SUARA PEMBARUAN DAILY

Pengusaha Davao Akan Beli 6.000 Ton Jagung Asal Sulut

[DAVAO CITY] Pengusaha dari Davao City, Filipina Selatan menandatangani kerja sama dengan pengusaha dan Pemprov Sulawesi Utara (Sulut) untuk membeli jagung dari daerah itu sebanyak 6.000 ton tahun ini guna memenuhi kebutuhan pakan ternak mereka. Sementara, para peternak dari Davao akan menjual sebanyak 128 ton daging babi dan 152 ton daging ayam, serta 111 ton butir telur ke Sulut dan Kawasan Timur Indonesia.

Demikian, salah satu butir kerja sama yang telah ditandatangani pengusaha, dan Kamar Dagang dan Industri Davao serta Pemprov Sulut dan Sekretaris Brunnai Darusalam, Indonesia-Malaysia Philipina, East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) dalam acara Mindanao Business Council di Davao, Rabu (28/6).

Wartawan Pembaruan Fanny Waworundeng dari Davao City, Filipina Selatan, Kamis (29/6) pagi melaporkan, dalam pertemuan Selasa-Rabu (27- 28/6), para pengusaha Filipina juga berkeinginan membeli hasil pertanian lainnya seperti palawija dan tanaman perkebunan.

Menurut Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Davao City, Vincent Lao, penandatanganan kerja sama antara pengusaha dan Pemprov Sulut ini penting. Karena, mereka memang butuh hubungan dagang yang baik. "Kita butuh 6.000 ton jagung untuk peternak ayam dan babi. Kemudian hasil peternak, kita jual ke Sulut. Jadi kita saling menguntungkan," katanya. Sementara Sekretaris BIMP-EAGA Dr Jeffry Wurangian mengatakan, prinsipnya penandatanganan kerja sama itu karena kedua wilayah bertetangga ini ingin maju. "Ini langka yang baik, karena petani jagung akan di Sulut akan berkembang dan maju," katanya.

Hal senada juga diungkapkan staf ahli Pemrov Sulut Dr Arnold Laoh. Menurutnya, masalah aturan perdagangan dan peningkatan kualitas itu harus menjadi perhatian di masa mendatang.

Sementara itu, Gubernur Sulut Drs Sinyo Sarundajang mengatakan, keinginan pengusaha Davao membeli 6.000 ton jagung Sulut tersebut akan menguntungkan petani jagung setempat. Apalagi, daerah tersebut saat ini sedang mengembangkan tanaman jagung. Ia mengakui, permintaan jagung cukup tinggi. Karena itu, sudah saatnya produksi ditingkatkan.

Transportasi

Mengenai kerja sama ini, ia mengatakan, hal tersebut sangat penting dan perlu terud ditingkatkan karena Davao City dan Filipina Selatan secara luas sangat maju pesat saat ini. "Jadi, kita harus memanfaatkan peluang yang ada," katanya.

Untuk itu, tuturnya, masalah transportasi akan ditingkatkan, karena memang masih terbatas seperti pesawat terbang Manado-Davao. Sejalan dengan itu, pihaknya juga akan meningkatkan promosi.

Masalah transportasi udara ini sempat menjadi sorotan para pengusaha Davao karena mereka menilai transportasi udara yang ada saat ini tidak memadai, terutama jalur penerbangan Manado-Davao. Saat ini penerbangan Manado -Davao hanya seminggu sekali dan itu juga hanya pesawat carteran. Hal ini menyulitkan hubungan dagang kedua wilayah tersebut. Pesawat Merpati, hanya satu kali melayani jalur Manado-Davao.

"Kami minta perhatian, karena kalau sarananya tidak mencukupi, tidak ada wisatawan yang datang dan ini merugikan," kata Vincent Lao. Apalagi, tuturnya, jarak Manado-Davao hanya 50 menit perjalanan dengan pesawat.

Selain itu, untuk transportasi laut juga harus ditambah kapal dari Indonesia masuk ke Davao City. Ini untuk mengembangkan ekspor dan impor di masa mendatang.

Menurut Ketua Asosiasi Parawisata Davao Art Boceto, wisatawan yang datang ke Davao membutuhkan transportasi ke Manado. "Jadi kita harus membuka jalur penerbangan yang banyak," katanya. *


Last modified: 29/6/06