
Tentara Australia berjaga di depan sebuah rumah yang dibakar oleh orang-orang yang tidak diketahui jatidirinya di Dili, Timor Leste, Rabu (28/6). Ketegangan di Dili meningkat menyusul saling lempar batu di kamp-kamp pengungsian yang melibatkan pendukung mantan Perdana Menteri Mari Alkatiri.[AFP /Dominic Nahr]
[DILI] Warga Kota Dili, Kamis (29/6), mengaku sangat cemas karena ribuan pendukung Mari Alkatiri berencana berdemonstrasi di ibu kota negara Timor Leste tersebut.
Saat ini, massa sudah berada di Kota Metinaro, sekitar 25 kilometer sebelah timur Dili. Mereka sudah mengantongi izin dari pasukan penjaga perdamaian Australia agar diberikan akses masuk ke Dili untuk memberi petisi kepada Presiden Xanana Gusmao dan berdemonstrasi menolak pengunduran diri Alkatiri.
Seorang juru bicara kelompok tersebut mengatakan, mereka ke Dili hanya ingin memberikan sebuah petisi ke Presiden Xanana agar membatalkan pengunduran diri Alkatiri sebagai perdana menteri.
Di Kota Dili, massa anti-Alkatiri dan beberapa petinggi Partai Fretilin, yang sebagian besar berasal dari kawasan barat Timor Leste, berunjuk rasa di jalan-jalan kota. Tapi banyak dari mereka, sejak kemarin malam, kembali ke rumah masing-masing untuk menghindari pertikaian dengan kelompok pendukung Alkatiri.
Alkatiri mengundurkan diri sebagai perdana menteri pada Senin (26/6) lalu. Dia dituduh menghasut para pendukungnya untuk melancarkan protes. Istri Presiden Xanana Gusmao kelahiran Australia, Kirsty Sword Gusmao, mengatakan, Alkatiri secara berlebihan meningkatkan ketegangan di Dili dengan cara-cara menghasut. "Dia berbicara kepada massa Fretilin dengan cara-cara menghasut," katanya seperti dilaporkan The Australian, Kamis.
Selain Alkatiri, Presiden Partai Fretilin Francisco "Lu Olo" Guterres, juga tiba-tiba berada di Metinaro, sebuah kota di timur Dili, dan berbicara kepada ribuan pendukung Alkatiri agar segera ke Kota Dili, hari ini.
Sementara itu, Amerika Serikat (AS) mendukung perpanjangan misi PBB di Timor Leste untuk membantu negara tersebut keluar dari krisis, kata Asisten Deputi Menteri Luar Negeri AS Eric John dalam dengar pendapat dengan anggota Kongres AS, Rabu (28/6).
Misi PBB saat ini di Dili sudah diperpanjang hingga 20 Agustus 2006 dan Washington tengah mendekati sejumlah negara yang disebut kelompok inti, seperti Australia, Brasil, Inggris, Malaysia, Selandia Baru dan Portugal untuk membuat sebuah rencana batu membantu Timor Leste.
"Semua negara itu ingin PBB bekerja di Timor Leste. Kami siap membantunya," kata John seperti dilaporkan kantor berita Reuters. [AP/BBC/L-8]