SUARA PEMBARUAN DAILY

17,03 Persen ORI Dibeli Ibu Rumah Tangga

[JAKARTA] Pemerintah menyerap seluruh permintaan obligasi negara ritel ORI-001 sebesar Rp 3,283 triliun. Dari sebaran pemesanan, ternyata ibu rumah tangga juga turut memesan ORI dan tercatat sebanyak 17,03 persen dari total jumlah pemesanan ORI. Sementara, wilayah yang terbanyak menyerap ORI yakni DKI Jakarta dengan jumlah pemesanan tercatat Rp 2,427 triliun.

Hal itu dikatakan Direktur Jenderal Perbendaharaan Departemen Keuangan, Mulia P Nasution, di Jakarta, Senin (7/8).

Mulia menjelaskan, profesi yang membeli ORI juga tercatat dari pegawai swasta sebanyak 23,83 persen, wirawasta 17,08 persen, pegawai negeri sipil sebanyak 16,21 persen, dan profesi lain-lain sebanyak 25,22 persen dengan jumlah sebanyak 17.403 investor.

"Ini yang menarik adalah rata-rata pesanan itu sebesar Rp 262 juta, ini kan bagus. Ini berarti tujuan kita untuk menerbitkan obligasi ritel bisa menjangkau sebanyak mungkin investor tercapai," ujar Mulia.

Sementara dari wilayah yang menyerap cukup besar yakni DKI Jakarta sebanyak Rp 2,427 triliun, Jawa Barat Rp 347,3 miliar, Jawa Timur sebanyak Rp 271,7 miliar, dan Sumatera Utara sebanyak Rp 115,4 miliar.

"Dengan memperhatikan kondisi pasar keuangan dalam negeri dan minat beli masyarakat, maka Menteri Keuangan menetapkan pemesanan pembelian yang dimenangkan sebesar tiga triliun dua ratus delapan puluh tiga miliar enam ratus lima puluh juta rupiah," ujarnya.

Lebih Tinggi

Mulia menjelaskan, nilai yang dimenangkan pemerintah memang lebih tinggi dari target indikatif yang ditetapkan sebelumnya yakni Rp 2 triliun. Alasan pemerintah, minat beli masyarakat terhadap ORI-001 cukup tinggi sehingga pemerintah pun tidak ingin mengecewakan dan mengambil seluruh penawaran yang masuk.

Apalagi penerbitan obligasi ritel ini merupakan penerbitan perdana yang pada awalnya bermunculan kekhawatiran bahwa produk yang dikeluarkan pemerintah ini tidak laku.

Dengan minat yang cukup besar dari masyarakat, ujar Mulia, menandakan bahwa investor percaya atas kebijakan fiskal yang sedang dijalankan pemerintah terutama yang berkaitan dengan penerbitan obligasi.

"Artinya, dengan penerbitan obligasi ritel ini kita sekaligus memperluas basis investor. Juga secara bertahap mengurangi exposure kita dari foreign exchange risk, syukur-syukur bisa juga menjangkau nanti investor yang sekarag menaruh uangnya entah di mana," ujar Mulia. [L-10]


Last modified: 8/8/06