SUARA PEMBARUAN DAILY

Diharapkan "Snubbing Unit" Temukan Titik Semburan

[SIDOARJO] Pemasangan snubbing unit, alat pendeteksi luapan lumpur oleh PT Lapindo Brantas, pada Kamis (29/6), ke sumur Banjarpanji (BJP) 1, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, diharapkan bisa menemukan titik semburan sehingga bisa segera dilakukan penutupan. Snubbing unit ini akan menghimpun data pengeboran di sumur BJP-1.

Demikian dikatakan General Manager PT Lapindo Brantas, Imam Agustino di Sidoarjo, Rabu (28/6). Pengeboran ini ditargetkan mencapai 9.297 kaki, sama seperti kedalaman yang pernah dicapai oil rig sebelumnya. Bila sumber luapan lumpur ditemukan, diupayakan segera ditutup sehingga penanganan dialihkan ke permukaan daerah yang terkena dampak.

Dikatakan, target pertama unit ini adalah membersihkan semen lapisan pertama di kedalaman 2.305 kaki dan lapisan berikutnya di kedalaman 2.590 kaki. Jika semua peralatan ini bisa bekerja dengan baik, diharapkan sumber luapan lumpur bisa segera diidentifikasi.

Langkah tersebut membutuhkan sekurang-kurangnya tiga minggu untuk operasional snubbing unit, sampai didapat data yang dibutuhkan. Bila snubbing unit gagal menghentikan sumber aliran lumpur, akan dilakukan metode relief well, menggali sumur baru dalam garis lurus antara sumur BJP-1 dengan rekahan sumber lumpur, katanya.

Pengeboran akan dibuat miring dari dua relief well untuk menutup sumber di bawah permukaan berdasar data yang dihasilkan snubbing unit sebelumnya.

Pemasangan snubbing unit sebagai alat deteksi lokasi arah semburan utama dan ketinggian temperatur yang sedang dilakukan tim ahli dari Australia, adalah murni upaya untuk mengatasi banjir lumpur panas.

Jika nantinya alat snubbing unit tersebut sudah berfungsi, maka segera disusul dengan pembentukanrelief well yang merupakan tahapan usaha menuju langkah penyumbatan.

Imam mengatakan, secara prinsip perusahaannya tetap pada komitmen untuk melakukan penanggulangan penghentian bencana semburan banjir lumpur panas sesuai prosedur yang benar. "Kalau ada rumor (miring) begitu, ya biarkan saja. Tidak ada masalah. Yang penting kita berusaha keras menanggulangi bencana ini," ujarnya.

Untuk menampung luberan banjir lumpur yang semakin mengganas (minggu pertama menyemburkan banjir lumpur sekitar 7.500 m3 per hari dan pekan terakhir menjadi 50.000 m3 per hari), pihaknya sudah menyiapkan lima kolam penampung. Tidak disebutkan, mana saja lokasi kolam penampungan yang dimaksud.

Disinggung tentang ditemukannya bukti (dari penyidik Polri) ada kebocoran pipa eksplorasi yang mengakibatkan banjir lumpur panas terjadi 29 Mei, di antaranya para pekerja dengan sengaja tidak memasang casing (selubung) dan terjadi kerusakan berantai pada pompa lumpur, mesin tenaga penggerak serta mesin pengangkat dan pemutar bor, Imam mengaku belum mengetahui pasti. "Soal proses hukum, kami serahkan sepenuhnya ke pihak yang berwajib," ujarnya.

Membantu

Secara terpisah Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto menyatakan, TNI siap mengerahkan potensi TNI untuk mengatasi banjir lumpur panas di Sidoarjo.

Jika pemerintah daerah memerlukan bantuan, tinggal lapor kepada Pangdam V/Brawijaya. "Jika terjadi peningkatan bahaya banjir lumpur, bantuan siap dikerahkan ke lapangan," katanya.

Saat ini telah dikerahkan 23 unit alat berat yang beroperasi di lokasi musibah banjir lumpur. Yon Zipur X Kostrad masih me- miliki alat berat yang siap dikerahkan.

"Kalau perlu tambah pasukan, kami juga siap menambah sesuai dengan permintaan dan perkembangan yang ada," katanya.

Panglima TNI membantah kesan bahwa pengerahan sekitar 500 anggota prajurit yang turun ke lokasi lebih mengutamakan kepentingan Lapindo Brantas dibandingkan kepentingan warga dan perusahaan yang mengalami dampak langsung akibat luapan lumpur.

Sementara itu, warga desa di Kedungbendo mulai memberi tanda dengan tongkat pada pusara di Tempat Pemakaman Umum (TPU) setempat, setelah luberan lumpur secara perlahan-lahan sudah mulai menggenangi TPU itu. Tongkat kayu ini cukup tinggi sekitar satu meter disertai dengan nama keluarga yang sudah meninggal. [080/070/029]


Last modified: 29/6/06