SUARA PEMBARUAN DAILY

SJerman selayang Pandang

Sepakbola dan Pengorbanan Penonton

Suporter Argentina dan Belanda berpose bersama sebelum dimulainya pertandingan Grup C Piala Dunia antara Argentina dan Belanda, di Frankfurt, Rabu (21/6). Para suporter rela datang jauh-jauh dari negaranya dan berdandan dengan berbagai aksesoris yang mahal untuk memberikan dukungan dan semangat kepada tim kesayangan mereka. [AFP/Thomas Lohnes]

Permainan sepak bola bukanlah hanya urusan 22 orang pemain di atas lapangan rumput. Ada sejumlah faktor di luar mereka yang cukup menentukan. Salah satunya penggemar.

Mereka ini sering disebut pemain ke-12 bagi masing-masing kesebelasan. Bayangkan! Betapa sepinya sebuah pertandingan tanpa kehadiran mereka. Sepakbola memang sudah menyihir siapa pun sehingga orang bisa tergila-gila dengan bola. Orang-orang seperti ini, bisa melakukan apa saja demi bola.

Antara pemain di lapangan dan para penggemarnya terutama yang hadir di stadion ada hubungan dan ikatan emosional yang sangat tinggi. Coba perhatikan! Penonton bisa tergila-gila di tribun menyaksikan dan mengelu-elukan pemain dan kesebelasan idamannya yang berlaga di lapangan. Sepanjang 2x45 menit mereka berteriak tanpa henti, bernyanyi dan rupa-rupa hal dibuat untuk menyemangati kesebelasan kesayangannya.

Ada banyak ekspresi di sana. Ketika tim kesayangannya berhasil menjebol gawang lawan, teriak kegirangan gegap gempita memenuhi stadion. Wajah mereka ceria. Tetapi pada saat bersamaan, penggemar dari kesebelasan yang kemasukan gol menampakkan muka murung dan sedih. Apalagi kalau kesebelasan kesayangannya itu kalah. Mereka menangis.

Aksi para pemain di lapangan setelah mencetak gol pun setali tiga uang. Ingat apa yang dilakukan pemain tengah Portugal Maniche yang berlari ke arah pendukungnya seorang diri setelah mencetak gol ke gawang Belanda? Dia merayakan gol itu bersama penggemarnya. Dan setiap pemain punya kekhasan masing-masing menyapa fansnya. Ada kegairahan di sana. Itulah seni sepak bola.

Pengorbanan

Tetapi ada satu hal yang sama antara para pemain dan penggemar yaitu pengorbanan. Dari sudut pemain, mereka bisa melakukan apa saja untuk kemenangan timnya. Tentu tetap harus mematuhi rambu-rambu dan aturan-aturan dalam sepakbola. Pengorbanan itu tentu saja harus diimbangi dengan teknik individu yang tinggi, mental bertanding yang bagus, kemampuan bekerja sama dalam tim, tidak egois dan mau bekerja keras.

Penggemar sepak bola pun bisa melakukan apa saja hanya untuk menyaksikan secara langsung saat timnya berlaga. Fans seperti ini sangat fanatik. Pada piala dunia 2006 di Jerman, penggemar tim nasional masing-masing negara seperti Elsego Ayala dari Meksiko, Laura Dubuy dari Argentina, Yoonjeong Bae dari Korea Selatan atau Viviana Meza Alvarado dari Kosta Rika.

Mereka datang jauh-jauh dari negara masing-masing hanya untuk menyaksikan tim kesayangannya berlaga di Piala Dunia 2006 ini. Meskipun ada juga di antara mereka yang menyaksikan langsung Piala Dunia sambil berbulan madu. Tetapi apa pun ini pengorbanan yang sangat luar biasa.

Elsego Ayala (32), salah satu fans tim nasional Meksiko misalnya sudah menabung berbulan-bulan hanya untuk menyaksikan tim kesayangannya berlaga di Jerman. Sayangnya, langkah Meksiko terhenti di babak 16 besar setelah dikalahkan Argentina dengan skor tipis 2-1.

"Saya senang sekali berada di sini. Indah sekali di sini, bisa bergabung dengan semua fans dari macam-macam kesebelasan. Dan orang Jerman sangat ramah kepada kami. Ini seperti di dunia lain," ujarnya.

