eberapa jam sebelum maut menjemput, Agus Muliawan masih menjalankan kewajibannya. Kameranya masih terus menyapu rumah-rumah yang hancur.
Kameranya juga masih bisa mengambil gambar dari jarak dekat saat para pengungsi Timor Timur menyambut baik kedatangan beberapa rohaniwan Katolik. Kamera video mini merek Panasonic yang dibawanya sekitar pukul 16:00 waktu setempat malah masih sempat menangkap tulisan "Darah Akan Terus Mengalir" di sebuah dinding rumah. 25 September 1999 saat itu.
Setelah itu, Agus dan rohaniwan yang bersamanya tewas dibunuh. Tapi kematiannya baru diketahui beberapa hari kemudian. Timor Timur saat itu masih dilanda prahara. Hasil jajak pendapat menyatakan rakyat Timor Leste ingin memisahkan diri dari Indonesia.
Penggalan hasil kerja jurnalistik Agus Muliawan diputar di Teater Utan Kayu Jakarta, Senin (7/8). Selain dokumentasi hasil karya Agus, dalam film itu diputar pula sejumlah wawancara mendalam terhadap orang-orang yang pernah bertemu dengan jurnalis muda lulusan Jurusan Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM).
Film yang dibuat Agus menggambarkan kehidupan Falintil, di sebuah lokasi rahasia di daerah Baucau, Timor Timur. Jurnalis yang meliput untuk kantor berita Asia Press Institute itu berhasil meraih kepercayaan kelompok yang sejak lama berperang dengan TNI.
Dari film yang diputar terlihat betapa Agus tekun mengambil gambar bukan hanya situasi saat para anggota Falintil dan keluarganya menyambut informasi mengenai hasil jajak pendapat di Timor Timor yang menyatakan bahwa rakyat di provinsi termuda di Indonesia itu ingin memisahkan diri dari Indonesia. Ia tidak lupa mencatat detail hasil liputannya dalam sebuah buku.
Karya Agus bisa saja dinilai tidak sempurna dari sisi pengambilan gambarnya. Namun ketekunan dan keberaniannya memasuki markas kelompok bersenjata yang sering disebut tidak bersahabat dengan orang Indonesia jelas harus mendapat catatan tersendiri.
Lepas dari persoalan politik, menarik sekali mengikuti perjalanan jurnalistik Agus yang juga tekun mewawancarai Komandan Falintil di Baucau, Eli Foto Rai Boot dan juga merekam kehidupan penduduk setempat.
Studio televisi NHK Jepang kemudian menggabungkan karya Agus dengan wawancara serta pengambilan gambar yang barkaitan dengan hari-hati terakhir Agus. Maka lahirlah film Black September in East Timor yang diputar dalam kaitan ulang tahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ke-12.
Selain film tersebut, panitia peringatan juga memutar film dokumenter karya David O'Shea dari SBS Australia berjudul Indonesia's War On Terrorist. Film ini mengetengahkan investigasi David mengenai keterlibatan aparat intelijen Indonesia dalam berbagai aksi teroris di Indonesia.
Ketua AJI, Heru Hendratmoko menjelaskan, kedua film itu sengaja diputar untuk mengingatkan kembali arti penting semangat investigasi dan keberanian untuk menghadapi segala risiko yang mungkin datang saat para jurnalis menjalankan tugasnya.
Jurnalis Indonesia
Dalam film Black September in East Timor, sejumlah saksi mata yang ditemui jurnalis NHK memberikan pengakuan bahwa Agus sempat berteriak, "Saya jurnalis Indonesia" Tapi peluru membungkam mulut sekaligus mengakhiri hidupnya. Agus meninggal dunia bersama biarawati asal Italia, Herminia, suster asal Timor Loro Sae dan tiga rohaniwan pria lainnya. Mayat mereka berada dalam mobil Daihatsu Taft Hiline yang ditemukan dalam sebuah sungai antara daerah Los Palos-Baucau.
Eli Foto Rai Boot dalam wawancara dengan NHK mengungkapkan bahwa dirinya sempat melarang Agus untuk meninggalkan Baucau menuju Los Palos. Alasannya apa lagi kalau bukan keamanan menyusul beredarnya informasi mengenai aksi kekerasan oleh para milisi.
NHK malah berhasil mewawancarai koordinator mantan milisi yang memerintahkan pencegatan dan pembunuhan terhadap Agus. Namun film Black September ini East Timor tidak mengaji ulang apakah benar milisi yang memberikan keterangan itu memang pelaku pembunuhan terhadap Agus dan para rohaniwan Katolik.
Lepas dari persoalan tersebut, Lexi Rembadeta pengelola rumah produksi film-film dokumenter Offstream menilai, film karya Agus menunjukkan kegigihan sang jurnalis untuk mendapatkan informasi di tengah ancaman terhadap keselamatannya. [A-14]