[JAKARTA] Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) yang berlangsung hari ini, Selasa (8/8) akan mengevaluasi kondisi moneter sekaligus menetapkan arah kebijakan moneter ke depan. Dalam salah satu keputusannya RDG diperkirakan akan memutuskan untuk menurunkan BI Rate antara 25 hingga 50 basis poin (0,25 hingga 0,50 persen).
Dengan demikian BI Rate sebagai acuan penetapan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) akan berkisar antara 11,75 persen hingga 12 persen dibanding bulan Juli yang berada di level 12,25 persen.
Pengamat pasar uang Farial Anwar di Jakarta, Selasa (8/8) mengatakan, tidak ada alasan bagi BI untuk tidak menurunkan suku bunga, karena inflasi cenderung terkendali dan nilai tukar relatif stabil.
"Di sisi lain, dunia usaha sudah teriak agar suku bunga diturunkan, sehingga mereka bisa mengambil pinjaman lagi ke bank untuk modal kerja dan investasi," kata Farial.
Sementara itu, penyaluran kredit perbankan diperkirakan baru tumbuh pada semester II 2006, setelah stagnan pada semester I. Perkiraan tersebut didasarkan pada perhitungan bahwa Bank Indonesia (BI) kemungkinan kembali menurunkan BI Rate sebagai acuan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
Ekonom dan analis perbankan, Ryan Kiryanto di Jakarta, Senin (7/8) menyebutkan, ada lima faktor yang menjadi alasan BI menurunkan BI Rate seperti tren inflasi yang turun, nilai tukar rupiah yang stabil, respon positif investor ritel terhadap Obligasi Ritel Indonesia (ORI), suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserved yang stagnan dan harga minyak dunia yang cenderung turun.
"BI Rate diperkirakan turun 25 hingga 50 basis poin menjadi 11,75 hingga 12 persen, jangan lebih dari itu," Ryan berharap.
Turunnya BI Rate kemungkinan besar akan diikuti oleh turunnya suku bunga penjaminan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) antara 25 hingga 50 basis poin menjadi 11,50 hingga 11,75 persen.
Respons Perbankan
Penurunan tersebut tentu akan segera direspons perbankan dengan menurunkan suku bunga simpanan terutama deposito antara 50 hingga 100 basis poin, sehingga bunga deposito berada pada 9 hingga 11 persen.
"Kemudian, bank akan menurunkan suku bunga kredit menjadi 14 hingga 16 persen," ujarnya.
Penurunan suku bunga kredit bank tentu akan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong sektor riil. Penurunan bunga kredit ini akan lebih baik jika diiringi dengan penerapan beberapa paket kebijakan ekonomi, investasi dan keuangan yang lebih serius, termasuk penanganan birokrasi ekonomi biaya tinggi dengan jaminan kepastian hukum dan konsistensi kebijakan.
Dia menambahkan, penurunan BI Rate, suku bunga penjaminan dan suku bunga bank diharapkan bisa mendorong ekspansi kredit tahun ini menjadi 13 hingga 16 persen. Kendati masih di bawah target pertumbuhan yang ditetapkan sebelumnya 18 persen, tetapi paling tidak ada pemberian kredit baru dan tambahan fasilitas kredit serta pencairan kredit yang sudah diputus sebelumnya yang mencapai Rp 150 triliun.
Dia mengimbau bank-bank agar tidak terlalu tergantung pada penurunan BI Rate, seandainya mereka bisa lebih efisien dan menguasai pasar. "Bank semestinya bisa menjadi pionir penurunan suku bunga," komentar Ryan.
Wakil Direktur Utama PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BII) Armand B Arief mengatakan, penyaluran kredit sangat tergantung pada stabilitas moneter secara umum dan stabilitas ekonomi makro. "Otomatis kalau suku bunga turun khususnya bunga kredit di bank, tentu volume kreditnya akan naik," tukas Armand.
Sementara itu, ekonom dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) Pande Radja Silalahi berpendapat, agar kredit bisa tumbuh, tentu gairah dunia usaha harus dibangkitkan terlebih dahulu.
"Untuk membangkitkan gairah dunia usaha, permintaan seperti BI Rate mesti 10 persen harus dipenuhi," saran Pande.
Kendati demikian, untuk menurunkan BI Rate seperti yang diinginkan pengusaha dalam waktu dekat rasanya masih sulit. Sebab, BI dan pemerintah sebentar lagi akan dihadapkan pada bulan puasa, Lebaran, Natal dan Tahun Baru yang secara reguler membuat tren inflasi naik. [B-15]