![Pasangan Agus Tjugianto dan Tina Mustikowaty [Pembaruan/Sotyati]](31agus1t.gif)
alam banyak kesempatan, ucapan itu memang meluncur dari mulutnya yang nyaris tertutup janggut putih lebat. L Agus Tjugianto (66) benar-benar merasa menjadi orang terkaya. Di Indonesia, bahkan mungkin di seluruh dunia.
Dengan suaranya yang lemah lembut, ia segera menambahkan kata-kata, untuk menepis segala macam syak wasangka. "Bagaimana saya tidak kaya? Lihat saja, di depan dan di belakang saya 'seolah' mempunyai dua gunung, Sindoro dan Sumbing," ujarnya, akhir pekan lalu.
Agus adalah pemilik Kledung Pass Hotel & Restaurant. Hotel itu memang terletak di Kledung, di tengah-tengah dua gunung itu, di pinggir Jalan Raya Wonosobo-Parakan, Jawa Tengah.
Deretan kamar hotel di sisi depan langsung menghadap Gunung Sindoro, deretan kamar belakang langsung menghadap Gunung Sumbing. Sejauh mata memandang, tampak hamparan sawah hijau. Daerah itu memang sangat dikenal sebagai penghasil tembakau, kol, kentang, dan sayuran lain.
Gunung Sindoro juga menjadi pemandangan utama restoran yang tak pernah sepi dari kunjungan tamu, terutama tamu yang mengadakan perjalanan antarkota di Jawa Tengah yang melintasi Kledung. Restoran "berdinding" kaca, memaparkan pemandangan alam yang indah, hijau, ke arah Gunung Sin- doro.
Dulunya di tempat itu hanya ada restoran, yang dikelola pemerintah daerah setempat. "Kebetulan kami sekeluarga sering makan di tempat ini, karena memang menyukai pemandangan alamnya yang indah," kata Agus.
Hampir rutin Agus membawa istrinya, Tina Mustikowaty, dan anak tunggalnya, Eunike Martanti (31), ke restoran itu, walaupun ia sendiri mengelola restoran di tengah Kota Wonosobo. Ketika pengelola lama tak mampu meneruskan usahanya, Agus mengambil-alih. Hingga kini, usahanya itu sudah berjalan 16 tahun, dan pada 1997 ia menambahkan bangunan hotel di belakang restoran.
"Saya hanya berusaha mengagungkan ciptaan Tuhan. Keagungan bisa dipelihara, dan jangan sekali-kali dirusak," katanya tentang "kekayaannya" itu.
Guru
Kini, bicara tentang kepariwisataan di Dieng dan sekitarnya, mau tak mau harus berbicara tentang sosok Agus. Ia sangat fasih berbicara tentang hal itu, bahkan sedang menyiapkan menerbitkan buku tentang kepariwisataan Dieng.
Awal keterlibatannya dalam dunia pariwisata berawal ketika menerima tongkat estafet untuk meneruskan usaha restoran orangtuanya di Wonosobo. Ia sendiri, sebagai lulusan sekolah tinggi olahraga, saat itu bekerja sebagai guru di sebuah sekolah swasta.
Tina, yang memang pintar memasak, yang lebih banyak mengoperasikan usaha restoran itu. "Ia sendiri sebetulnya sarjana hukum," kata Agus, yang dalam banyak percakapan menyebutkan peran penting istrinya dalam usaha itu.
Dari rumah makan itulah usaha pariwisatanya berkembang. Wonosobo adalah tempat transit sebelum tamu berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng yang terkenal hingga ke mancanegara. Di antaranya, tentu turis asing.
Keduanya menerapkan moto "kehangatan dan keramahan" dalam menjamu tamu yang makan ke restoran. Dan, yang lebih penting, mengutamakan cita rasa tinggi makanan yang disajikan. Sate tempe, sate jamur, dan tempe kemul buatan Tina sangat terkenal. "Perut bisa bicara," kata Tina, yang sesekali mendampingi suaminya dalam perbincangan. Maksudnya, makanan enak itu akan menjadi sarana promosi paling penting dalam menjalankan roda usahanya.
