![Wimar Witoelar dan Fira Basuki[Foto: Arief Suharto]](0731wima.gif)
Di panggung kecil yang berlatar belakang piano, duduk Wimar Witoelar sambil menutup wajah dengan kedua belah telapak tangannya. Wimar menangis, tak kuasa menahan sedih tatkala Shahnaz Haque sebagai pembawa acara membicarakan tentang sakit Rachmat Witoelar, Menteri Negara Lingkungan Hidup, yang juga kakak kandung Wimar.
Keterharuan itu juga menjalar pada Fira Basuki, penulis buku yang malam itu meluncurkan biografi tentang Wimar Witoelar berjudul Hell Yeah!. Sementara Rachmat Witoelar duduk terdiam di kursi didampingi Erna Witoelar. Dia terlihat sudah cukup sehat dan selalu tersenyum. Keharuan itu segera sirna setelah pecah tepuk tangan dari pengunjung di The Pakubuwono Resindence, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu.
Wimar tampaknya tidak mampu menyimpan keterharuannya setelah sempat melihat bagaimana kakak tercinta jatuh pingsan dalam sebuah acara dengan Angkatan Laut. "Saya dengan badan gede begini sebenarnya tidak ingin menangis. Sebab saya sempat lihat orang Jerman yang gede-gede menangis waktu kalah sepak bola, sebel juga ngeliat orang badan gede tapi menangis," katanya disambut tertawa hadirin.
Dalam peluncuran buku biografi setebal 282 halaman terbitan Grasindo itu, hadir keluarga, sahabat, teman dekat, bahkan oarang-orang yang biasa bertemu dengan Wimar. Dalam kesempatan itu dihadirkan juga seorang sahabat Wimar bernama Judi. Di saat masih jadi mahasiswa ITB, menurut Wimar, Judi adalah mahasiswa miskin. Tidak punya rumah dan kendaraan. Tapi dia pandai masak nasi goreng. Masakannya disukai Wimar. Mereka bersahabat dalam membuat nasi goreng.
Judi lalu terlupakan oleh Wimar. Sekian tahun kemudian, saat Wimar akan mengajak istrinya ke Indonesia, dia sadar tidak punya mobil. "Lalu Judi datang yang saat itu sudah jadi orang kaya, punya beberapa rumah di Dago. Dia menawarkan mobilnya, Mini Cooper untuk saya pakai selama beberapa minggu. Jadi dia memang sahabat sejati saya," kata Wimar.
Soal biografi, Wimar mengaku ada yang menawarkan padanya untuk membuat. Tapi hatinya belum tersentuh. Sampai suatu saat dia berkenalan dengan Fira Basuki, penulis buku yang juga wartawan. Fira saat itu menumpahkan uneg-unegnya tentang penulisan biografi. Selama ini yang dibaca, bentuk biografi selalu standar. Menceritakan masa lalu, masa keberhasilan, dan data-data. "Cara ini yang mungkin membuat generasi di bawah saya malas baca biografi. Oleh sebab itu saya jadi tergoda untuk buat biografi yang funky. Yang dibuat dengan gaya bahasa santai, terus semua kalangan bisa masuk bacanya," kata Fira.
Uneg-uneg itulah yang jadi daya tarik buat Wimar. Maka tanpa diminta Wimar setuju saja kalau Fira membuat biografi dirinya dengan gaya novel. "Sambutan ini yang bikin saya gugup," aku Fira.
Selanjutnya Fira mengaku menemui banyak kejutan ketika mulai menyusun biografi Wimar. Apalagi Fira juga mulai membuntuti kegiatan Wimar setiap hari. Banyak orang menemui Wimar dan ternyata bukan hanya dari kalangan pejabat, pengusaha, dan mahasiswa. Wimar berteman dengan berbagai kalangan. Ini bisa dilihat bagaimana buku biografi Wimar memuat komentar dari berbagai kalangan. Selain tokoh selebriti, seperti Garin Nugroho, Dana Iswara, Ade Rai, Nia Dinata, Hanung Bramantyo, Shahnaz Haque, Sarwono Kusumatmadja, Yayuk Basuki dan yang lainnya, disitu ditulis juga komentar dari Echi, seorang pegawai salon yang jadi langganan Wimar kalau creambath. Lalu ada juga Suprapto, seorang petugas Satpam pertokoan Pondok Indah yang sering dikunjungi Wimar.
Begitu dinamis, sehingga dalam menyusun ceritanya juga menyenangkan, ujar Fira menjelaskan. Wimar memang unik, jadi tidak heran kalau biografinya juga didesain dengan unik. Sampulnya justru menampilkan foto dirinya dengan Fira Basuki. Ini bisa membuat orang bingung, biografi Wimar sendiri atau bersama Fira Basuki. [Ars/B-8]