SUARA PEMBARUAN DAILY

PERSONALITAS

Setia Melestarikan Lawak Gaya Ludrukan

Kartolo [Pembaruan/Teguh LR]

Tak ada hari tanpa tawa. Siapa pun, jika terlibat dalam obrolan santai dengannya, pasti akan sering tertawa. Kehidupan sehari-harinya memang tak lepas dari mbanyol dengan gaya ludrukan, tak jauh berbeda dengan gaya penampilannya di panggung.

Memang seperti itulah Kartolo, seniman Ludruk, kesenian khas Jawa Timur. "Tertawa itu sehat, lo," katanya kepada Pembaruan, belum lama ini.

Alasan itulah yang menyebabkan Kartolo mengedepankan lawak dengan gaya ludrukan, ketimbang menampilkan Ludruk secara utuh. Terutama ketika kesenian itu terus meredup seiring perkembangan zaman.

Kreativitas Kartolo dan kawan-kawan menampilkan lawak bergaya ludrukan mampu mengangkat kembali pamor Ludruk. Kartolo dan kawan-kawan mampu merangsang antusiasme masyarakat yang ingin menyaksikan pentas lawak Ludruk secara langsung.

Karena memang bahasa yang digunakan Suroboyoan dan Jawa Timuran, lawak Ludruk pun hanya dikenal di daerah itu. Berbeda dengan ketoprak humor yang pernah ditayangkan secara nasional melalui televisi swasta, yang cepat populer karena menggunakan bahasa campursari, Indonesia campur Jawa.

"Saya berbuat dengan gaya saya sendiri, agar Ludruk tidak hilang begitu saja. Sekarang diperlukan sutradara Ludruk modern, untuk mengangkat kembali kesenian ini supaya tidak punah," kata Kartolo di rumahnya, di kawasan Kupang Jaya I, Surabaya.

Bapak Angkat

Pria yang dilahirkan di Watu Agung, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, pada 2 Juli 1947 itu berpendapat Ludruk akan semakin terpuruk jika tetap bertahan dengan keadaan seperti selama ini. "Harus berani menampilkan cerita-cerita dari daerah lain dan menggunakan bahasa Indonesia, bahkan kalau perlu bahasa Inggris," kata Kartolo yang mempersunting Kastini, penari Ludruk yang juga aktif menjadi lawak ludrukan.

Tetapi, ia menekankan, Ludruk modern tetap harus mempertahankan pakemnya, yakni tari Remo, kidungan, dan instrumen kendang yang menjadi kekuatan derap langkah Remo serta pemain kesenian itu di atas pentas.

Di Surabaya, pernah ditampilkan Ludruk elektrik. Sebagian instrumen yang digunakan organ dan gitar, dipadukan dengan perangkat tabuhan khas Ludruk seperti gambang, kendang, dan gong. Kenyataannya, ludruk modern yang sebagian besar pemainnya mahasiswa itu tidak bertahan lama. Bukan masalah inovasi yang menyebabkan keberadaannya tak bertahan lama, namun lebih karena tidak mempunyai bapak angkat yang peduli terhadap kelestarian Ludruk.

Bapak angkat memegang peran penting agar Ludruk tetap eksis. Melalui bapak angkat diharapkan rumah Ludruk bisa mendatangkan bintang, guna menyedot penonton.

Kartolo memprihatinkan kenyataan rumah-rumah Ludruk terus bergeser dari kota ke daerah-daerah pinggiran. Tetapi, di daerah pinggiran pun penonton Ludruk terus merosot. Bapak angkat diharapkan Kartolo mampu membiayai kebangkitan Ludruk, di antaranya dengan mengangkat Ludruk ke layar televisi dengan format baru.

Ia menunjuk kenyataan masyarakat sekarang lebih menyukai berada di rumah. Tayangan televisi-televisi swasta, menurut pendapatnya, sudah mampu memberikan pilihan hiburan.

95 Volume

Derap langkah Kartolo melestarikan Ludruk diawali dengan melakukan kolaborasi dengan Karawitan Sawunggaling Surabaya pimpinan Nelwan'S Wongsokadi. Mereka masuk dapur rekaman untuk merekam kidungan parikan diselingi guyonan pada era 1980-an.

Dalam kurun waktu itu 95 volume berhasil direkam dan dilempar ke pasar. Di luar dugaan, sambutan masyarakat Jatim luar biasa. Album-album barunya senantiasa ditunggu penggemarnya.

Meskipun sekarang jarang masuk dapur rekaman, Kartolo dan kawan-kawan masih sering mendapat panggilan naik pentas. Dalam satu bulan rata-rata lima kali naik pentas. "Ketika kondisi perekonomian normal, kami pentas bisa lebih sepuluh kali dalam satu bulan," katanya.

Dalam pentas-pentas resmi, lawak Ludruk ala Kartolo itu sering pentas bersama kesenian campursari, dangdut, bahkan menjadi bintang tamu pertunjukan wayang kulit.

Ia tak pernah melantunkan syair kidungan yang telah dikasetkan, agar penonton tidak bosan mendengarkan lawakannya. Ia pun selalu mencatat isi lawakan yang pernah ia sampaikan di pentas. Cara itu ia pilih untuk terus menggali isi lawakan baru.

Lingkup pentas pelaku seni ini pun tidak hanya terbatas di 38 kabupaten dan kota di Jatim. Ia juga menerima undangan naik pentas di Jakarta, Bontang, Batam, serta beberapa kota di Nusa Tenggara Barat.

Sebagai sosok yang dikenal luas, wajar jika Kartolo dan kawan-kawan banyak didekati partai politik (parpol) untuk dijadikan pengumpul massa da- lam kampanye pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah. Khusus yang satu itu, Kartolo menolak.

Meskipun nilai kontrak dengan parpol tergolong tinggi, tetapi pria yang pernah bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil itu tidak tergiur. "Penggemar kami ini masyarakat luas, jadi kami tidak mau dikontrak parpol untuk kepentingan sesaat," ia beralasan.

Pria yang dikenal rendah hati dan murah senyum ini berkecimpung dalam kesenian Ludruk sejak kecil. Wajar jika Ludruk sudah mendarah daging.

Ia meniti karier di beberapa grup Ludruk. Ia pernah bergabung dengan Ludruk Dwikora milik Zeni Tempur V Lawang, Malang, dan Ludruk Marinir Gajah Mada Surabaya.

Sebelum membentuk lawak Ludruk, Kartolo bergabung dengan Ludruk RRI Surabaya, bersama seniman ternama lainnya seperti Markuat, Kancil, dan Munali Fatah.

Meskipun pasangan Kartolo dan Kastini sama-sama seniman Ludruk, ketiga anaknya, yakni Agus Slamet (meninggal ketika masih kecil), Gristyaningsih dan Dewi Trianti, tidak ada yang mengikuti jejaknya. Kedua anaknya bergelar sarjana.

Pada masa penjajahan dulu, Ludruk dikenal sebagai alat propaganda untuk mempengaruhi massa. Dari Ludruk lahir syair monumental karya Cak Durasim yang membuat Jepang marah. "Pagupon omahe dara, melok Nipon tambah sengsara (Pagupon kandang burung dara, ikut Nipon (Jepang) bertambah sengsara)."

Pada masa pembangunan, kesenian Ludruk pun dijadikan sebagai ajang untuk menggelorakan pembangunan. Begitu pula pada era industrialisasi ini, keinginan Kartolo Ludruk tetap eksis. [Pembaruan/Teguh LR]


Last modified: 10/7/06