"Relasi sangat penting dalam usaha pariwisata," kata Agus, mengenai kiatnya yang lain. Ia menganggap penting mengelola hubungan dengan kliennya. Hubungan dengan turis mancanegara itu, lebih berwujud dalam bentuk kepedulian. "Sampai-sampai sering kali saya turun tangan membantu mereka mengurus keperluan pribadi," ia menambahkan.
Kegiatan itu akhirnya membelit Agus lebih dalam, hingga ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai guru. Ia terjun langsung memandu dan menambah ilmu dengan mengikuti seminar, terutama tentang Dieng.
Berserah
Tentu usahanya berkembang bukan karena sekadar dikelola dengan baik, namun juga ia jalankan dengan kesukacitaan. Ia menganggap penting pula mengkompensasi usahanya dengan pusat informasi dan tempat pertukaran uang.
Karena mencurahkan perhatian kepada Dataran Tinggi Dieng, mau tak mau Agus selalu tergoda memikirkan pengembangannya. Salah satu hal yang dianggapnya penting adalah penyertaan peran masyarakat setempat dalam usaha itu.
Namanya bertambah dikenal ketika ia rajin menyambangi desa-desa di sekitar Wonosobo-Parakan. Ia mendatangi pusat-pusat kesenian tradisional, di antaranya Lengger Wonosobo, keunikan-keunikan tradisi Dataran Tinggi Dieng, murid-murid sekolah, dan melibatkan mereka dalam usahanya.
Ia menyosialisasikan dan memotivasi warga setempat tentang pola pariwisata. "Dengan demikian wawasan warga berkembang, tidak hanya menggantungkan kehidupan dari bertani," ujarnya Agus. Tak mengherankan sebagian besar karyawan hotel dan rumah makannya juga warga setempat.
Agus berpendapat, alam pertanian itu bisa "dijual". Yang penting, menjaga kelestariannya, tidak merusaknya. "Lihat saja di Australia, kebun pisang saja dipromosikan. Nah, saya lihat sebetulnya kita sangat potensial, tapi belum punya kemampuan mengelolanya," ujar Agus yang belum lama terlibat dalam kegiatan pelatihan homestay di kawasan Tambi.
Ia memang bercita-cita nantinya warga setempat, yang sebagian petani tembakau, punya kesadaran tentang pariwisata. Untuk mewujudkan impian itu, ia tak pernah segan terjun sendiri, berbagi pengalaman, menanamkan motivasi kepada warga. "Itu juga untuk keseimbangan bagi saya," tuturnya.
Ia bersyukur hingga kini tidak tergoda untuk menerapkan usahanya dengan hukum-hukum ekonomi. "Itu berbahaya bagi saya," ia menegaskan.
Agus lebih berprinsip "tuno sithik dadi sanak", tak masalah sedikit merugi namun abadi dalam persaudaraan. Dalam penjabaran lebih luas, hal itu juga mengarah ke pelestarian lingkungan tempat tinggal mereka. Maklum, lokasi tempat ia mendirikan hotel dan restoran di Kledung Pass itu sudah dilirik jaringan bisnis hotel raksasa.
Agus masih menyimpan banyak obsesi. Ia ingin membangun semacam sebuah taman untuk kegiatan lintas agama. Ia ingin lebih luas memasyarakatkan pariwisata di sekolah-sekolah, melalui muatan lokal mengenai masalah lingkungan dan pariwisata. Ia juga ingin memberi tempat bagi kalangan lansia, semacam wadah bagi mereka untuk bisa berkumpul, bernostalgia, dan bermain mainan-mainan mereka semasa kecil.
Hingga usianya kini, Agus tak hendak berpangku tangan. Masih banyak hal yang ingin ia lakukan. "Yang bisa saya lakukan, saya selesaikan. Selebihnya, berserah," ujarnya. [Pembaruan/Sotyati]