisan sampai terpilih enam lukisan pilihan eksklusif yang akhirnya dinobatkan sebagai pemenang lomba untuk mendapatkan awards.
Puluhan karya lukisan karya pelukis kondang Indonesia itu selanjutnya dipamerkan untuk umum di Galeri Pasar Seni Ancol, mulai 5 s/d 20 Agustus 2006.
Semangat Perupa Indonesia
Menjawab perkembangan pelukis Indonesia menurut Cubung Wasono, Julnaidi dan Cucu Ruchyat yang dikonfirmasi Pembaruan secara terpisah mengakui total peserta JAA adalah telah maksimal mengerahkan kemampuannya, dan hasil karya tersebut tidak disangsikan lagi sekaligus merupakan semangat perupa Indonesia.
Di satu sisi, adanya peningkatan semangat perupa Indonesia. Fakta tersebut, terlihat maraknya pameran lukisan di berbagai kota di Indonesia. Namun banyaknya pelukis bukan berarti akan menambah keuntungan terutama jika terkait dengan nilai penjualan.
Mendongkrak karya pelukis tanah air agar bisa menjadi kolektor warga dalam bahkan menarik investasi masyarakat luar negeri adalah masih tergantung kepada sejauhmana promosi benda seni itu.
Cubung pelukis asal Malang Jawa Timur, Julnaidi dari Yogyakarta dan Cucu asal Bandung itu mendukung adanya kompetisi seni lukis selain memacu kreativitas lebih maksimal dan diharapkan akan mendongkrak nilai karya. Sehingga penilaian tim juri yang fair dan transparan turut melestarikan seniman Indonesia.
Kritikus seni, Agus Dermawan T, menilai karya terutama enam pelukis yang mendapatkan penghargaan khusus dalam kompetisi JAA yakni, Cubung, Julnaidi, Cucu, Teguh, Hayatuddin dan Paul Hendro masing-masing memiliki ciri khas dengan menonjolkan kreasi penuh inspirasi menggambarkan secara faktual mulai sisi kehidupan, fenomena alam sampai warna Ibukota.
Disebutkan, karya Cubung dalam kegiatan tersebut bertema Mozaik Jakarta 2006 adalah goresan pada media campur di kanvas ukuran 200 X 200 cm secara jelas menggambarkan hiruk-pikuk orang-orang Jakarta.
Karya Julnaidi berjudul Ibukota Negara Batu 2006 adalah akrilik di kanvas ukuran 150 X 120 cm melukiskan kota Jakarta terdiri dari irisan batu karang raksasa. Karya tersebut selain sugesti sekaligus dekoratif dan menimalis menyimpan harmoni tiada terperi.
Karya Cucu Ruchyat bertajuk Prey 2006 cat minyak di kanvas (130 X 140 cm) menggambarkan orang berebut uang dan makanan. Padahal orang-orang tersebut digambarkan gemuk pertanda berkecukupan.
Lukisan Hayatuddin berjudul Gras Attack menampilkan provokasi estetik tentang Jakarta di abad 21. Karya Teguh Wiyatno bertajuk Berteduh adalah gambaran Jakarta era sekarang dan akan datang yang sudah sunyi senyap hanya jadi gudang kardus. Lukisan tersebut futuristic dan menegangkan.
Karya Paul Hendro berjudul www.jakartawindow.co.id adalah diurai halus mengalokasikan kayu dan logam ke dalam lukisan tentang sebuah kota yang gemilang tapi gamang.[G-5]