[JAKARTA] Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku sedih gara-gara Indonesia belum menjadi tujuan investasi. Investor asing lebih memilih China, India, Vietnam, atau Rusia ketimbang Indonesia karena iklim usaha yang belum kondusif.
"Karena itu dibutuhkan tiga hal pokok yang patut dilakukan, yaitu kepastian hukum, perbaikan tenaga kerja dan perbaikan peraturan daerah," kata Presiden Yudhoyono ketika berpidato di hadapan peserta Rakornas Revitalisasi Pendidikan, Bio Energi dan Penanggulangan Bencana Alam, di Jakarta, Senin (7/8) sore.
Pembukaan Rakornas dengan peserta para menteri di Kabinet Indonesia Bersatu, gubernur, bupati, wali kota, Pangdam dan Kapolda, pimpinan PTN/PTS seluruh Indonesia itu dihadiri juga Wapres Jusuf Kalla dan berlangsung hingga Selasa ini.
Perasaan sedih itu, kata Presiden, muncul ketika Minggu (6/8) bertemu sejawatnya dan pengusaha di Singapura. Di forum itu Presiden berbincang-bincang soal peluang bisnis di Indonesia. Di situ ternyata justru terungkap, Indonesia belum menjadi pilihan atau tujuan bagi para investor.
Dikatakan, setiap hari reformasi, perubahan, good governance dan perbaikan iklim bisnis diteriakkan. Namun pada kenyataannya, semua itu dilihat pengusaha dan investor asing belum konkret.
Masih Kondusif
Di tempat terpisah, Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Johannes Archiadi mengatakan, iklim investasi di Indonesia sesungguhnya masih sangat kondusif dan memiliki infrastruktur yang memadai, terutama di kawasan industri (KI). Karena itu, anggapan bahwa iklim investasi di Indonesia buruk dan tidak aman, tidaklah sepenuhnya benar. Sebab, masih banyak negara yang kondisinya jauh lebih buruk dari Indonesia.Untuk membuktikan hal tersebut, HKI akan mengadakan pameran "Manufacturing Expo 2006" November mendatang. Pameran ini, tuturnya, akan memperlihatkan kesiapan Indonesia dalam menarik investasi baru dan mengembangkan investasi yang sudah ada.
Dijelaskan, pada pameran ini, pihaknya akan memperlihatkan berbagai fasilitas dan infrastruktur yang dimiliki seperti pengelolaan limbah pabrik, sarana jalan, kondisi lingkungan, termasuk regulasi pemerintah di bidang industri. Selain itu, akan dipamerkan pula produk-produk industri penunjang, jasa-jasa terkait, termasuk bursa tenaga kerja.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Jakarta Kemayoran Property, Sasmita Winata, selaku pelaksana pameran, mengatakan, kerja sama ini merupakan sinergi yang sangat bagus.
Sebab, pengelola pusat perdagangan Mega Glodok Kemayoran (MGK) ini memiliki spesialisasi pada perdagangan peralatan teknik dan komponen industri, elektronik, dan otomotif, yang bisa menjadi pemasok barang-barang yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan manufaktur, khususnya yang beroperasi di HKI. Di sisi lain, anggota HKI dapat menemukan mitra pemasok barang yang dibutuhkan. [Y-3/N-3]