SUARA PEMBARUAN DAILY

Belajar dari Solo untuk Benahi Pasar Tradisional

Wajah Sumija berseri-seri. Perempuan setengah baya ini begitu menikmati pekerjaannya di Pasar Klitikan Notoharjo, Surakarta, Jawa Tengah. Dengan gembira ia menata barang dagangannya dan menawarkan kepada setiap orang yang menengok ke kiosnya.

Sumija dan ratusan pedagang baru saja menempati kios-kios yang tersebar di pasar. Sebelumnya selama berpuluh tahun, mereka menempati lapak-lapak kaki lima di Monumen 45 Banjarsari, Solo. Kini mereka menempati Pasar Klitikan yang dibangun dan disediakan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta.

Di pasar yang baru diresmikan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Suryadharma Ali itu, terdapat 1.018 pedagang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 989 pedagang merupakan mantan pedagang kali lima (PKL).

Sebagian besar dari mereka menjual suku cadang, aksesori, dan beraneka peralatan otomotif. Memang ada yang bekas, tetapi tidak sedikit yang menjual barang baru.

Siapa tak senang. Selain tempat yang bersih, suasananya pun berbeda dengan di lokasi lama. Pasar baru ini cukup nyaman. "Saya bersyukur mendapat tempat yang baik untuk berdagang," tutur Sumija.

Tak heran kalau Sumija bersyukur. Di tempat baru ini, omzetnya meningkat signifikan. Sumija dan kawan-kawan mendapat julukan dari Wali Kota Surakarta, Jokowi yang menyebut mereka sebagai saudagar baru.

Konsisten

Memang pedagang senang, tetapi mereka tetap berharap, Pemkot Surakarta benar-benar konsisten memperhatikan para pedagang kecil yang notabene masuk kategori usaha kecil dan menengah (UKM). Harapan itu sangatlah wajar, mengingat di beberapa kota besar, termasuk Solo sendiri, sudah bertebaran berbagai mal yang berdesain mewah dan dilengkapi penyejuk ruangan.

Kehadiran mal-mal megah ini, bagi para pedagang di pasar tradisional, bak kompetitor raksasa yang siap "menelan" mereka. "Kami berharap, Wali Kota tetap memperhatikan kami," ujar Nurhadi, pedagang lainnya.

Jokowi berkomitmen, meski sudah empat pasar modern berdiri megah di kotanya, tetapi pihaknya tetap mengutamakan pasar-pasar tradisional. Keberadaan pasar-pasar tradisional merupakan aset yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja karena terbukti telah memberikan kontribusi PAD yang cukup besar, yakni Rp 12 miliar. "Karena itulah kami tidak akan meninggalkan mereka," Jokowi berjanji.

Pasar Klitikan merupakan satu dari 38 pasar tradisional yang tersebar di Solo. Saat ini, Kota Solo sibuk merenovasi tujuh pasar tradisional. Tiga di antaranya direnovasi total.

Langkah Pemkot Surakarta bisa menjadi contoh kota-kota besar lainnya, termasuk Jakarta sebagai ibu kota negara, untuk memberdayakan pasar tradisional.

Semakin hari kita melihat keberadaan pasar tradisional makin terhimpit. Banyak pasar tradisional di kota besar yang mati suri. Hidup segan, mati pun tak mau.

Dalam hal ini keseriusan dan konsistensi pemerintah daerah sangat diharapkan. Sumija dan kawan-kawan tak mau terbuai dengan julukan hebat. Harapan mereka sesungguhnya Pemkot tidak hangat-hangat tahi ayam. Label "saudagar" yang diberikan kepada Sumija dan kawan-kawan jangan hanya untuk menyenangkan hati mereka.

Saudagar mengandung makna keuletan dalam memupuk usaha, sedikit demi sedikit. Tidak kenal lelah dan mau bersusah payah mengembangkan usaha yang kecil sekalipun. Ini telah terbukti. Selama bertahun-tahun mereka mencari sesuap nasi di lokasi yang tidak layak. Namun, mereka membuktikan tangguh bertahan hidup.

Jangan sampai, keuletan mereka sia-sia hanya karena pemerintah yang tak bijak dan tidak serius pada nasib rakyat kecil! u

[Pembaruan/Steven Setiabudi Musa]


Last modified: 8/8/06