Elsego pun keliling Jerman, ke tempat-tempat Meksiko bertanding melawan Iran, Angola dan Portugal di Grup D. Meski tim kesayangannya kalah 2-1 dari Portugal, dia tetap senyum.

Luara Dubuy (29) bersama suami dan beberapa temannya juga datang jauh-jauh dari Argentina hanya untuk melihat aksi para bintang tim Tango. Dia datang dari sebuah kota kecil di luar Buenos Aires, Uzul. "Saya tidak percaya bahwa saya bisa berada di sini. Ini sangat fantastis, suasananya sangat fantastis, segala sesuatunya fantastis. Semua orang yang kami jumpai di Jerman ini sangat ramah," kata Laura sambil tersenyum bangga di bawah terpaan sinar mata hari musim panas.

Laura sendiri sebenarnya adalah fans berat klub Argentina, Boca Juniors dan pemain favoritnya di tim nasional Argentina adalah pemain muda berbakat yang disebut-sebut sebagai titisan legenda sepak bola Argentina Diego Maradona, Lionel Messi dan Hernan Crespo.

"Saya sungguh beruntung bisa dapat tiket untuk tiga pertandingan pertama Argentina. Dan saya tidak percaya, betapa kami bisa menikmati waktu-waktu indah ini," ujarnya.

Dia pun berharap timnya bisa terus menang dalam seluruh pertandingan yang dilewati karena Argentina memiliki skuad yang berkualitas tinggi dan memainkan sepak bola cantik. Bahkan dia berharap timnya bisa masuk final dan menjadi juara dunia.

Lain lagi Yoonjeong Bae (25) penggemar tim nasional Korea Selatan. Dia baru saja menikah dan memilih berbulan madu di Jerman hanya untuk menyaksikan Tim Korea Selatan berlaga pada piala dunia 2006 secara langsung.

Bagi Yoonjeong dan suaminya, ini adalah kesempatan yang sangat indah. Karena pada Piala Dunia 2002 lalu di negerinya, mereka hanya bisa menikmati di jalan-jalan Korea Selatan, lewat layar lebar. Tetapi sekarang dia bisa menyaksikan tim kesayangannya berlaga secara langsung di dalam stadion. "Kami sangat bahagia. Sebelumnya, hanyalah impian berada di sini menyaksikan pesta akbar ini. Di Korea/Jepang empat tahun lalu, kami hanya menonton pertandingan di jalan-jalan dan sekarang di sini kami berada di dalam stadion. Ini sangat luar biasa," ungkap pasangan itu.

Viviana Meza Alvarado (16) dari Kosta Rika mengungkapkan hal serupa. Dia bersama keluarganya datang jauh-jauh dari Amerika Tengah, tepatnya dari Herdia, sekitar 200 kilometer di luar ibu kota Kosta Rika, San Jose hanya untuk menyaksikan secara langsung tim Kosta Rika pada piala dunia 2006. Mereka sama sekali tidak pernah menyaksikan Piala Dunia sebelumnya secara langsung.

Meskipun timnya kalah 4-2 dari Jerman di partai pembukaan, dia tetap yakin timnya akan melaju. Tetapi sayang, langkah timnya terhenti setelah juga ditekuk Ekuador dan gagal masuk 16 besar.

"Seluruh pengalaman kami ini sangat magis. Saya tidak bisa mempercayainya. Orang-orang di sini sangat-sangat bersahabat. Ini adalah pengalaman yang indah. Kosta Rika tidak pernah main pada pembukaan Piala Dunia sebelumnya tetapi sekarang terjadi dan saya berada di sana. Dan pengalaman ini tidak akan pernah terlupakan. Karena saya tidak pernah memimpikan pergi dan berada bersama tim negara kesayanganku dalam piala dunia serta bertemu dengan berbagai macam orang dari macam-macam negara," ungkapnya.

Yah, bola telah menyihir mereka yang kemudian melahirkan pengorbanan luar biasa untuk datang ke Jerman menyaksikan tim kesayangannya berlaga. Dan benar adanya, bola itu memang menggilakan. [Pembaruan/Alex Madji]


Last modified: 29/6/06